
Hanum saat ini menuju rumah Lisa, sejak menerima direct message. Membuat Rico tak bisa menemani, karena ia dan Erwin sedang menjalani sidang di luar kota sudah beberapa hari yang lalu, dan dalam perjalanan pulang.
"Mah, semoga kak Lisa ga mudah percaya sama gosip ya."
"Benar, tapi mama mau temui Lisa. Supaya kasih nasihat, tiap rumah tangga harus nyelesaiin dengan kepala dingin. Kamu tau kan sifat Lisa itu kaya gimana. Mudah terpancing dan emosi."
"Iy mah, Hanum yakin kalau Fawaz ga mungkin selingkuh. Apalagi Hanum kenal, anak dari ratu inggris itu emang profesional aja kok, jika Fawaz benar melakukan itu. Hanum juga ga terima, dan semoga kebenaran terungkap ya mah."
"Mama penat Han, masalah Rico udah selesai. Sekarang Lisa, apa ini ujian orang bekecukupan dan banyak harta. Setelah ini kalian masing masing ingat ingat, apa ada nazar yang kalian lewati. Mama penat, masalah ga ada habisnya. Satu selesai muncul lagi, manusia mana yang ga kepingin damai tenang sih."
"Iy mah, ujian manusia. Mama jangan mikir aneh lagi dong, kali aja ini cara Tuhan menyayangi kita."
Hanum mencoba menenangkan sang mama, terlebih tak lupa membawa obat asma sang mama jika kambuh. Hingga benar saja saat mereka sampai, turun dari mobil melihat pemandangan yang tak di inginkan, terlihat Lisa dan Fawaz sedang bersiteru di sana.
"Mah, duduk sebentar disini ya!" titah Hanum, yang sedikit merasakan pergerakan bayi di dalam perutnya.
Hanum juga mengabari Rico, jika ia sudah sampai di kediaman Lisa. Tak lupa Rico membalas untuk tetap tenang, dan Rico akan menyusul sebentar lagi.
"Mas, Rico bentar lagi menuju kesini mah. Gimana kita tunggu, tenangin diri mama di kedai itu!"
"Ga usah Han, mama ingin lihat versi Lisa dan yang Fawaz ucap semalam, apa sama dengan sekarang."
PERDEBATAN LISA.
"Aku akan lakukan apapun kita akan cari jalan keluarnya, tapi jangan minta aku meninggalkan kamu sayang, aku tidak sanggup."
"Yank, apa kamu pikir aku sanggup terlebih aku sedang ha..." Lisa terdiam tak melanjutkan.
"Kamu sedang apa sayang?"
"Aku sedang amat kecewa, maaf kan aku. Cobalah mengerti, semoga kamu memahamiku."
Lisa pun meninggalkan kamar dan berusaha melihat dekor dirumah yang megah luas, ia beranjak ke kolam renang halaman kebun belakang untuk menenangkan diri. Sementara Fawaz membiarkan istrinya tenang, lalu menoleh ke arah ibu mertuanya dan Hanum yang datang.
"Mama, udah lama disini sama Hanum?" tanya Fawaz.
"Enggak, mama baru aja kok."
"Mama dan Hanum masuk dulu aja, soal Lisa sedang.."
"Iy, mama paham Fawaz."
Mama Rita dari kejauhan menatap menantu kesayangannya diam menangis, ia tak sengaja mendengar pembicaraan anak dan menantunya itu. Ia pun mencoba menemui Fawaz dan mengajaknya bicara agar menemukan solusi.
"Jadi aku harus apa ma?"
"Fawaz kamu harus mencari bukti cctv di ruang vvip itu dan Saksi, setelah itu cari Sena temui bicaralah, setelah itu mama akan membantu."
Meski Fawaz tidak begitu yakin, baiklah maafkan Fawaz mengecewakan, belum bisa jadi menantu terbaik.
Fawaz sayang, yang lebih tersakiti adalah istrimu, hanya waktu yang membuat Lisa kembali seperti awal meski sulit untukmu.
Mama Rita sudah duduk di sebelah Hanum. Hanum pun mengusap mata dan tersenyum, meminta Fawaz untuk mengambilkan air hangat.
"Mama ke kamar Lisa dulu ya. Han, kamu tunggu disini aja!"
"Iy mah, Hanum juga nunggu mas Rico. Hanum, mau ada yang di obrolin juga sama Fawaz."
Sehingga Fawaz mengalah dan tak sabar rasanya satu malam tak disisi Lisa bagai kehilangan sesuatu berharga. Mirip anak kecil kehilangan mainan kesayangan.
Tak lama, Rico datang. Acara syukuran kali ini di kediaman Fawaz yakni acara empat bulanan Lisa. Akan ada beberapa kerabat berdatangan dan teman baik.
"Sayang, mas minta maaf terlambat."
"Ga apa mas, oh iya mas gimana soal sidang?" tanya Rico.
"Lancar, pusat Marco udah resmi dipatenkan. Kita semua udah aman, lancar baik baik aja kedepannya. Syukur sangat sayang, berkat doa kamu dan kita semua." jelas Rico.
Hanum menarik mas Rico duduk, ia menceritakan apa yang ia dengar saat itu, soal Lisa dan Fawaz. Pengakuan Lisa adalah, Fawaz selingkuh dengan Sena wanita inggris hingga ke jenjang lebih. Meski Rico tak percaya, tapi ia meminta istrinya untuk membuat Lisa tenang.
***
Esok Pagi.
Pagi ini Lisa sudah dipoles dengan gaun indah dan mata sembab nya ia poles dengan lipbalm dan cream wajah nya sehingga tak terlihat ia sedang bersedih rapuh.
Empat jam acara ramai berdatangan, kerabat, sahabat, keluarga, dan seluruh investor rumah sakit, kantor cabang semua diundang berdatangan.
Tapi Rico, Hanum memandang Lisa yang tersenyum dan anggun seperti wajah tak biasa.
"Kak, berbahagialah lupakan yang mengganjal dihatimu!" ucap Hanum memeluk erat.
"Han, jangan bahas dan rahasiakanlah aku tak ingin siapapun tau, bahkan mama mertuaku tidak tau soal skandal Fawaz."
"Kak, tapi itu belum tentu benar."
Lisa pun menggerakan seperti sedang memplester gaya dengan dua jarinya, pada wajah Hanum.
Sehingga Hanum mendekat ke arah suaminya mas Rico, yang sedang bicara serius pada Fawaz.
"Mas, sibuk ga?"
"Hai, gimana sayang. Kamu mau pulang sekarang?"
"Mama sepertinya mau nginap, Fawaz kamu sabar ya hadepin Lisa yang sedang dingin. Nanti kak Lisa pasti bakal adem lagi, mending kamu cari bukti itu. Agar Lisa bisa tenang, maaf kalau aku terlalu ikut campur."
"Ga apa, Han. Dan Rico ajak Hanum pulang, kasian udah bulannya kan. Hanum udah masuk fase delapan, mau ke sembilan kan."
"Iy, perkiraan dua minggu lagi hpl." ujar Hanum, mengelus perutnya.
"Thanks, sabar ya!" Rico mencoba menepuk bahu Fawaz.
Rico memapah Hanum, saat ini istrinya sudah agak sulit untuk berjalan. Namun saat menuju pintu keluar setelah pamit pada Lisa dan mama. Seorang wanita pirang membuat tatapan Hanum membulat menatap Rico.
"Mas, siapa dia?" tanya Hanum.
Tbc.
Sambil tunggu Hanum, yuks mampir lagi nih. Ke novel temen litersi Author.