BAD WIFE

BAD WIFE
ASISTEN JATUH CINTA



KE ESOKAN HARINYA.


Hanum yang menerima pesan dari Nazim. Ia hanya bisa menitip salam dan akan mengunjungi bayinya dan mama Rita bersama putrinya, karena terdengar santer mama Rita akan mengadakan syukuran usia ke 68 tahun.


Namun kini, Nazim harus mengantar ke rumah tetangga, yang telah memesan banyak busana indah kantoran yang ia rintis bersama sang bibi.


Tante Meiy, ia cukup risih, selalu meminta dirinya yang datang untuk memastikan keadaan busana itu baik. Meski tantenya itu melarangnya untuk berbisnis, tapi benar saja ia menginjinkan karena Nazim ingin sekali mempunyai kesibukan meski kecil kecilan selain bisnis loundrynya.


"Sayang, kamu jadi bertemu Nazim hari ini?" tanya Rico lembut.


"Mas, belum tahu. Nazim katanya mau ada ketemuan sama tante Meiy! mas ingetkan, bisnis busana jas pria. Beberapa pekan lalu, sempat bertemu dia mau jual ke Hanum, tapi Hanum ga ada basic mas dan takut gagal menghabiskan uang mas Rico."


"Oh ya! mas ingat, tapi kalau kamu mau ambil dan menguntungkan. Kenapa enggak, cukup ownernya kamu. Dan yang menjalankan tetap tante Meiy, dia tante Nazim kan?"


"Iy sih mas, tapi nanti Hanum pikirin lagi deh. Mas, sarapan dulu ya! dasinya udah rapih Hanum ikat." senyum Hanum.


"Tentu sayang." kecup Rico, pada kening Hanum.


Setelah menjelang mas Rico berangkat bekerja, Hanum berusaha jalan jalan ke taman dengan satu pengasuh, Hanum mendorong stroller dan ia melihat satu pemandangan aneh.


Hanum mendekati rumah yang membuatnya penasaran.


"Bu, mau kemana?"


"Sus, jaga sebentar baby Ghani ya!" pinta Hanum.


Namun Hanum melihat pemandangan aneh, membuat dirinya terkejut bukan main. Karena dirinya mempunyai seorang anak laki laki meski masih bayi, tapi tak seharusnya tetangganya itu melakukan kekerasan.


Hanum melihat seorang wanita paruh baya, terlihat kasar pada balita berusia sekitar dua tahun.


"Permisi mbak, maaf! Ada apa memarahi anak ya, bukankah masih terlihat kecil dan anak seusia ini jika melakukan kesalahan akan selalu diulang jadi tidak bisa keras.., " bibir Hanum tiba saja ditutup, anak laki laki yang berjinjit agar tak membocorkannya. Masih mode menahan menangis.


Karena itu Hanum sempat tahu, kala dirinya pernah duduk di taman mengatakan sedang sakit kaki dan terlihat memar biru lebam di siku tangan anak kecil itu kala berlarian di depannya.


"Kamu siapa, istri Pak Rico ya? Ga usah ikut campur, kamu tau. Anak ini sangat bandel, karena dia ini terlalu bandel, sehingga harus dapat pukulan. Lagian dia anak saya sendiri, bukan anakmu kan?" cetus wanita itu.


"Tapi maaf bu, bagaimanapun masih anak anak. Di pukul dengan rotan kemoceng itu sakit. Saya juga kebetulan lewat, hanya ga etis aja memberi hukuman pada anak kecil, terlebih ini umum. Apa ibu ga takut, viral dan yang pastinya trauma buat anak seusia lucu seperti Eka."


"Haaah, dasar tukang ikut campur. Kau bereskan kerusakan ruangan taman daun, yang telah dia ciptakan. Semua orang menyebalkan! sebal sekali rasanya bertetangga dengan penghuni baru. Ayo Eka! kita pulang!" ucap ibu paruh baya, meninggalkan Hanum, sementara Hanum kasihan melihat anak itu menangis, menatap Hanum seolah meminta bantuan.


"Bu, saya sempat video in kok. Jadi kalau tetangga itu mau salahin bu Hanum. Ibu jangan panik!"


"Makasih sus, kita pulang sekarang! kasian Ghani, udah panasnya beda pagi ini." ramah Hanum.


Hanum masih mode memikirkan anak kecil tadi, dan masih memahami lingkungan perumahannya saat itu.


***


BUSANA KEMBANGAN


Saat ini Erwin kembali ke lokasi bisnis, hal yang ia lakukan adalah saat ini ia kembali mampir sebelum bertemu klien. Sibuknya Erwin, karena Rico memintanya datang untuk mewakili. Tapi setelah selesai, ia mampir melihat butik jas, dan menatap Nazim diam diam.


Nazim yang terkejut kala mengantar pesanan jas, ia terkejut kala itu adalah pesanan Erwin.


"Jadi kau yang antar pesan ini?" tanya Nazim.


"Ini pesanannya! setelah itu cepatlah pergi!"


"Yakin, tidak ingin ikut dengan saya saat ini. Nazim, apakah aku harus memohon terus padamu?"


“Pergi aja sendiri! Saya gak mau pergi sama, Bapak! bukankah sekertaris muda cantik selalu mengintil."


“Saya gak bisa pergi, kunci mobil saya gak ada,” sahut Erwin yang akhirnya berhenti melangkah mendekati Nazim, karena wanita itu terus melangkah mundur.


"Ini tempat usaha saya! jangan buat problem disini. Pergilah Erwin! sebelum saya teriak."


"Tapi saya rasa, kunci mobil saya ada pada wanita di depan saya ini. Maka dari itu saya memintamu ikut saat ini!" senyum Erwin menggoda.


Mendengar penuturan Erwin itu, seketika membuat Nazim membuka tasnya, ia mendesis pelan saat menyadari kunci mobil pria itu masih ada padanya.


“Nih,” ujar Nazim kebingungan, karena kunci mobil Erwin kenapa bisa di tasnya. Yang tanpa diduga langsung melempar kunci mobil Erwin dan membuat Erwin yang tak siap gagal menerima kunci mobilnya.


Huuup!! terlempar kebawah.


Nazim dan Erwin lalu sama-sama menatap kunci mobil yang berakhir di lantai basement itu.


Erwin bukannya dengan cepat mengambil kuncinya, ia justru mengangkat kepalanya dan menatap Nazim sengit.


“Kamu kok gak sopan banget sih sama saya? Saya ini raja, pembeli kamu loh, Nazim!” ujar Nazim dengan nada yang agak meninggi dan membuat Nazim menatapnya, dengan tatapan sengit juga.


“Denger ya, pak Erwin! Ini belum jam kantor dan kita belum ada di lingkungan kantor, yang artinya … Bapak cuma tetangga saya, bukan pembeli vvip saya atau langganan pembeli jas saya! baru kan bapak beli di toko saya?" sahut Nazim dengan nada yang tak kalah kesalnya dengan nada bicara Erwin barusan.


Bibir Erwin agak terbuka, tak percaya dengan apa yang baru saja Nazim katakan itu, ia baru saja akan kembali mendebat. Namun wanita itu langsung berbalik dan berjalan menuju tempat lain, sehingga Erwin mengatakan sesuatu yang membuat Nazim menghentikan langkah kakinya.


“Kamu mau show off ya? Mobil kamu yang CHR kan masih di kantor, terus sekarang mau ke kantor pakai Lambo? Biar apa? Biar orang pada kagum sama kamu karena punya banyak mobil?” ujar Erwin yang kemudian tersenyum licik saat melihat langkah kaki Nazim terhenti.


"Bukan urusan kamu Erwin. Minggir!"


“Orang mungkin bakal kagum sama kamu, tapi saya justru makin curiga kalau kamu dapetin itu semua, hasil dari puasin pria tua. Berapa sih tarif kamu semalam kalau lagi puasin pria tua? setidaknya kamu bisa ikut denganku hari ini."


Nazim menarik napas dalam dalam, kemarahannya kini benar benar sudah ada di ujung dan ia tidak bisa lagi memberi toleransi untuk Erwin yang terus saja mengganggunya.


Nazim lalu berbalik, ia melihat Erwin yang tengah mengambil kunci mobilnya yang berada di lantai, dan dengan langkah lebar kembali mendekati Erwin, kaki Nazim menendang kunci mobil Erwin.


Praaang!! terlempar jauh kunci mobil itu, hingga masuk menuju lobang selokan.


"Kau.." kesal Erwin.


"Kenapa? itu hukuman pria selemes sepertimu, aku makin benci dengan sikapmu Erwin." cetus Nazim, lalu pergi.


Sementara Erwin memegang bibirnya, ia semakin kagum akan cintamya pada Nazim, meski dengan kejahilannya yang terlihat menyebalkan. Erwin tetap akan terus mengejar Nazim dan membuatnya luluh.


"Benci, kita lihat saja. Apakah bencimu padaku akan berubah jadi cinta. Nazim?" lirih Erwin dan mengeluarkan kunci cadangan.


**Terlihat ponselnya berdering, dan itu dari Rico.


Tbc**.