
"Darling! aku ga suka kamu diem aja. Kamu belain si gendut kan?" rengek Irene.
"Sayang! jangan gini dong. Mungkin tadi kita di depan rumah benar, ga bagus di lihat tetangga. Hanum ada benarnya juga tadi. Ga ada salahnya kita ikutin kemauan Hanum, sampai papaku merestui dan aku segera cerai dari Hanum tanpa menunda, lalu nikahin kamu!"
"Serius! kamu ga bohongkan. Darling aku mencintaimu, aku takut semakin lama kamu mempertahankan pernikahan. Kamu jatuh cinta dan tak sudi melepasnya." peluk Irene pada lingkar pinggang Alfa yang berdiri, sementara Irene duduk di sofa bed.
"No! itu tidak akan terjadi, aku hanya mencintaimu seorang Irene." kecup Alfa pada kening Irene. Sementara Irene senyum puas di balik punggung, terlihat di cermin tertawa puas.
'Aku lebih cantik, lebih body goals. Jadi mana mungkin si gendut itu akan merebut hati kekasihku. Aku akan balas kamu gendut, setelah dapat restu dan menjadi nyonya Alfa.'
Sementara Hanum yang berada di gerbang. Ia segera melambai tangan. Lalu meminta karyawan Fawaz untuk cepat pergi. Bisa bisanya si Mawar tau kediaman aku dan Alfa. Hanum juga melupakan panggilan Fawaz semalam, untuk memotret satu berkas.
Hanum segera masuk, masih tampak sepi. Ia segera mencolek belimbing dan mangga dengan sambal yang ia buat. Satu kali suap, nambah lagi! dua kali suap nambah lagi! Hingga beberapa saat ia segera membawanya kedalam tupperware. Dengan sambal ulek blender lalu ia kocek kocek agar bumbu dan buah tercampur. Lalu di masukan kedalam tas rotan kecil, ia segera menaruhnya di sofa ruang tv.
"Beres! huuft. Rasa rujak buah mengkel emang menggiurkan. Lebih sedap dibanding harus mengomel pasangan tengik yang belum sah bergelendotan." lirih Hanum segera bersiap ganti pakaian.
"Darling! pokoknya kamu harus kasih Hanum peringatan. Kartu black ini juga tetap milikku kan?"
"Heuuumph!" Alfa masih memutar mata melihat keberadaan Hanum. Entah mengapa setelah di dalam kamar, hatinya berontak untuk memberi pelajaran pada Hanum demi cintanya pada Irene.
Irene mencium bau sambal, ia menggeser laci dan terlihat bekas sambal rujak. Ueeeek! Irene segera mual dan muntah. Melainkan ia phobia akan sambal rujak yang tak pernah ia suka.
"Kenapa sayang?" tanya Alfa.
"Aku ga suka baunya."
Irene segera pindah, lalu melihat tas rotan Hanum. Sehingga ia mengambilnya dan membuka resleting. Kembali mual, kala dirinya hampir membuka rujak dalam tupperware bening. "Uuuuh! uuuuuek, uhuuuhuuk. Uhuuuuk." Irene memukul dadanya dan menutup hidung.
"Siniin! lancang banget buka tas orang?!"
"Hanum, jangan kasar ya! Irene cuma buka sedikit aja." ketus Alfa mendorong tubuh Hanum agar menjauh dari Irene yang masih terbatuk batuk.
Hanum menyempitkan matanya sedikit, ga jauh memang pria model Alfa adalah pasangan sejoli yang selalu menyalahkan orang lain. Hanum segera meraih tasnya. Menutup resleting dan kembali mengambil gelas dan menuangkan segelas air untuknya dimasukan .. !
"Kamu ambil lagi air minumnya! aku butuh buat Irene." rebut Alfa dari tangan Hanum.
"Tu! tunggu Alfa..." sontag Hanum menutup mata dan mengigit bibirnya.
"Han, kamu kasih aku air apa itu?"
"Kamu yang duluan rebut, itu air rebusan cabe dan pare. Buat balurin lemak di tubuh. Main rebut aja, siapa yang salah. Udah lah aku mau pergi, jaga itu my darling ... my .. sweety.. my sayaang preet!" kesal Hanum melambai tangan, ia protes dengan bergema.
"Hanum, kamu ga boleh pergi. Kamu ga boleh pergi belum masak kan?"
Ceglek!
Kembali membuka pintu, "Hey! pesan online. Katanya ceo dari group Jhonson. Masa pesen aja ga bisa, inget perjanjian kita. Ga perlu urusin privasi masing masing. Dan jaga privasi kelakuan kamu dan Irene di rumah jika ada aku!" ancam Hanum.
"Kau .." sebal Irene menahan emosi. Ia juga kesal kala Alfa hanya diam saja tak membelanya.
"Sayang! maafkan aku, ini salah aku. Minum lagi air putihnya ya!"
"Darling! kamu ga tepatin janji, katanya kamu mau buat si gendut itu jadi babu kita selama disini? dan aku bisa seenaknya mempermainkan dia saat kita bersama di rumah ini. Why.. kenapa kamu ga bisa lakuin itu?"
"Sayang! bukan maksudku. Please jangan marah lagi dong!"
"Si gendut bilang kamu juga players. Apa benar kamu bermain sesuatu dibelakangku. Di pesawat dan.. "
"Dia berbohong. Ayo kita bersiap, makan steamboat ketempat kesukaanmu ya!" ajak Alfa agar Irene tak marah lagi.
APARTEMEN.
"Mawar, aku minta kunci Fawaz ya!"
"Siap mbak Ey. Nih mawar juga mau minta maaf, soalnya kerumah mbak Hanum. Kata mbak Lisa ga ada, terus di kasih alamat mbak yang baru deh." senyum Mawar pria bergaya kemayu itu, melenggok mengambil kunci.
"Oh! ka Lisa. Pantas aja."
Hanum pamit, setelah membuka kunci card pintu dengan sidik jari. Hanum sangat tak percaya. Fawaz memberikan sebuah kunci sidik jarinya juga. Hingga dimana ia langsung ke sebuah kolong meja, laci kedua ruangan kerja Fawaz.
Namun Hanum terkejut ketika yang ia dapat adalah sesuatu yang membuat hatinya merasakan terluka.
To Be Continue!!