
"Hahaha. Udah cukup ka Lisa ketawain aku. Ga lucu tau!" ucap Hanum.
"Haha, kakak cuma ngakak dek. Kalau kamu ga mau, sini buat kakak aja! Itung itung berguru sama buku, suami kakak itu kaya es batu. Harus kakak duluan coba yang mancing."
"Apaan sih, Hanum ga mau denger. Kakak jangan bicara lagi!" cetus Hanum, menutup kuping.
Lisa yang meminjam buku Hanum, ia segera pergi ke kamarnya sambil meledek. "Jangan bilang ga mau, kalau kakak bawa ke luar kota. Awas ya, jangan message minta balikin lagi ini buku." godanya, sambil menunjukan buku panduan hadiah dari Rico.
"Ga, udah! kakak pergi aja. Hanum ngantuk mau tidur!" gerutu Hanum, ia menarik selimut.
Hanum tidak percaya, buku itu begitu menjijikan dan terlihat toples, segala gaya dengan jeli tanpa busana membuat Hanum sakit melihatnya.
"Dasar Rico, buat aku malu saja. Tapi apa setiap pria sangat tidak bisa menahan ya? bagaimana besok saat bertemu di hotel. Jangan bilang Rico mengacak riasan dan baju pengantin saat aku di make up." racau Hanum memikirkan hal buruk tentang Rico.
ESOK HARI
Berbeda hal dengan Rico di kediamannya. Ketika telah pagi. Rico kembali menemui seseorang pagi ini, padahal sore ini ia akan ke hotel dan menikah di gedung private, esok paginya. Mungkin akan sebentar bisa menemui Hanum, sebelum statusnya berubah.
Pria muda cerdas dengan postur tubuh yang tegap, atletis, tampan, rambut yang disisir rapi ke atas memperlihatkan dahi dengan bentuk yang sempurna, alis tebal, hidung mancung, garis rahang yang tegas, kulit putih dengan kharisma yang benar benar menawan. Rico Abraham, meraih puncak kesuksesannya di umur yang ketiga tiga tahun.
Kesuksesannya tak bisa dipungkiri lagi, selama beberapa tahun terakhir ini, Rico telah membawa perusahaan Market Marco duduk di peringkat satu, sebagai perusahaan dengan perkembangan omset tertinggi versi swalayan internasional. Merintis dari temurun sang papa, kali ini ketika di warisi, market Marco semakin berkembang ke banyak negara.
Pundi pundi Rico sudah tak bisa di pungkiri, kali ini ia berusaha ke rumah sakit. Guna melihat pria yang telah membuat hidup wanitanya susah. Sekaligus untuk memastikan, dia tidak hadir di pernikahan dengan mengacau.
"Sudah yakin, dia benar benar di rawat disana?" tanya Rico.
"Benar! depresi Alfa berangsur membaik. Alfa juga pernah bicara pada dokter, jika ia ingin bertemu Hanum. Dan terus meminta jangan membongkar rahasianya."
"Aah! rasanya mustahil, aku memilih Hanum. Tapi dia masih saja tertutup. Bukankah pasangan itu harus saling terbuka ketika di uji. Tapi jika aku saja, itu namanya uji nyali. Nyali ku berputar untuk memahami Hanum." lirih Rico.
"Mungkin ia bukan tertutup, tapi lebih tepatnya pandai menyimpan rahasia." cetus Erwin, membuat alis Rico mengerut.
"Sulit di tebak, ia terlalu mandiri dan ceroboh. Mengira melakukan tanpa siapapun, itu hal biasa baginya untuk merepotkan."
"Kalau begitu, anda harus ekstra peka. Biasa wanita bicara tidak, kebalikannya itu adalah jawaban sesungguhnya." cetus Erwin.
Erwin memang asisten sang papa, tapi ia juga akrab dengan Rico sejak lama. Sehingga kala berdua tak di kantor, mereka terlihat solid seperti teman, dan partner bisnis.
"Pak Rico, ruangan vvip no 17, di sebelah sini. Pasien sudah pindah ke ruang melati." ucap suster.
"Baiklah! Erwin, kau berjaga. Jangan sampai siapa pun tau, aku datang!"
Alfa menoleh melihat Rico, cukup senyum dan tidak terlihat seperti orang gila. Alfa juga duduk sejajar menatap Rico yang duduk menatapnya. Pembicaraan dua pria sangat lama, membuat Erwin lama menunggu di luar, di temani nyamuk.
"Kenapa tidak ke luar dari rumah sakit ini?"
"Bukan urusanmu Rico, jika aku ke luar dari rumah sakit ini. Bukankah aku akan terang terangan meminta Hanum kembali padaku?" cetus Alfa.
"Heeumh! aku pastikan akan datang Rico."
"Jika tidak membuat kekacauan, maka aku pastikan dirimu kembali dengan nama!" senyum Rico. Ia berdiri dan kembali pergi, sementara Alfa masih kebingungan.
'Han, apa sulit bagimu untuk menerimaku lagi. Aku memang tidak bisa mengendalikan emosi. Hanya Rico yang bisa melindungimu Hanum. Semoga kamu bahagia!'
Surat yang Alfa buat, ia titipkan pada Rico. Alfa yang menunduk menatap jeruji jendela rumah sakit. Semoga saja surat kecil dari hatinya, Rico sampaikan selain permohonan maaf.
Dan setelah Rico benar benar pergi, Alfa mengambil jas tersembunyi dan ikut pergi. Suster di luar berjaga, membawakan kunci mobil dengan hormat.
BEBERAPA JAM KEMUDIAN.
Lisa terlihat sibuk, kala semua persiapan di gedung akad dan resepsi yang menyatu telah di dekor dengan rapih. Rico dan keluarga sudah berada di kamar hotel masing masing.
Rico sedikit menghampiri Fawaz yang menemani Lisa yang sedang sibuk, melihat kekurangan acara. Sehingga kala itu Rico menyapa.
"Hey bro! duh pengantin pria kok berkeliaran aja sih?" sindir Fawaz.
"Ahaaha! baru niat mau ngagetin, malah dikagetin duluan. Begini semua udah perfect, kenapa tidak istirahat saja. Sudah ada Wo, yang tangani bukan?" tanya Rico.
"Betul sih kak, tapi lebih baik aku turun tangan. Bagaimanapun, waktu aku dan Fawaz nikah. Hanum direpotin, jadi gantian. Sekalian mau nunggu engagement kebaya senada, tapi semua harus benar benar sesuai ukuran."
"Perfect, wanita selalu ingin seperti itu bukan? hahaha. Baiklah! terimakasih atas kerepotannya. Saya ke atas dulu, tapi Lisa. Boleh saya ketemu Hanum?" tanya Rico.
"What? Eheeum! ga boleh, tapi kamar kalian itu ada dinding pembatas pintu. Kenapa ga komunikasi dibalik pintu aja?" goda Lisa, lalu menatap Fawaz.
"Caranya..?" bingung Rico.
"Chat lah Bro! suruh Hanum tunggu di pertengahan pintu terkunci." ketus Fawaz, yang merangkul Lisa dan tersenyum menertawakan karena lucu.
Lisa dan Fawaz meninggalkan Rico, ketika Mua datang, Lisa sengaja memakai partnernya, saat di dunia selebgram ternama. Sementara Rico sudah masuk ke dalam lift menuju lantai dua belas, nomor 3451. Rico mengintip sebelah kamar vvip dan mengetuknya.
Took! Took!
Hanum yang sedang memakai piyama handuk, ia baru saja masker seluruh body. Namun saat ia melihat di celah bulatan pintu. Hanum mengintip dan tak membuka pintunya.
"Rico, apa yang kamu lakukan? istirahatlah! kita tidak boleh bertemu."
"Benarkah? sekedar rindu tidak boleh. Han, aku selipkan surat dari seseorang. Dibawah pintu, lihatlah kebawah!" bisik Rico di balik pintu kamar Hanum.
Hanum mengambilnya, lalu dengan terkejut namanya. "Kamu habis bertemu dengannya Rico, kenapa?" lirihnya.
Tapi sesaat melihat celah bulatan lubang pintu, sudah tidak ada Rico di depan pintu.
Tbc.