
"Kamu kenapa sih, dari tadi murung aja. Inget loh, sama suami ga boleh kaya gitu."
"Mas, maaf. Bukan sebel sama mas Rico, tapi saat tadi. Mas lihat kan, gimana reaksi mama sama om Sony?"
"Sony. Sony, S - O - N - Y. "
"Mas, Akh, pake segala di eja. Makin ga mood deh Hanum."
"Istri mas kenapa jadi mood an sih, emang kenapa sih. Perasaan mas baik baik aja deh. Ga ada yang salah, ada apa sih emangnya?"
Rico mengambil sepiring buah naga, dengan irisan apel dan kiwi. Ia letakkan di depan Hanum, lalu Rico tak lupa mengambil garpu.
"Mas suapin ya? Ayo, Aaak. Jangan marah marah ga mood an, kasian bayi mas nanti lahir wajahnya asem."
"Mas, mas tuh ga ngerti jadi Hanum. Mas tau kan, gimana excited nya mama ketemu om Sony tadi?"
Rico sepanjang waktu mendengarkan istrinya berbicara. Pantas saat itu Hanum dan Lisa terlihat tidak suka.
Beberapa jam sebelum Hanum kembali ke apartemen. Seseorang datang dengan mobil mewah buatan eropa di kediaman Vila Feli. Sehingga terlihatlah jika ia seseorang itu adalah tamu dari mama mertuanya yang mengikuti mobil Hanum pulang dari pemakaman.
Tante Felicia yang bingung, ternyata ia adalah keponakan jauh semasa dulu ia tinggal, dulu kedua orangtua mereka bersahabat dan menjadi teman tetanggaan Felicia dan Sony hanya sekilas.
Hanum masih jelas ketika, sang mama dan tante Felicia mengobrol panjang. Lisa juga terlihat tidak suka kala ikut menemani Fawaz yang ikut mengobrol bareng di ruang tamu. Hanum yang merasa lelah, ia lebih dulu pamit untuk pulang. Sehingga percakapan sang mama dengan om Sony tak begitu jelas.
"Sayang, kamu ga suka sama om Sony. Atau kamu takut mama jatuh cinta lagi?" melirik.
"Mas, kamu bisa bisanya bilang mama jatuh cinta lagi. Ga boleh lah, dan ga akan boleh. Ga ada yang bisa gantiin papa, kalau mama bisa sampai begitu dekat dan si om Sony benar benar sering ketemu mama. Liat aja, Hanum bakal jadi satpam."
"Eh, bukan cuma Hanum sih mas, tapi Lisa juga ga suka. Apalagi pas pertama kita mau ke makam. Aku dah bilang jelasin kan sama mas Rico tadi." sebal Hanum, yang kembali menaruh piring ke dalam wastafel.
Saat Hanum mencuci piring, Rico yang tau Hanum sedang emosi. Ia melingkarkan kedua tangan dan memeluk Hanum dari belakang, lalu mendaratkan wajahnya turun empat puluh derajat ke bahu sang istri.
"Sayang, konon kita tidak tau masa lalu kedua orangtua kita. Ada juga jalan tuhan adalah mempertemukan masa lalu yang belum kelar, atau tertanam dalam diri hanya akan menikah satu kali seumur hidup saja." jelas Hanum.
"Maksud mas, aku harus ikhlas kalau mama kembali punya jodoh lagi?" tanya Hanum.
"Bisa dibilang begitu, tapi bisa juga enggak. Kita harus lihat sisi kiri dan kanan. Apakah seimbang, atau banyak baiknya. Atau sebaliknya, jika banyak buruk mas dukung kamu dan Lisa mencegahnya."
"Mas, apa di luar sana ada yang bernasib sama dengan Hanum. Hampir tiga tahun lamanya sang papa tiada, lalu mama tiba tiba bertemu teman baiknya. Yang Hanum rasa mama punya masa lalu, tapi kalau mama menikah lagi di usia tidak muda, entah Hanum harus mendukungnya atau tidak."
"Sayang, jangan di pikirkan soal itu. Tapi pikirkan kebaikan untuk kamu, dan mama. Jika mama memang ingin ibadahnya hanya menemani di usia senja hari hari tua, kenapa kita sebagai anak tidak mendukungnya. Jangan dengarkan kata orang sayang! yang menjalani kebahagiaan itu bukan kita." jelas Rico menasehati istrinya.
Hanum mengelap tangannya dengan tisue, lalu ia memeluk sang suami dengan postur Rico yang sudah tegak. Rico berjalan mundur, membawa eratan tubuh Hanum yang menyender pada bidak tubuhnya dengan saling menatap hingga sampai sofa ruang tv.
"Mas, aku bahagia. Makasih ya sudah memberi pengertian sama Hanum. Maaf tadi aku sempet marah marah gajelas dan kesal, efeknya ke kamu tadi mas. Maafin Hanum! maafin kesalahan istri mood an ini ya!"
"Tentu sayang, mas tidak marah. Sebisa mungkin mas akan meluruskan setiap masalah apapun yang ada di hati kamu, saat kamu merasa dongkol tidak karuan." balas Rico dengan senyum yang menggairahkan.
Hanum duduk di sofa, kini perutnya sudah terlihat dengan jelas. Meski seperti bantal sofa, tapi itu cukup membuat Rico merasakan kebahagiaan.
"Sayang." lirih Rico yang menciumi perut bulat Hanum, saat Hanum masih duduk dengan meregangkan kedua kakinya. Dan Rico tepat di tengahnya.
"Apa mas, mas mau ngomong apa?"
"Shampo, masih ada?" senyum Rico, membuat mata Hanum dan pipinya merona malu.
"Kenapa, kok di tutup sih wajahnya?"
"Mas, kamu benar benar deh. Minta jatah aja dengan cara unik, mas bicara gitu aja aku kenapa langsung paham ya. Kemarin mas bilang mau tengokin baby, yang aku pikir mau cium perut aku. Tapi taunya lebih ke dalam sana."
Hal itu, juga membuat Rico gemas dan mencubit hidung mancung Hanum. Hanum yang kini bersandar, sudah melebarkan kedua pangkal kakinya. Tangan Rico pun sudah bersarang manja disana, ranum mereka saling bertautan, hingga lemas membuat Hanum berkali kali mengerang dengan mata lunglai semu merona.
"Mas.." lirih Hanum dengan lembut.
"Sudah?" tanya Rico, dan Hanum sudah mengangguk.
Tingnong!! bel berbunyi kala Rico sudah mulai ingin menancapkan tunasnya.
"Mas, ada tamu." ucap Hanum yang sedikit membulatkan mata, ingin tertawa kala wajah Rico sudah frustasi. Alhasil ia tahan tawa dan menggigit bibir bawahnya saja.
Tbc.