
Hanum menahan tatapan Alfa penuh curiga. Apa urusannya Alfa, yang melarang dirinya mempunyai tamu penting di saat sedang berduka. Meski Alfa meminta Hanum untuk pulang, ia menjelaskan jika pria ini adalah Fawaz.
"Kau sudah berhubungan dengan pria lain di belakangku Hanum?"
"Alfa! ini pemakaman. Tidak bisakah kau bersikap lebih baik lagi? dia pria sebelum aku mengenalmu. Jadi singkirkan ocehan omong kosongmu!"
Hanum mempersilahkan Fawaz menabur kembang dan bunga mawar. Tak lupa berdoa di pusara paman Armand. Fawaz hampir lupa wajah pria paruh baya beberapa saat ketika ia paseinnya. Pantas saja wajahnya tak asing, dan wajar saja, guratan pria paruh baya yang sudah terlihat tua dan rambut memutih keabuan membuat Fawaz lupa kedua orangtua Hanum belasan tahun.
"Perkenalkan saya teman baik Hanum. Sekaligus dokter keluarga pasein." ucap Fawaz ketika tatapan Alfa tak mau menoleh ke arah uluran tangan Fawaz.
Fawaz seolah senyum, lalu ia segera mengangkat lagi tangannya. Alfa memang terkenal angkuh, ia masih saja seperti dulu.
"Maafkan sikap Alfa ya." pinta Hanum.
"Aku mengenal Alfa. Jadi abaikan, aku sudah terbiasa seperti itu Hanum." lirihnya.
'Terbiasa? mengenal. Aach tambah beban pikiranku.'
Selepas Hanum pulang, ia mencari benda pipih itu dan memesan taksi online. Fawaz yang memperhatikan Hanum ia segera memberi tawaran.
"Naik taksi? bareng sama aku aja! lagi pula kita teman kan?"
"Ga pantas kayaknya! biar aku naik taksi aja. Kita ketemuan lagi nanti. Makasih untuk hadir saat ini. Beberapakali sempat ga asing suara kamu, taunya kamu udah hebat jadi dokter ya?!"
"Gak juga! semua karna aku menghilang. Aku cari kamu ke rumah lama. Taunya kamu pindah, ga sangka kita ketemu di tempat yang ga keduga kan?" senyum Fawaz meski berniat menghibur, tetap saja kesedihan Hanum tak bisa di pungkiri.
Sementara Alfa masih mengutak setir mobil, menatap dari dalam mobil bersama irene. Hanum juga tak habis pikir akan Alfa yang bersikap mau menang sendiri. Bukan lagi untuk menyelesaikan tetap saja Alfa selalu memancingnya. Irene yang sebal akan tatapan Alfa dan memperhatikan dua sejoli sedang bertegur sapa. Irene keluar dari mobil dan pergi seolah marah dan terbakar cemburu.
"Honey tunggu! jangan marah dan pergi dong!" pinta Alfa.
"Terus aja kamu liatin dia, kamu suka kan sama dia. Ini yang aku takutin kamu mempertahankan dengan alasan mama kamu Alfa?" teriak Irene.
"I'm sorry. Maafin aku Ren!" lembut Alfa.
"Kamu cemburu Hanum?"
"Aku! hah yang benar saja, hubunganku dengan pria itu rumit. Andai saja itu tidak terjadi ..Uuuuugh." Hanum menutup wajah, seolah meremas rambut belakangnya dengan jentik tangan manisnya.
"Kayaknya susah taksi dari tadi. Aku ikut kamu deh Fawaz." alibi Hanum.
"Gitu dong! you are strong woman Hanum." senyum Fawaz membuka pintu mobil putih.
Hanum berada di sepanjang perjalanan. Pikirannya masih menatap kosong dengan beban yang bercampur aduk. Entah ia harus berani menemui Tante Maria ibu mertuanya. Atau kembali mengulur waktu. Yang jelas ia tak bisa lagi memendam perasaan kecewanya dengan sikap Alfa yang plin plan. Wanita yang dicintai itu Irene, jadi Hanum merasa kedua orangtua Alfa harus merestuinya.
Tapi Hanum juga bingung atas wasiat papa untuk mempertahankan pernikahannya, belum lagi derita Alfa meminum obat penenang diam diam.
"Beban kamu berat ya Han?"
"Heuuumph! Sepertinya begitu, mirip saat kamu pergi pindahan." aksi Hanum serentag mengingat Fawaz yang salah tingkah.
"Saat ini aku sangat kehilangan papaku Fawaz."
"I see, sudah jelas tapi kamu jangan berlarut dalam kesedihan. Kirimkan doa terbaik untuknya Han!"
Papaku keturunan tionghoa. Menikah dengan mamaku penuh perjuangan yang notabane dari Swedia. Papaku bercerita mereka mengenal saat acara pertemuan penting di shanghai. Kau tau, papaku tak pernah membuat aku menangis dan terluka. Aku sangat kehilangannya, dan terimakasih kamu kembali, kamu teman terbaik yang tau aku seperti apa Faw,!
Fawaz mendengarkan kisah Hanum. Hingga ia mengorek mengapa Hanum bersama dengan Alfa yang mungkin anak itu lupa siapa dirinya.
"Hubunganmu dengan Alfa, apa Han?" tanya Fawaz membuat mata Hanum menoleh dengan spontan.
"A-aku. Dia itu ... " Hanum menggigit bawah bibirnya. Namun belum sempat Hanum menjawab. Seseorang mengetuk kaca jendela mobil.
Tug! Tug!
To Be Continue!!