
Hari ini kesehatan Rico berangsur membaik, ia mengecup kening Hanum tanpa rasa malu. Kala Leo masih tertidur di sampingnya.
"Mas, udah bangun. Biar Hanum buatin sarapan ya."
"Peluk!" ujar Rico, dengan suara seraknya.
"Mas, baiklah .. Mmmucch." kecup Hanum, membuat Rico senyum bahagia.
"Makasih ya, kamu istri terbaik. Maafkan mas, drop jadi ga bisa bantu kamu."
"Mas, udah dong. Mas udah kembali sehat aja, Hanum udah bersyukur."
"Baiklah, mas minta kamu jangan capek. Drop seperti mas ya! kasian anak anak nanti, mas ga mau itu. Mas benar benar drop, mas akan mandi air hangat. Lalu ke kantor."
"Mas Rico yakin, udah membaik. Biar Erwin aja mas, mas ijin sehari lagi ya! mas belum pulih bener, baru mendingan udah terjun tumpukan kantor." sedih Hanum.
"Bunda dan paman papa udah bangun?" ujar Leo, mengucek kedua matanya. Hal itu membuat kaget Hanum dan Rico yang sedang dekat berbicara.
"Kau mirip bunda.”
Rico memberikan Leo padaku. Dengan wajah bingung, aku tak punya pilihan. Kusambut tubuh anak manis itu, menggendongnya. Aku tertegun begitu Leo serta-merta merangkul leherku. Memelukku erat, sama eratnya saat dia memeluk Rico.
Sementara, jantungku berdegup kencang. Tak keruan. Terlebih ketika kulihat sorot lembut Rico saat mengusap rambut Leo yang tergerai. Aku lalu dibuat termangu begitu senyum yang sempat terbit saat mengusapi kepala Leo, kian mengendur ketika Leo sadar aku memerhatikannya.
Ekspresinya berubah dingin. Spontanitas.
“Mas memberikannya padamu karena mas tidak bisa menolak permintaannya. Mas harap, kamu tidak salah paham.”
Aku tak ingin berkomentar apa-apa. Sampai akhirnya jantungku semakin diguguh saat Rico mendekat, membungkukkan punggungnya untuk mengecup kepala Leo. Tercium olehku, aroma musk dari rambutnya, atau mungkin dari wajahnya—aku tak yakin. Kepala dan tubuhnya yang kentara dekat membuatku tanpa alasan menahan napas.
Jantungku kian makin diuji kala Rico menyudahi mengecup kepala anaknya, semakin mengujiku saat wajahnya bergeming di depan wajahku. Dan, dengan sepasang matanya berwarna hijau gelap itu, dia lagi lagi menyelam mataku. Entah menitipkan apa lagi.
Aku baru bisa membuang napas lega setelah dia menarik kepalanya kembali. Berdiri tegap.
'Mas Rico, adakah cela untuk aku bisa melihat kekuranganmu. Kamu pria sempurna yang Hanum kenal, begitu menyayangi anak kecil, meski Leo bukan darah dagingmu. Tapi kamu menyanyanginya sama tak membedakan.' batin Hanum.
“Jaga bunda ya!" lirih Rico, menoel hidung leo.
"Siap! Leo mandi dulu ya, bunda dan paman papa. Leo senang tidur bersama malam ini, Leo akan pergi ke sekolah dan menjadi anak membanggakan bunda dan paman papa."
"Good."
Adakah aku hanya sekadar mirip dengan ibunya? Adakah kebencian yang menumpuk di pelupuk mataku, Adelia untukku benar-benar tak beralasan untuk membenci anaknya? deru batin Hanum memuji asma Tuhan.
"Sayang, mikir apa?"
"Mas, Hanum kagum. Kagum dengan sosok mas Rico. Kalau gitu Hanum pergi bersiap, mas mandi. Hanum akan siapin baju hangat, juga siapin sarapan ya. Hanum akan temui bayi kita, pagi ini apa sudah mengoceh dan bangun juga."
"Baiklah! makasih sayang."
Tap! Tap. Langkah Hanum berjalan.
***
Hanum yang telah membuka celemek, dari dapur ia berusaha ingin berganti baju dan menjemput mas Rico sarapan bersama. Sementara mama Rita sedang bermanja dengan ketiga cucunya di kamar bayi, terlebih Leo yang akan bersiap pergi ke sekolah.
Namun mata Hanum tertegun ketika ruang kerja mas Rico terbuka, dan terlihat mejanya berantakan. Hanum segera menghampiri dan membuka pintu itu dengan lebar, ia berteriak nada satu oktaf kala memanggilnya.
"Sejak kapan kamu disini? dari mana kamu bisa masuk rumah ini, Adelia. Dengarkan aku, aku sedang bicara padamu?"
"Duh, stop teriak. Mau cari berkas penting, lagian cuma istri aja belagu. Aku adiknya kak Rico, lupa ya?" angkuh Adelia.
Adelia adalah gadis penuh siasat. Ia akan mencari tahu soal apapun yang menguntungkannya.
Ia membaca semuanya diam-diam. Semua ini adalah rahasia perusahaan. Mengapa ada di tempat ini? Hanum segera mengambil berkas, yang tepat berada ditangan Adelia saat itu.
"Taruh! ga boleh sentuh ruang kerja mas Rico, sekarang aku minta kamu pergi dari sini. Pergi Adelia!"
Adelia telah selesai membaca sekilas dengan cepat cepat dan mengembalikan semuanya, lalu ia menatap ke arah ruang tamu.
"Ok! stop teriak, satu hal. Adelia kesini karena ada satu berkas penting, dan itu urusan privasi. Dan satu lagi, tentunya rindu dengan anak sendiri. Ingat Leo, anak aku ya Hanum! jangan merebut hatinya, seolah kamu bisa gantiin aku. Ingat itu Hanum Saraswati!"
Hanum yang mencoba sabar, ia segera meraih tas Adelia dan merampas dengan keras.
"Siniiin!"
"Eh, lancang mau ngapain?"
"Jaga sikamu Adelia. Kamu yang lancang ke rumah ini dengan diam diam. Hah, konyol." cetus Hanum.
"Cukup! hentikan kekonyolan kamu itu, papa Mark udah jatuh sakit kala kamu berulah. Dan aku pastikan, kamu ga akan dapat surat penting dari rumah ini. Dan buat beban mas Rico bertambah!" tambah Hanum, kala mengeluarkan isi dari tas Adelia.
Adelia terkejut, kala Hanum sudah membuang isi tasnya ke lantai, sehingga Adelia cemas, kala Rico datang dari arah tangga.
"Hanum, kita bisa berdamai. Please! aku butuh itu!"
"Stop! Hanum, tidak akan membiarkan kamu kembali ada, apalagi diam diam kerumah ini! sekali lagi kamu berulah, aku bukan hanya akan menjebloskan kamu. Tapi lihat, cctv di ruangan ini tersembunyi. Jadi jelas aku bisa seret kamu, kalau kamu sampai berani datang, dan membawa sertifikat rumah ini juga hal penting dari market mas Rico. Ingat rumah ini, milik Hanum dan anak anak."
"Dasar wanita licik kamu Hanum, kamu lupa. Kak Rico itu duda terhebat, bisa nikahin kamu yang ga secantik ratu elisabeth, tapi kamu berlaga ratu penguasa."
Sayang ... ! Hanum, kamu dimana?! teriak Rico lembut. Kala Hanum menoleh, mas Rico sudah berjalan turun dari anak tangga.
"Pergi dari sini, tas kamu akan aku amankan. Aku pastikan kamu menyesal, jika mas Rico lihat kamu disini!" ujar Hanum mengancam.
Arrrgh!! geram Adelia, ia pergi namun langkahnya terhenti.
Tunggu!!!
Diam di tempat Adelia!!! teriak seseorang, yang sudah mengetahui keberadaan Adelia, dan Hanum menoleh dengan sebuah kertas lebar ditangannya.
Tbc.