
"Han, kamu jangan marah dong!"
"Cukup Alfa! kenapa kamu bilang, kartu itu ada padaku? bukankah ada di wanita impianmu?" ketus Hanum yang kecewa bercampur emosi.
"Aku ga ada pilihan lain, kasih aku waktu! aku akan ambil kartu itu di irene. Dan aku ga tau jika total shopingnya rata rata seharga rumah tipe mewah. Maafin aku!" peluk Hanum, tapi Hanum menolak mentah mentah.
"Tapi nama aku yang buruk Alfa, apa kamu sengaja membuat istrimu ini di cap jadi istri terburuk. Bad Wife, dahulu aku di pandang olehmu buruk karna tampilanku, saat ini sikap tingkah prilaku ku seolah menjijikan dari kelakuanmu. Is Real, aku bodoh memberimu kesempatan! Jika kamu hanya ingin istri sebagai hiasan, atau sebuah nama bagi keluargamu. Silahkan cari yang lain, jangan pilih dan pertahankan aku!"
Braagh!! menyentuh pintu lemari, tapi Hanum mengabaikan Alfa.
"Han, kamu ga boleh pergi!"
"Apa lagi Al, kita udah ga sejalan."
"Meski begitu, aku punya alasan sendiri. Aku mohon jangan pergi. Aku yakin kamu sedang main main kan. Jangan tinggalkan aku, please aku butuh wanita sepertimu untuk menyelesaikan semuanya."
Hanum tetap mengalihkan pandangannya sambil bercerita kekesalan, memberi punggung Alfa dan masih membereskan pakaian kedalam koper. Hanum kecewa karna tak lagi ada hati yang harus ia pertahankan. Bisa bisanya Alfa bicara jika Hanum menggunakan kartu untuk inves rumah di beberapa titik ibu kota yang mewah, sebagai tabungan inves hari tua. Dan akan menyewakannya. Bagaimana jika papa mertuanya itu mengecek, dan menanyakan lagi padanya saat tak ada Alfa.
Tentu tak masuk akal, Hanum bahkan tak pernah mencicipi nafkah dari Alfa bahkan menggunakan kartu black dari ia yang menyandang, sebagai status istri Alfa.
Krek! Hanum menutup pintu lemari, namun saat menoleh lagi. Ia terkejut kala Alfa pingsan memegang kepalanya. Hanum syok dan sempat bingung jika Alfa sedang bersandiwara.
"Alfa! hentikan bualan dan sandiwaramu. Aku pamit!"
Alfa! tak ada pergerakan, Hanum menghampiri dan menepuk pipi. Benar saja, Alfa demam dan denyut nadinya lemah setelah mengecek. Hanum berteriak histeris. Mengundang asisten rumah tangga dan papa mertuanya.
Alfaaa!! teriakan Hanum.
"Hanum, ada apa nak?" lirih Maria di iringi suaminya yakni, Jhoni.
Tanpa menunggu lama, ambulance datang dalam puluhan menit ke rumah besar milik Jhonson. Hanum masih bergelimang tangisan seolah tak bisa menjawab pertanyaan kedua mertuanya ada apa. Bahkan papa Jhoni sempat melihat Hanum merapihkan koper. Hal itu jelas membuat mereka bertanya tanya.
"Sayang! ayo bangunlah. Hanum, jika rumah tanggamu mempunyai masalah. Selesaikanlah secara baik baik. Alfa tidak pernah pingsan sekalipun seperti ini."
"Maafkan Hanum ya Mah. Pah." lirih Hanum mengecil dan gemetar. Lalu kedua mertua saling menatap kebingungan.
Mobil ambulance pun tiba, rumah sakit berjaga dan siap membawa Alfa dari ranjang rumah sakit keruang Igd. Hanum dan kedua mertuanya menunggu di luar. Hanum duduk dan masih mengingat ngingat, apa yang sebenarnya terjadi. Jika sesuatu terjadi pada Alfa. Maka Hanumlah bersalah disini.
Papa Jhoni pun menenangkan istrinya, dan tak ikut campur dengan apa yang terjadi antara putranya dan dirinya.
Jhoni yang tegas, ia segera menghubungi Elmo dan seorang intel. Soal kartu black, dan mencari tau soal anaknya sejak kapan putranya itu pingsan tak sadar diri.
Hal itu Jhoni sadari kala Hanum tegang saat membicarakan pengeluaran kartu black, hadiah pernikahan yang ia beri untuk menantunya itu.
'Kenapa semuanya jadi begini?' batin Hanum. Lalu ia melihat pesan Irene untuk bisa bertemu hari ini juga. Tapi Hanum, mencari cara agar ia bisa pergi sebentar setelah keadaan Alfa membaik.
"Rumah sakit! temui aku Ren." Hanum membalas pesan Irene.
Berbeda Hal Dengan keberadaan Lisa.
Fawaz menyetir dan mengantar Lisa sampai rumah, karna Lisa juga tak kembali ke kantor. Setelah mengantar menepi pagar, ia tak menatap Lisa. Menyapa atau sekedar berterimakasih. Pamit begitu saja, dan ia tau jika pria itu tak menganggapnya. Maka Lisa mencoba untuk melupakan nama Fawaz yang menempel dihatinya, meski sulit.
Setelah Jhoni pengawal kepercayaannya mencari tau, ia begitu kesal. Karna hampir jelas, jika Alfa masih berhubungan dengan wanita bernama Irene.
'Kenapa putraku ini melakukan hal bodoh?'
Di satu sisi pun Irene tak menggubris pria bangkotan itu pasti akan mencari tau, tapi yang Irene butuhkan adalah bertemu Hanum. Irene tau, jika keluarga Jhonson akan mencarinya dan meminta penjelasan.
“Sial! Sombong sekali wanita itu!” seru Jhoni yang merasa kesal. Lalu dia berjalan mendekati istrinya duduk dengan tenang. Karna menghubungi nomor Irene, tetap tak tersambung.
"Ada apa suamiku, kamu menemukan sesuatu?"
"Aku rasa wanita itu sedang menyamar, Maoren menjadi Irene. Atau memang keduanya sama, aku sedang meminta seseorang mencari tau. Alfa pasti dalam pengaruhnya, atau pengaruh hal lain?" bisik Jhoni pada Maria.
Sementara Hanum, yang mendengar sedikit. Ia sedikit bingung. Berusaha mencoba apa yang sebenarnya terjadi pada Alfa. Tapi hatinya, benar benar tak menolak jika pria yang statusnya suaminya. Hanum begitu tak tahan, jika masih di tutupi semakin lama.
'Kenapa saat aku mantap berpisah, aku sulit bicara pada orangtua sebaik ini?' batin Hanum menatap kedua mertuanya.
Hanum teringat video abu abu milik Alfa. Saat papa mertuanya menyebut nama Maoren dan Irene.
Flasbac isi dalam diary.
“Ayo, Bray! Dia terlalu sombong! Padahal cantik saja tidak terlalu!”
“Ah, duluan saja. Aku akan ke kamar mandi dahulu,” ujar Alfa berusaha menghindar dari sepupunya itu.
Alfa sengaja mengikuti Maoren. Dia merasa penasaran dengan wanita itu. ‘Aku yakin pernah mengenalnya. Tapi siapa dia?’ batinnya masih diliputi pertanyaan.
Maoren memasuki ruang rias. Dia hendak menghapus make up nya untuk bergegas pulang. Hari ini, dirinya hanya menyanyikan tiga lagu jadi dia tak perlu berlama lama di tempat ini. Tak lama, pengurus bar ini pun datang menghampiri Maoren di dalam ruangan tersebut.
“Maoren, ini bayaranmu untuk hari ini. Banyak pengunjung yang suka sama suara kamu. Jadi ada tambahan dari mereka yang menitip. Lagian, kenapa kamu tidak menjadi penyanyi tetap saja di sini?” ujar pengurus bar itu.
“Ah, tidak. Aku lebih suka seperti ini. Lebih leluasa menyesuaikan jadwal dan kegiatanku.”
"Aku yakin, itu karna kamu berusaha memperbaiki wajah burukmu kan? Hahaaa." gelak tawa Alfa.
Hanum yang seolah ingat nama Maoren dan Irene, ia segera pamit pada kedua mertuanya. Karna jelas kedua mertuanya saat berbicara, Hanum berada di sebelahnya.
'Aku yakin, nama wanita itu ada hubungannya dengan masa lalu dan kesakitan Alfa saat ini.'
"Hanum, nak kamu mau kemana?" tanya Maria.
~ Bersambung ~
YUKS SAMBIL LANJUTIN KISAH HANUM, BACA LITERSI TEMEN AUTHOR.
Judul : Hei Gadis Berkacamata
Author: Putri Nilam Sari
Blurb.
Perjalanan Eisha si gadis berkacamata dalam merubah penampilan dan menggapai impiannya dibantu Adnan seorang pria misterius dan bersikap dingin serta bermasalah di lingkungan nya.
Namun benih cinta yang tumbuh diantara mereka belum sempat mekar karena kesalahpahaman dan kejadian tak terduga.
Hingga Pertemuan tak disangka kembali memulai kisah yang belum usai, namun bagaimana dengan takdir yang memberikan kejutan bagi mereka, akankah kisah mereka berakhir bahagia??
So, cuss langsung karyanya Ya! and tunggu Hanum bab berikutnya yang masih proses reveiw ya!