BAD WIFE

BAD WIFE
RESTU KELUARGA MARK



Rico yang sengaja mengintai Hanum dari jauh karna khawatir. Ia segera menatap Hanum yang berjalan tertatih, seolah banyak pikiran.


"Kenapa lagi dia? bukankah sudah lunas. Apa Jhonson menaikan nominalnya?" cercah Rico segera berhenti tepat dimana Hanum berdiri saat ini.


Hanum terpana, kala Rico benar ada di hadapannya.


"Kamu baik baik saja? ikut aku!"


Hanum dengan mengiyakan, karna sudah lelah. Ia masuk ke dalam mobil Rico. Duduk dan memakai seat belt, menatap lurus tanpa ingat di sampingnya Rico memperhatikannya.


"Lehermu, kenapa itu merah. Seperti bekas ...! Katakan sama aku Hanum, apa mereka menyakitimu?"


"Tidak, aku ingin tidur sejenak Rico, aku lelah!"


Rico yang paham, ia membawa Hanum ke rumahnya. Memakaikan jaket, untuk menutupi tubuh Hanum. Rico mengendarai dengan perasaan kesal dan amarah bergejolak. Alfa pasti berlaku kasar lagi padanya.


Malam harinya, Hanum merenung di kamar tamu. Ia seperti orang linglung yang tidak memiliki tujuan dan arah hidup lagi. Seolah hidupnya kini berada di tangan Alfa. Belum satu minggu, hidupnya hancur setelah bertemu lagi dengan laki laki itu.


Rasanya air mata pun sudah kering, tidak bisa lagi jatuh meski ia begitu bersedih dan tersiksa. Ia mengingat ingat semua akting Alfa. Ia hanya bisa menghela napas dan membuangnya perlahan. Sungguh manusia yang patut diberikan penghargaan sebagai aktor terbaik.


Tiba tiba Hanum tertawa tipis dan tanggung. Tawa yang miris dan meledek dirinya sendiri karena Alfa. Lalu Hanum menggeleng geleng putus asa.


Sementara di ruang keluarga.


“Kak.” Adelia membuyarkan lamunan Rico.


Rico menoleh pada adiknya yang berdiri di pintu kamarnya.


“Iya?” sapa Rico.


“Di kamar tamu ada Hanum.” Adelia memberitahu.


"Ya, kakak yang menyuruhnya tinggal. Dari ancaman orang gila."


Rico terdiam. Seketika ia teringat Alfa yang pernah terjalin pada Hanum.


“Kak?” Adelia kembali menyapa Rico yang terlihat melamun.


“Eh, iya Del. Kenapa kamu datang, pake tanya lagi?”


“Iya Kak, aku penasaran aja,” jelas Adelia.


“Oh, iya apa yang kaka rencanakan melindunginya.” ucap Adelia. Ia pun beranjak dari hadapan sang kakak.


"Bukan urusanmu, sebaiknya kamu urus Lion!" cetus Rico.


Adelia pun pergi dengan sebal, Sementara Rico, kembali menarik napas yang dalam lalu membuangnya perlahan. Ia mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi Alfa dan instingnya yang tajam. Semua sudah terjadi dan semua harus berjalan seperti apa yang di perjanjian.


Rico tidak ingin mengambil risiko yang lebih kejam lagi dari keluarga Jhonson. Meski sebenarnya tidak ada pilihan terbaik setelah mengenal karakter mereka, tapi ia menyukai Hanum, meski badai kelak Alfa akan memberontak pada tahun ketujuh lalu.


Rico menemui sang papa di depan teras rumah, yang sedang santai minum teh hangat. Bersama Adelia di sampingnya.


Adelia berdiri dari posisi sang papa, duduknya setelah melihat Rico menghampirinya. “Aku ingin bicara empat mata sama papa,” ucapnya lagi. Ia kembali duduk, Rico pun duduk di sebelahnya.


“Tentang apa Adelia?” tanya Mark.


“Pah, apa papa yakin kalau Kak Rico itu memang memilih Hanum?” tanya Adelia.


Rico terdiam, masih saja adik nya itu kepo urusan asmaranya.


“Selama ini kita sendiri lihat bagaimana Rico dan Hanum, papa sudah memintanya berteman. Tapi keputusannya harus di pikir matang,” lanjutnya.


"Jadi papa merestui?"


“Memang, kak Hanum itu juga terlihat baik, tapi apa secepat itu Kak Rico dan dia saling jatuh cinta?” tanya Adelia.


Mark menggeleng. “Papa nggak mengerti, Adelia,” ucapnya, menggeleng.


"Lebih baik kau urusin Lion. Anak itu perlu asuhan full mu. Jangan ikut campur lagi!" cetus Rico dengan sebal.


“Sudahlah, nggak usah terlalu dipikirkan,” ucap Rico pula yang mengingat kondisi sang papa.


"Papa tidurlah! ini sudah larut malam!" titah Rico, menjauh dari hadapan Adelia yang masih saja banyak bertanya.


Sementara itu di sekitaran rumah Rico, anak buah Alfa melaporkan pada Alfa. Bahwa Hanum mendatangi Rico malam itu. Dan secepat itu pula Alfa langsung bergerak untuk mendatangi rumah Rico.


“Sialan! Jadi sesudah perjanjian wanita sialan itu masih mau bertindak gegabah! Dia tidak memikirkan kalau sampai ada media yang mengintipnya maka semua akan kacau!” umpat Alfa di dalam hati setelah mendapat laporan itu.


"Jadi benar, pria itu Rico." mengeras rahang Alfa, bagaimana pun dia tidak bisa berlaku kasar pada Rico.


Secepat itu pula Alfa memberikan perintah pada anak buahnya untuk tetap memantau Hanum dan laki laki itu. Dan dia segera keluar dari ruang kerjanya di rumah itu untuk segera mendapatkan Hanum.


Langkah lebarnya itu membuatnya sudah sampai di tangga bawah. Ia melewati Jhoni dan mama yang sedang di ruang menonton.


“Alfa! Kamu mau ke mana?” tanya mama.


“Mengurus wanita itu, Ma,” jawab Alfa berlalu. Ia memakai hoodienya.


Maria menatap Jhonson. “Pah! Dia nggak benar jatuh cinta ke wanita itu kan?!” tanyanya khawatir, karna Maria tau saat itu Alfa menginginkan perpisahan.


***


Beberapa saat, Rico keluar dari kediamannya menemui Alfa, sepuluh meter dari gerbang rumah.


“Kau datang malam begini, ingin apa dari Hanum?!” gumam Rico membalas.


“Aku ke sini ingin memastikan bahwa tunanganku tidak kau ganggu lagi,” jawab Alfa.


“Tunangan?” Rico bertanya, ia menatap Alfa mencari jawaban.


“Ya, aku hargai pernikahanmu dulu dan Hanum yang memang sudah lebih lama daripada aku, di banding aku yang baru bertemu dengannya, tapi hargai keputusannya. Dan kau nggak bisa memaksa Hanum untuk ikut denganmu seperti ini, dia sudah kulamar,” ucap Rico.


Tangan Rico langsung memperlihatkan tangannya pada wajah Alfa. Ia mengangkatnya dan menunjukkan jari Hanum yang sudah dilingkari oleh cincin pemberiannya.


Hanum dari balik jendela, ia mencuri waktu untuk menarik napas agar ia dikuatkan dengan lanjutan drama hidupnya dari Alfa. Semoga saja keputusan melawan arahan dari Rico, Alfa berhenti mengusiknya.


“Hanum menerimamu.” Alfa terbungkam setelah melihat kenyataan itu.


“Alfa, kalau kamu nggak bisa menerima keputusannya dan nggak bisa mendukungnya lebih baik kamu jauhi dia,” lirih Rico


“Hanum,” ucap Alfa tak percaya, masih terkejut.


“Kau selalu berpikiran buruk, kau sama sekali nggak menghargai keputusan dan bilang kalau dia benar berada di bawah ancaman dan tekanan, aku gak mengerti cara pikirmu, Rico. Mulai dari sekarang tolong mengerti! panggil Hanum sekarang!" pinta Alfa untuk Rico menjauhi Hanum.


"Aku tidak bisa, jika itu soal Hanum. Maka aku akan membuat kau dulu berhenti menjauh. Ingat aku akan pasang badan, jika kau terus menyakitinya lagi!"


“Dengar! Apapun yang menghalangi perjanjian aku dengan Hanum, aku bisa menyingkirkanmu Rico,” gumam Alfa.


Sementara Rico, ia segera menghubungi seseorang. Agar membuntuti langkah Alfa dan orang suruhannya. Rico berusaha mengimbangi, agar keluarga Jhonson tidak lagi menyentuh Hanum, juga mengungkit masalah antara Mark dan Jhoni di masa lalu.


'Rico, aku belum bisa membalas rasa ketulusanmu. Tapi, apa aku sanggup?' batin Hanum, menutup tirai jendela.


~ Happy Reading ~