
"Ric, kamu kenapa disini?" gugup Hanum.
"Masuk dulu Han, aku antar pulang!"
Hanum mengangguk, ia tak bisa mangkir dari segala sikon. Terlebih ia berada di jalan tol, yang sangat jauh jika ia berjalan menuju pulang kerumah. Dan saat itu juga, Hanum menyembunyikan kegugupan dan kesedihannya.
'Apa sesulit ini, kamu harus menyembunyikan dariku Hanum?' batin Rico menatap wajah wanitanya.
"Ada yang kamu pikirkan? kenapa kamu bisa ada ditengah jalan. Ini sudah malam loh Han?"
"A-aku berjalan karna lupa ponsel dan tasku. Aku ga ingat dimana tas dan ponselku. Maaf!"
"Ada aku Han! kamu bisa temui aku, tidak perlu berjalan sendirian."
"Aku hanya ga mau repotin kamu Ric, kamu pasti sangat sibuk."
"Untuk kamu, aku ga sibuk Han." balas Rico.
Hanum sadar diri, belum lagi soal klien beberapa pertemuan hari ini. Setelah sampai rumah, ia juga mau istirahat. Hanum berharap hari menyenangkan bagi Rico. Semoga rapat esok berjalan dengan lancar, dan entah setelah Rico tau, bahwa semua dalang kekacauan adalah Alfa dan ada namanya apakah Rico masih mau menatap wajahnya.
"Hanum, aku mau kamu bergantung dan terus terang semuanya sama aku. Jika itu berat, maka berbagilah segala hal denganku!" pinta Rico.
Sampai di depan rumah, Hanum masih saja tak menjawab pertanyaan dan permintaan Rico. Pikirannya adalah ia tak mau Rico celaka, ia tau bagaimana Alfa dengan triknya. Hanum menutup pintu mobil setelah pamit, ada rasa ketakutan kala dirinya seperti di awasi.
Rico sadar dengan wajah Hanum yang tertekan, ia segera mengirim pesan, apakah sudah selesai pada Erwin dan orang suruhannya.
"Han, aku menemukan ini di lift. Ini milikmu kan?" genggam tangan Rico menarik tangan Hanum.
"Tanganmu dingin, jangan lupa minum teh hangat dan mandi air hangat!"
"Benar, ini milik aku. Makasih Ric, aku ternyata lupa. Menjatuhkan tas dan ponsel yang aku kira hilang. Terimakasih aku pamit dulu ya."
"Han, apa kamu melihat sesuatu dan berusaha keruangan aku tadi?"
"Aku ga ngerti maksud kamu apa? Rico aku capek. Aku lelah, aku masuk dulu ya."
"Baiklah Han! selamat beristirahat!"
Rico menarik tangan Hanum kembali, mengecup kening Hanum dan tersenyum. Tanpa melupakan mengelus pipi dan rambut Hanum saat itu.
Hanum merasa bersalah, dengan begitu ia kembali membalik badan, ia berjalan tanpa menoleh ke arah belakang lagi. Satu yang Hanum pikirkan adalah, mengatasi Alfa agar dirinya tak mengganggu kehidupannya lagi.
Sesampai kamar, Hanum segera membersihkan diri. Belum lagi dirinya benar benar tak punya tenaga untuk turun makan malam bersama Lisa dan mama. Lisa juga heran, ia mengatakan itu pada sang mama.
Meski Lisa sudah mencoba mengetuk pintu kamar Hanum, tapi jawabannya adalah ia sedang tidak ingin diganggu. Lisa yang khawatir ia membawakan makanan ke kamar Hanum, sementara Hanum masih sibuk dengan sebuah ketikan di laptopnya.
"Han, kamu lagi apa? kalau ada masalah kakak bisa bantu loh!"
"Enggak kak! Hanum lagi ga kenapa kenapa, Hanum lagi banyak kerjaan. Kakak besok sama mama happy ya! Hanum lagi banyak deadline aja kok."
"Ok! tapi inget ya, jangan lupa makan!"
Hanum mengiyakan, setelah Lisa keluar. Ia memencet sambungan pada Alfa. Alfa segera menjawab dan bicara dengan suara rekaman saja.
'Pesan suaramu akan terhubung dalam beberapa jam, tinggalkan pesan!'
Hanum yang kesal ia mengacak ngacak rambutnya, begitu mengesalkan sosok Alfa. Ingin sekali Hanum mengambil sebilah mata benda tajam, untuk menancapkan ke jantung Alfa.
"Jika ada waktu yang tepat, aku tidak akan membuang waktuku membuat kamu berhenti Alfa." lirih Hanum, yang begitu saja menguras air mata. Ia masih melayangkan pikiran yang fresh. Agar dirinya tidak stress dan imannya tidak lemah.
Tuhan, bimbing aku. Apa aku harus melakukan kejahatan. Rico dan om Mark sudah begitu baik padaku? Tapi apa aku harus mengkhianati Rico dengan cara seperti ini. Aku ga sanggup jika membuat kehancuran pada kehidupan Rico. Rico sangat baik padaku, ampuni aku jika engkau cemburu, aku tidak menyamakan kebaikannya denganmu. Sebaik baiknya hanya engkau pertolongan satu satunya, aku hanya bergantung padamu saja.
Jeritan Hanum, saat ini. Ia kembali beristirahat, tanpa memikirkan hal esok di kantor. Hingga menjelang pagi, Hanum yang hampir kesiangan. Ia menatap sebuah pesan yang membuat wajah Hanum pucat.
~ **Bersambung** ~