
Hanum pamit, ia kembali berpisah setelah Nazim mengantar keruangan Molevard 271. Terlihat Alfa sedang menyilangkan kaki setengah ketika berdiri, memegang ponsel yang di tempelkan ke kening di depan pintu.
"Besok mbak datang lagi! kamu yang sabar ya Hanum!" ungkap Nazim membuat Hanum yakin.
Alfa menatap dengan sedikit kesal, lagi lagi Hanum meninggalkan dirinya. Lalu ia menarik tangan Hanum hingga jauh dari tatapan suster yang lewat.
"Kenapa sih, ga perlu pake kekerasan fisik!"
"Malam ini kau ikut aku ke suatu tempat! gak jauh juga kok. Papamu masih dalam pengawasan, jam besuk kita pasti esok. Mau pulang atau ikut aku?"
"Hah! aku kira papaku siuman, kau pergi saja. Aku sudah tak mau ditinggalkan lagi!"
Tanpa bla-bli-blu. Alfa menarik paksa Hanum. Berkata ia tidak akan ikut. Namun tetap saja, bobotnya sedikit ramping lebih mudah Alfa bawa meski berkali kali penolakan.
"Kau suka?"
"Rooftop ..? Kau ajak aku kesini, mau bunuh diri?"
Hanum langsung merespon ucapan Alfa setelah melihat di mana keberadaannya, Hanum sudah lupa dengan rasa laparnya dan aksi protes penolakannya.
'Jangan sampai aku percaya padanya! Jangan terbujuk rayu olehnya! Kau tahu kan dia laki laki macam apa, Hanum?'
Sontak Hanum mengingatkan dirinya sendiri, apalagi Hanum masih bisa memutar dengan jelas di ingatannya apa yang dilakukan oleh Alfa dengan Irene kemarin, jika di hitung terlalu banyak tak bisa satu satu ia ungkap.
"Terima kasih sekali untuk kejutannya! Tapi aku rasa kita tidak perlu menjelaskan! Aku juga tidak tahu pernikahan seperti apa yang kita lalui!"
Itulah jawaban dari Hanum tapi Alfa tidak meresponnya, dia malah justru melihat ke arah jembatan layang yang berkelip.
"Tolong ambilkan obatku!"
"Obat?" ternyata Alfa berbicara dengan alat pendengaran hitam ditelinga, itu berarti bukan dia saja yang bersama Alfa saat ini.
Refleks Hanum bertanya hal itu pada Alfa. Pria itu pun menatap Hanum.
"Aku ingin kau tidak membicarakan masalah ini kepada mamaku!" ucap Alfa sambil menunggu obatnya datang.
"Ini obatmu!" lirih Elmo supir Alfa yang berwajah kaku seperti batu es beku. Memberikan lalu pergi lagi, jika bertanya ratusan kata jawabannya pasti satu kata.
Tak menunggu lama Alfa pun meminumnya masih di hadapan Hanum.
"Maksudmu tentang obat-obatan itu tidak boleh membicarakannya kepada mamamu?"
Pertanyaan Hanum yang hanya dijawab Alfa dengan anggukan kepala dan dia sudah mengambil air lalu menenggak obatnya.
'Apa dia sakit? Tapi aku tidak pernah melihatnya sakit. Dia terlihat sehat sehat saja. Obat apa yang diminumnya?' Hanum pun curiga. Lalu dia memicingkan matanya pada Alfa.
"Kenapa menatapku begitu? Kau pikir aku menggunakan obat obatan terlarang? Hmm?"
Tentu saja mudah bagi Alfa berpikir jika dia menatap wajah Hanum sudah ditekuk judes macam itu.
"Aku bukan pecandu!" selepas bicara, Alfa segera berdiri dan berjalan lebih dulu meninggalkan Hanum.
"Hey. Tunggu aku!"
Hingga membuat Hanum memekik dan mengikuti Alfa. Hanum akhirnya berusaha mengimbanginya.
"Kau sakit?"
"Hmm!" jawab Alfa singkat sambil berjalan menuju ke arah pintu keluar.
"Tapi kau sakit apa? Aku tidak melihatmu sakit! Kau terlihat baik baik saja, loh! Bugar malahan. Ga pucat sama sekali tuh!"
Maklumlah Hanum itu orangnya ceplas ceplos. Dia tidak bisa berpura pura dan itulah kenapa dia langsung bertanya pada Alfa.
"Nanti juga kau akan tahu!"
Alfa bicara sambil menerima satu buah mantel berwarna hitam dari Elmo yang tak jauh mengawasi. Dan bodohnya Hanum semenjak ia menjadi istri Alfa, ia baru sadar jika Elmo akan mengawasi dimanapun bahkan tak terlihat yang dilihatnya. Mengejutkan bukan bagi Hanum yang baru sadar.
'Astaga! kehidupan macam apa ini, yang satu membuat aku bimbang dan selalu membuat aku terjatuh. Dan yang satu bagai penguntit yang mengawasi targetnya.' gemuruh Hanum.
"Pakai ini!"
Dan alih alih menggunakannya justru Alfa memberikannya pada Hanum sambil menatapnya serius.
"Aku?"
Alfa mengangguk tanpa merubah pandangan matanya dari Hanum.
"Kenapa aku harus memakainya?"
"Bagaimanapun juga kau istriku! Aku tidak suka melihat istriku memakai pakaian terbuka seperti itu di luar lingkungan kekuasaanku!"
'Heeeh, otaknya kayaknya memang masalah deh dan aku nggak ngerti cara dia berpikir. Tapi aku juga tidak suka sih terbuka seperti ini! Baiknya aku pakai sajalah!' batin Hanum yang saat ini memakai tanpa mengomentari cela Alfa.
"Alfa? kau tidak lelah?"
"Lelah untuk apa?" sorot Alfa membalas.
'Bagaimana kita akhiri saja pernikahan ini, dan berterus terang pada keluarga kita! apa kau setuju?'
DUAR! kaget Hanum kala Alfa menepuk pintu rooftop.
"Katakan, kau mau bicara apa?" teriak Alfa menatap Hanum dengan tajam.
To Be Continue!!