BAD WIFE

BAD WIFE
SIAPA IRENE



Tak ada hidup yang sempurna, jadi bersabarlah setiap insan yang sedang berdua, pasti akan ada sesuatu di baliknya.


"Rico, setelah selesai pulanglah!"


"Baik pah." senyum Rico, kala ia menatap Hanum.


Acara telah selesai, belum lama Fawaz dan Lisa juga ikut pergi bersama tante Felicia dan sang mama. Menyisakan Hanum dan Rico berdua saja, ketika penghuni telah pergi lebih dulu ke sebuah acara selanjutnya, yakni bbq di villa Feli.


"Sebaiknya, kita pergi berdua saja. Bagaimana?"


"Kemana?" tanya Hanum.


"Ke tempat nasi goreng di tengah tugu gunung, bagaimana?"


"Dengan apa Ric, mobil atau..?"


"Jaket dariku, kamu masih simpan kan? aku akan suruh Erwin mengantar sepeda motor. Membosankan jika kita berada di keliling para orangtua. Kita perlu rileks berdua Hanum." jelasnya, Rico meraih ponselnya.


Hanum terdiam, ketika Rico sudah menyambungkan ponselnya. Hanum gelagat bingung saat ini, ia menoleh ke arah kolam ikan, menoleh ke arah jaket Rico yang sempat ia sembunyikan.


"Han, kamu cari apa?"


"Rico, sepertinya aku lupa menaruh jaket. Aku minta maaf, karna saat itu ..?" Hanum menunduk.


Rico mendekat dan menatap wajah Hanum yang menunduk, memegang bahu Hanum untuk menjelaskan. Rico begitu lucu ketika Hanum menjelaskan, gemas Rico membuat ia tak marah.


'Han, tak apalah. Aku membeli itu dengan antri dan menunggu lama hanya untuk kamu, tapi baiklah. Aku akan minta Erwin mengambil jaket yang lain. Kamu bersiap, ganti pakaian casual ya!"


"Rico, tapi aku minta maaf."


"Baiklah sayang! cepatlah, jangan sampai kita tertinggal. Aku tidak akan marah karena kamu sudah jujur." gemas Rico mencubit pipi Hanum.


Rico kembali mengetuk pintu kamar Hanum, setelah Erwin datang dengan sepeda motor. Dengan banyaknya bingkai keluarga. Rico terperangah satu dinding yang menampilkan foto Hanum.


Kreek!


"Maaf ya, lama menunggu."


"Ga apa, kamu sudah siap. Kita berangkat sekarang?" lirih Rico yang kembali meletakkan bingkai foto Hanum.


Hanum menarik tangan Rico, tanpa sengaja mereka beradu kala kaki Hanum terbentur dengan tubuh Rico, karena Rico berhenti secara mendadak.


"Auuw,"


"Maaf! Mana yang sakit Han, maaf aku membuat kamu terkejut, tapi aku refleks. Lebih tepatnya melihat fotomu tadi."


"Yang ini, fotoku yang gendut dan tompel ini?"


"Ya! benar itu kamu, aku melihat foto sekolah dasar dan menengah, kamu masih bisa terlihat manis tak sebesar ini. Kamu depresi?" tanya Rico.


"Ya! Karena aku kehilangan seseorang, aku bisa sedih dan melampiaskan segala hal makanan tak terkontrol. Dan bisa kembali langsing, juga karena seseorang dengan hinaan, bully, padahal aku ga pernah menyakiti mereka."


"Baiklah aku paham, apapun yang kamu pikirkan jika ada masalah, berbagilah padaku. Aku akan selalu ada untukmu, tapi benar saja sih melihatmu di foto ini, aku sulit mengenalimu."


"Udah ah! Ayo kita berangkat sekarang!"


Ajak Hanum, membuat Rico langsung mengendarai sepeda motor. Memakaikan jaket dan segera menempuh jalan malam hari. Tak lupa Hanum meregangkan kedua tangannya pada lingkar pinggang Rico.


Hanum juga merentangkan kedua tangannya, setelah sampai di jalan meninggi, hembusan uap dingin membuat mereka berbicara manisnya romansa cinta, membuktikan dua insan dalam mabuk asmara.


"Kamu bahagia Han?"


"Humph! Sangat, Rico jika aku kembali gendut dan tak terurus apa kamu akan menerimaku?"


"Kamu ingin aku jujur menjawabnya?" tanya balik Rico berteriak, masih mode fokus mengendarai.


"Yups! Tentu, kejujuranmu adalah anugrah pasangan setia bagiku."


"Apapun itu aku menyukaimu dari hati, sebelumnya aku sudah pernah mendengar kamu pernah ada di titik terendah, dan dalam keadaan berat berlebih. Tapi selama suaminya aku, aku akan selalu merawat membuatmu menjadi ratu tercantik. Karena aku menikahi seorang wanita, untuk aku bahagiakan dan kalau perlu cantiknya mengalahkan ratu kerajaan." tawa Rico sedikit pecah.


"Gombal, aku suka kamu menjawab jujur. Setidaknya aku aman, malah aku takut nanti pernikahan kita adanya orang ketiga, apa bos muda sepertimu akan mudah jatuh cinta Rico?"


Motor pun berhenti, Rico memarkir dan melepas sarung tangan. Tak lupa Hanum ikut turun dan menatap.


"Ada apa, aku salah bicara ya?"


"Hanum sayang, aku hanya ingin kamu. Jangan berpikir yang bukan bukan. Ok! aku lihat ponselku, dari tadi bergetar terus."


Rico melihat beberapa panggilan, lalu ia menatap Hanum dan dengan bingung Rico bertanya.


"Han, papa kabarin aku. Sewaktu acara tadi di rumah, ada seseorang mengintip. Katanya ada perempuan bernama Irene, namanya sih ga asing, tapi apa kamu kenal dia?" tanya Rico.


"Irene…" terdiam Hanum.


Hanum mengingat jelas, apa Irene yang dimaksud adalah kekasih Alfa. Hanum sedikit mengingat apartemen. Lalu menyadarkan diri jika nama itu hanya mirip saja.


"Ada fotonya Rico?"