BAD WIFE

BAD WIFE
KEMBALINYA SAHABAT



Hari ini, setelah kesibukan Hanum dan Rico. Hanum sempat ketemuan dengan Nazim. Hal itu juga membuat Hanum menunggu di cafe, sambil menunggu Rico pulang bekerja.


"Mbak? ga nyangka deh kita bisa ketemuan disini?"


"Iy Han, maaf! ga tau kalau kemarin kamu ada di perumahan pluit. Emang jadi kamu ambil rumah di sana?"


"Belum pasti mbak, yang pasti begitulah cerita yang Hanum bilang. Hanum sibuk dampingi mas Rico, dan menjaga anak anak tetap baik. Apalagi mama yang Hanum punya saat ini."


"Iy, itu namanya ibadah bakti kamu sama mama. Tuhan udah nitipin mama, karena kamu mampu. Tapi kesedihan mama pasti berkurang adanya Azri, juga anak anak kamu."


"Betul mbak. Eh iy, mbak Nazim kenapa enggak bilang kalau dekat sama Erwin?"


"Enggak, karena mbak merasa ragu. Dulu sempat mbak suka sama Erwin, tapi saat itu Adelia dilamar olehnya, ditambah spill Erwin yang mbak tahu beberapa saat lalu buruk. Mbak tahu, setiap orang akan berubah. Tapi kamu kan tahu, mbak janda punya anak satu. Mbak masih khawatir buat lanjut hubungan serius."


Mendengar hal itu Hanum mengangguk, tak lama ia menatap seorang pria meletakkan 10 box makanan berbahan dasar ayam, lebih tepatnya fried chicken di atas meja berukuran panjang.


Tatapan Hanum dan Nazim kebingungan. Karena saat itu ia benar benar tidak memesan banyak makanan. Sakin seriusnya ia sedang mengobrol, sepuluh box ayam sidah tersaji di depannya.


"Mbak, pesan sebanyak ini?"


"Bukan mbak sih, tapi kalau orang itu salah. Biar mbak bayar. Biar dia yang bagiin aja."


"Ga usah mbak! biar Hanum ke chefnya langsung aja. Sekalian mau ke toilet. Biar Hanum aja yang bayar hari ini, kita udah lama kan."


"Oke kalau gitu, mbak jadi seneng deh. Hehee." senyum mereka bersamaan.


Hanum pun segera mungkin menghampiri chef, tapi saat itu ia malah mendengarkan ocehan satu kurir dan chef yang sedang berdebat. Yang Hanum rasa tidak tahu menau dan tidak mengerti.


"Pesanan yang sama dengan pemesan yang sama juga," ucap pria itu pada salah satu rekan kerjanya yang berada di dalam restoran tersebut.


"Lagi?" Emil mengerutkan dahinya.


"Apa dia tidak bosan memakan ini setiap hari?" tanyanya.


"Aku rasa ini bukan untuk dikonsumsi pribadi. Dia sengaja memesan ini karena ingin bertemu denganmu, dan ini hanya alasan saja," Hendri menjawab dengan santainya.


10 hari terakhir ini tugasnya sebagai kurir selalu digantikan oleh Emil.


"Aku menolak," balas Emil tak kalah santai.


"Kamu pikir aku ini kurir apa? Aku di sini sebagai asisten chef, bukan pengantar makanan. Jadi tolong dicancel aja pesanannya! Aku tidak mau mengantarnya lagi," lanjut Emil kesal, yang notabane ia sebagai chef tapi malah menjadi pengantar karena karyawan minim.


"Ini demi kebaikan dan kemajuan restoran ini ke depannya, Emil. Coba kamu bayangkan kalo dicancel! Kita bisa rugi, karena hanya wanita ini yang selalu memesan dalam jumlah yang banyak. Bahkan dia selalu memberi uang lebih sebagai tips buat kamu. Apa kurangnya coba?" Hendri berusaha mempengaruhi Emil seperti hari hari sebelumnya.


Pertama kalinya Emil mengantarkan pesanan, konsumen yang merupakan seorang wanita muda kaya raya itu masih bersifat sopan hingga pesanan yang ketiga kalinya. Namun, akhir akhir ini konsumen bernama AD itu mulai menunjukkan sifat aslinya. Tak jarang wanita itu dengan sengaja berpakaian terbuka dan menunjukkan gaya menggoda agar Emil terpancing dengan keindahan tubuhnya.


"Kekasih apaan?" Hendri mengangkat salah satu sudut bibirnya, mengejek Emil yang selalu berharap bertemu dengan kekasih masa SMA-nya itu.


"Kekasih yang tidak tahu di mana rimbanya sekarang, ngapain nungguin yang nggak pasti?" tanyanya dengan cuek.


Diejek oleh temannya sendiri membuat Emil sontak menoyor kepala Hendri.


"Syirik aja lo, jelas gue masih berharap ketemu ma dia." kesalnya.


"Bukan syirik, tapi ini kenyataan. Mau sampai kapan nungguin dia? Belum tentu dia itu masih setia sama kamu. Kali aja dia udah nikah dan bahagia.?" ujar Hendri yang tidak bosan menasihati teman masa kecilnya itu.


"Sudahlah, sekarang cepat antar ini segera, jangan buat customer menunggu lama!" serunya lagi.


"Kamu ini tuli atau sudah tidak bisa membedakan antara menolak dan menerima? Aku bilang tidak mau, ya sudah, jadi jangan berlagak seperti bos untuk menyuruhku!" Emil kekeh dengan keputusannya.


"Jadi siapa yang akan mengantarkan ini? Wanita itu tidak mau menerima kalo bukan kamu yang mengantarnya langsung." Hendri memasang tampang sedihnya.


"Bilang aja aku nggak bisa, lagi sibuk atau sakit gitu. Pokoknya aku nggak mau ngantar lagi. Sekarang pergi dari sini, suruh orang lain saja yang mengantarnya!" seru Emil kemudian berlalu meninggalkan Hendri dengan box makanan yang telah tersusun rapi itu, dan akan diantar ke meja depan lagi.


Emil Baskoro merupakan pemuda berwajah tampan yang berasal dari sebuah perkampungan, sengaja merantau ke kota, karena ingin menyusul kekasihnya dengan nama panggilan Hanum gadis seindah Harum bunga gadis yang dicintainya sejak delapan tahun yang lalu. Namun, ketiadaan alamat dan nomor yang bisa dihubungi membuatnya kesulitan mencari wanita yang sudah mengisi hari harinya semenjak lulus SMA itu.


Berangkat ke kota bermodalkan ijazah SMA, Emil dan Hendri berulang kali melamar ke berbagai tempat. Namun selalu tertolak, hingga mereka bertemu dengan seorang pria paruh baya yang memiliki sebuah restoran yang nyaris mengalami kebangkrutan.


Permisi!! "Mas, maaf saya menggangu. Saya sepertinya mau komplain, boleh saya bicara?" sapa Hanum.


Handri menoleh. "Ya mbak, ada yang bisa saya bantu?"


"Eh, begini. Di meja kami ada banyak sepuluh box. Tapi kami ga pesen, apa salah ya? dan kalau sudah terlanjur, memang salah ga apa apa. Biar saya bayar, dan mohon berikan pada yang membutuhkan saja bisa mas bantu saya karena .. ?"


"Oh! maaf mbak, ini karena partner saya yang ceroboh. Sebentar ya mbak. Emiiil!" teriak Hendri pada teman bodohnya itu.


"Aaah! apaaaa- laa-gii. Ssih," suara Emil mengecil kala melihat wanita yang tersenyum menyapa dan menatap senyum juga padanya.


"Han! Ah! Han-um. Kamu Hanum kan?" ujar Emil dengan wajah cerianya, tak lupa ia bersujud syukur, sehingga membuat tatapan Hanum dan pria bernama Hendri di sebelahnya kaget.


Eh ya ampun! Ada apa ini?! Hanum menyingkir, kala tidak ingin berada di hadapan pria yang bersujud, kala dirinya berada di depannya.


Tbc.