
"Del, papa ada di dalam?" tanya Rico.
Hanum tersenyum pada Adelia, saat membuka pintu mobil. Tapi saat itu wajahnya jelas tak menyukai Hanum. Dari berat nafas saja, Hanum sudah yakin jika masuk ke dalam keluarga Mark akan sedikit sulit.
"Ada. Tapi papa baru istirahat, kakak bawa perempuan mau nginep lagi? yakin cuma mau obatin luka doang?" tanya Adelia.
"Namanya Hanum, kamu harus sopan! Sejak kapan juga kakak bawa wanita lain?"
"Lah, kan tadi aku cuma bilangnya bawa perempuan mau nginep? Salah lagi deh, kalau udah dirumah kakak ga asik." cetusnya.
"Han, ayo masuk! tidak perlu pikirkan perkataan adik kecil ini. Dia di rumah tetaplah yang paling muda dan paling judes. Dan kamu Adelia, kamu lebih baik pulang! temui Leon. Putramu perlu perhatianmu!"
"Dia di rumah neneknya, lagipula untuk apa aku kesana, orang istri baru Jile juga ada." cetus Adelia berlari masuk.
Jile, adalah mantan suami Adelia, setelah berpisah karena Adelia tak mau berhenti bekerja dan mengurus anak saja. Maka pertengkaran mereka selalu terjadi dan berakhir. Sehingga anaknya selalu bergantian menjaga.
Hanum menatap Rico, ia merasa tidak enak ketika dirinya berada di tempat dan suasana yang salah. Hanum masih memegang sebelah tangan Rico untuk berjalan. Ada rasa khawatir, kala Hanum masuk dari pintu pertama. Masih sama, rumah besar ini adalah, saat ia baru membuka mata setelah kecelakaan.
Tapi ketika ia bertemu pak Mark. Apa yang harus Hanum lakukan, serasa tidak punya muka datang ditolong, kini kembali menggaet putranya dan menjelaskan.
"Ada yang kamu pikirkan Han?"
"Rico, apa tidak sebaiknya aku pulang. Aku ngerasa ga enak aja, kalau aku harus menginap. Ada si bibikan di rumah ini? biar aku ingetin untuk bisa mengganti perban dan kompres luka kamu, aku mau cari si bibi ya?"
"Selain kamu, aku lebih baik tidak perlu diobati. Kamu malu untuk apa?"
"Rico, percayalah. Aku wanita, tidak pantas menginap. Status kita tidak jelas, tidak resmi."
"Kalau gitu aku tinggal panggil seluruh penghuni disini, kalau kamu calon istriku. Gimana, please kamu tinggal. Besok bisa kerja bareng Erwin saat menjemput!"
"Rico .." lirih Hanum dengan serba salah.
Eeeeheeeuuum. Deheman dari seorang pria paruh baya, membawa tongkat berjalan dari anak tangga.
"Kau sudah pulang, papa kira kamu sudah tidak ingin menginjak rumah ini lagi."
"Pah, ayolah! Aku hanya sibuk akhir akhir ini, apartemen lebih dekat dari kantor. Sekaligus aku ingin bicara sesuatu."
Heeeeh! Putra dari Mark hanya pulang kerumah karena ada maunya, jika tidak ada sepi bagai kuburan rumah ini. Lebih baik rumah sebesar ini dijadikan sarana sekolah atau rubuhkan jadi taman bermain.
"Papa ayolah! Ada Hanum, tidak enak kita berdebat seperti ini."
"Kau pulang hanya ingin bicara statusmu dengannya yang akan serius. Atau soal luka dari Alfa gila itu? Berapa kali papa bilang, untuk tidak berurusan dengannya."
"Papa sudah tau?"
"Om, maaf jika saya lancang. Tapi semua salah Hanum, maafin Hanum ya om!"
Mark menatap tajam Hanum, lalu mendekat dengan jalan perlahan. Ada rasa kesal karena ia lagi lagi harus berurusan dengan Jhoni, tapi ia tidak bisa melarang keputusan pilihan putra semata wayangnya itu.
"Nak, setelah kamu lihat luka tangan putra om! Jangan lagi mengacuhkan, atau berhenti ditengah jalan. Om sudah lelah, jika Rico masih saja melajang. Om takut dia belok arah tidak menyukai wanita."
Humph! Hanum yang tadinya tegang, ia menoleh menatap Rico dan tertawa. Rico melirik dan memiringkan bibirnya pertanda ketidaksukaan kala ditertawakan.
"Yang salah, itu putra om yang bodoh, untuk apa juga memegang ditempat tajam. Memang cinta membutakan segala hal. Kalian masuklah! Kita akan makan bersama nanti. Om juga mau bicara banyak sama kamu."
"Ya, om."
"Pah! Hanum datang kemari untuk merawatku. Bukan untuk mengobrol dengan papa." Goda Rico.
"Putra tengik ini, masih butuh restu tidak?"
Rico pun tertawa pecah, lalu mengajak Hanum ke ruang tamu. Berbeda dengan tatapan Adelia dari atas tangga yang memperhatikan Hanum seolah disambut bak ratu oleh sang papa.
"Ga bisa, ketenangan aku jadi ratu bakal tergantikan. Hanum ga boleh jadi kakak iparku." cetusnya kesal, ia memukul besi tangga dan kembali masuk ke kamarnya.
Kedatangan Hanum disambut baik, dari jamuan dan perbincangan pada om Mark. Mereka juga mengisahkan mengapa keluarga mereka tak pernah akur dan selalu saja berseteru pada keluarga Jhonson. Meski tidak secara detail keseluruhan, Hanum mengatup dengan mendengarkan, sebagai pendengar yang baik.
Setelah lama mereka bersama, Hanum melihat arah jendela. Hujan turun dengan deras, Hanum cemas ingin pulang. Tapi om Mark meminta Hanum untuk menginap.
"Pulang besok saja! nanti Om panggil Adelia untuk meminta piyama dipinjamkan. Kamu pakai saja yang ada, Hanum! Om pamit lebih dulu istirahat!"
Hanum terdiam, ia senyum. Dan benar saja seorang pelayan memberikan paperbag berisi piyama baru. Lalu dengan berusaha santai Hanum memikirkan, ia meminta izin untuk menghubungi orang rumah agar tidak khawatir saat ia tak pulang ke rumah malam ini.
Beberapa jam kemudian.
Hanum yang sudah refresh mandi dan segalanya. Ia menepuk selimut tebal untuk merehatkan sejenak. Tapi dalam beberapa menit seseorang mengetuk pintu kamarnya.
"Siapa?" teriak Hanum, ia menguntal rambutnya dan membuka pintu setengah saja.
"Rico, kamu sedang apa. Bukankah perban sudah aku ganti tadi di ruang tamu?"
"Ada yang mau aku tunjukan, buka pintunya!"
"Rico tapi ini sudah malam, hampir jam dua malam, besok kamu harus.." terdiam Hanum, kala Rico sudah menyerobot pintu dan masuk.
Hanum merasa tidak karuan, bagaimana pun dia bukan wanita yang mudah tidur sebelum resmi. Pikiran Hanum saat ini benar benar tidak sinkron. Ketika dalam kamar tamu hanya menyisakan mereka berdua.
"Aku tidak bisa tidur, bisakah aku melihatmu tidur. Agar aku tau kamu aman dan nyenyak."
Waaah! "Rico yang terhormat, aku yang tidak nyaman. Aku tidak terbiasa jika tidur diperhatikan, jika kamu benar benar aku ingin aman, maka kembalilah ke kamarmu!"
"Rico tapi kamu terluka, kamu harus istirahat. Ayo kembali ke kamarmu sekarang!"
Rico menarik tubuh Hanum dengan tangan kiri, meski tangan kanannya diperban dan menahan sakit, tapi ia meminta Hanum melihatnya sejenak.
"Aku akan kembali, tapi lihat aku sebentar! Aku rindu kamu Hanum, apa minggu ini aku bisa bicara pada mama kamu, jika aku ingin datang bersama papa untuk melamarmu?"
"Rico, malam ini acara pertemuan Fawaz dan Lisa. Aku tidak bisa melangkahinya untuk kedua kali, aku sudah berjanji. Dan…" hup! terdiam Hanum.
Bibirnya terkunci, ketika wajah Hanum ditarik lembut oleh tangan Rico. Hanum bersandar pada bilik pintu, mengenai engsel yang menekuk seperti pintu yang akan dibuka.
Took took! suara ketukan pintu kamar Hanum di ketuk.
Bersambung