BAD WIFE

BAD WIFE
MENGELUARKAN TANDUK



"Iy, benar saya Hanum. Tapi saya tidak kenal anda maaf ya pak! pak ini uang beberapa lembar, mungkin cukup. Tolong bantu bagikan saja! permisi saya pamit." ucap Hanum pergi memberikan pada pria bernama Hendri.


"Tapi mbak! sebentar!"


"Hanum, tunggu! kamu pasti benar Hanum kan. Tidak mungkin kamu ga kenal aku, aku sudah jauh jauh merantau. Mencari alamatmu, apa seperti ini pertemuan kita kembali?" ucap Emil.


"Anda salah mungkin! maaf saya permisi." ujar Hanum.


Emil segera mengejar Hanum, tapi seseorang wanita membuat ia kembali mundur. Dan kembali masuk kedalam ruang chef, tapi sayang sudah ketauan.


Emil mematung, tampak wajahnya berpikir keras. Godaan wanita berparas cantik itu kembali melintas dalam benaknya. Sebagai pria normal, bisa saja dia khilaf dan salah langkah nantinya. Itu yang menjadi ketakutan terbesarnya, karena hingga detik ini, cintanya masih utuh untuk Hanum seorang. Walau sudah beberapa tahun terpisah, Emil masih berharap mereka dipertemukan kembali dengan perasaan yang masih sama. Tapi saat mereka dipertemukan seseorang yang tak ingin ia temui, membuat Emil melangkah mundur.


Apa yang Emil khawatirkan telah terjadi. Begitu pintu terbuka, seorang wanita yang mengenakan pakaian kurang bahan tengah tersenyum padanya. Wanita itu sengaja menampilkan gaya yang menggoda, tapi Emil sebisa mungkin menahan diri agar tidak terpancing.


"Emil, gue goreng dulu ya! lo hadepin tuh penggemar baru loh." ujar Hendi berlalu.


"Kamu telat empat puluh lima menit. Kamu tahu, aku sudah menunggumu lama sampai sampai aku harus membatalkan semua janji dengan para klien saya," Adelia menjelaskan, berharap Emil paham bahwa menunggu kedatangannya lebih penting dari apa pun di dunia ini.


"Maaf, saya tidak tahu jika ini sangat penting. Saya juga baru dikabari harus mengantar ini sesuai jam yang ditentukan. Dan yang paling ingin saya tegaskan, sebenarnya saya bukan kurir. Jadi tolong, jangan meminta saya lagi untuk mengantar makanan ini! Saya harap ini yang terakhir kali." Emil membela diri dan tidak terima disalahkan begitu saja. Sudah syukur dia bersedia mengantar makanan itu, jadi harusnya ucapan terima kasih yang harus didapatkan.


"Baiklah, saya terima alasanmu," ucap Adelia dengan wajah juteknya.


"Tolong letakkan semua makanan itu di meja makan saya! jangan salah meja lagi di pojok kiri, bukan kanan!" pintanya kemudian.


"Meja makan? Kenapa harus sampai ke meja makan lagi, benarkah saya salah meja tadi?" Emil tidak terima, ia yakin ini adalah trik dari wanita itu untuk kembali melancarkan aksinya yang sudah beberapa kali gagal. Mengingat pakaian yang sedang dikenakan Adelia.


Namun, Adelia yang licik tidak peduli dengan semua itu. Begitu Emil meninggalkannya, ia tersenyum puas dan berjalan menuju sebuah tempat di mana ia menyembunyikan sebuah kamera untuk merekam percintaan sesaat mereka.


"Dengan ini aku pasti bisa memilikimu, Emil, juga saya bisa membuat kak Rico salah paham, aku tahu kamu tadi panggil Hanum. Berati dan itu artinya kamu kenal Hanum." ucap Adelia dengan seringai licik di wajahnya.


Berbeda Emil kesal, sedikit lagi ia bisa tahu dimana keberadaan tempat tinggal Hanum. Tapi sayang wanita gila bernama Adelia kembali membuat matanya sakit. Hingga ia menghela nafas, menyesali karena ia tidak bisa mengejar wanita yang ia cari sekian lama.


"Hanum, setidaknya kamu harus bicara kenapa kamu pergi begitu saja. Ah! sakit sekali hatiku rasanya." lirih Emil, kembali memotong ayam dengan cepat.


***


Di Kantor.


"Dah! Han, next kita contac lagi ya. Maaf! hari ini harus cepat dan kilat, mau jemput les Putri juga soalnya. Salam sama Rico dan mama kamu ya Hanum. Juga anak anak kamu yang unyu, apalagi Azri." ucap Nazim.


"Iy mbak. Dah! Jangan sungkan nanti mampir ke rumah baru Hanum. Kita bakal tetanggaan nanti." senyum Hanum.


"Yes! mbak doakan, supaya Rico murah rejeki, bisa ke beli cash ya Hanum. Soalnya mbak tau sendiri, kalau market Marco tidak mau berhutang gitu. Apalagi sukses melejit dengan cara syariah."


"Duh mbak Nazim, bikin Hanum salah tingkah aja deh. Masih ada kok beberapa kredit, hanya saja sedang mengurangi. Mas Rico trauma soal kasus Adelia dengan nama mas Rico." jelasnya.


"Iy. Iya mbak ngerti, hanya goda aja kok. Dah! kamu cepat masuk, kasian suami kamu pasti nunggu."


Sesaat Hanum kembali menyapa senyum seluruh karyawan mas Rico yang menyapanya.


"Sore bu Hanum!"


Sore juga! terimakasih kerja kerasnya hari ini, selamat beraktifitas lagi esok. Jaga kesehatan ya kalian semua!! ujar Hanum.


"Baik bu! permisi Bu." serempak karyawan market Marco.


Hingga dimana Hanum kembali mengetuk pintu, terlihat Rico sedang menatap merapihkan laptop. Hanum senyum menyapa dengan memeluk punggung Rico.


"Mas, aku rindu. Mas udah selesai semuanya?"


"Hay! sayang, sudah dong. Kamu gimana udah ketemuannya sama Nazim. Gimana seru?"


"Seru, aku happy. Dan kalau mas jadi ambil rumah itu, berarti Hanum bakal tetenggaan. Mas tau ga mbak Nazim udah ga di singapore. Dia menetap di ibu kota terus usahanya juga merintis baru di ibu kota, jadi yang di negri sebrang di kelola mertua sama mantan suaminya."


"Oh! menghindar. Lagi pula luar negeri batasan pergaulan terlalu bebas. Riskan untuk seorang ibu single parents yang mempunyai anak perempuan. Jadi mungkin itu alasannya juga." jelas Rico.


"Iy mas."


Semesra itu Rico dan Hanum telah kembali, dan sampai di loby. Rico menjalankan mobil dengan pelan, hingga beberapa jam mereka berhenti di baby shop.


"Sayang, mas rasa kita mampir beli sesuatu untuk anak anak kita. Mas mau beli mainan untuk Ghina, Ghani, dan Azri.


"Iy mas, anak anak sudah semakin besar. Hanum jadi ga sabar ingin cepat mereka besar. Hanum ga sabar deh, mau ajak baby Ghina nge mall bareng."


"Trus, mas ajak baby Ghani, dan Azri ngantor?" seru tatapan Rico gemas.


Hingga Hanum merasa tertawa kala tatapan Rico sangat membuat Hanum malu dan menutup matanya. Kala wajah Rico mendekat sekali ke wajahnya.


"Ah, mas bisa aja deh bikin Hanum senyum malu."


"Habis kamu sendiri mikirnya kejauhan." balas Rico.


Tak lama, saat Hanum melihat buku music, buku cerita dan mainan edukasi. Membuat tatapan Rico tajam. Ketika seorang pria datang membawa bunga tepat di depan Hanum.


"Hanum, akhirnya kita ketemu lagi. Aku sengaja ikuti kamu. Terima bunga yang aku awetkan delapan tahun lalu, di dalam pot kaca ini. Hanum masih ingat aku kan?" ujar pria yang ia temui di kedai chiken.


"Sayang, siapa dia?" tanya Rico mendekat, hampiri Hanum yang sedang melihat stroller ganda. Hal itu membuat tatapan tajam pada pria di depan Hanum.


"Mas, dia. A-aku juga bingung. Hanum masih ga ingat, sebab tadi sama mbak Nazim .." terhenti Hanum saat menjelaskan.


"Saya mantan Hanum sejak sekolah biru, sudah lama saya mencarinya. Kenalkan saya Emil." mengulurkan tangan, sementara Hanum melihat tanduk wajah Rico merah padam.


Tbc.