BAD WIFE

BAD WIFE
OTAK MIRING



"Mama, tidak Alfa sedang menyembunyikan sesuatu milikku. Benarkan?"


"Haah?" melongo Alfa. Tapi Hanum menginjak kaki kirinya, sehingga Alfa menahan dan berkata Ya. Hingga dimana sebuah koin terjatuh tentu saja itu karna Hanum menjatuhkan agar sang mama tidak curiga.


Hanum pun meninggalkan Alfa, ia memegang sang mama masuk kedalam kamar kembali. Mungkin sang mama saat ini sedang membutuhkan sesuatu, sehingga meninggalkan keberadaan Alfa saat ini yang pergi keluar mengambil ponselnya.


Di dalam kamar Hanum sedikit bingung, dari mana ia harus memulai mengatakan dirinya pada ibu mertuanya ketika datang. Hanum ingin sekali membicarakan apa yang telah terjadi antara dirinya dan Alfa saling memaksa karna keinginan kedua orangtua mereka. Hanum tak bisa lagi berfikir jernih. Ia segera mandi dan membersihkan diri. Membuka rak lemari dan mengambil baju panjang berwarna putih lengkap dengan tudungnya.


Beberapa saat Hanum segera rapih, ia juga baru ingat kala sesuatu yang diberikan Fawaz beberapa jam lalu. Segera dengan genggaman gugup Hanum membacanya. Ia segera menatap isi surat Fawaz perlahan selama beberapa puluh menit.


'Fawaz, jika aku tau dari awal. Ini sudah terlambat.' gumamnya lalu meletakkan surat itu di dalam laci. Menyusuri keberadaan Lisa yang mungkin sedang menyiapkan dengan para tetangga yang mungkin sebentar lagi tiba.


"Sudah melihat handphonenya?"


Astaga! Alfa kau mengagetkanku saja. Hanum segera meraih ponselnya di saku. Lalu menatap dengan bulat apa saja yang ia lihat.


"Berarti kau sudah pernah masuk penjara?"


Alfa melirik Hanum lagi dan mengangguk.


"Penjara untuk anak itu berbeda dengan penjara untuk orang dewasa. Papaku mengeluarkan aku dari sana dan aku menceritakan permasalahannya kepada papaku!"


"Jadi Om Jhoni tau. Haah! Iya papamu kan sangat kaya, wajar jika papamu bisa mengeluarkanmu dengan mudah!"


"Kata papa, kasusku berbeda dengan mereka semua! Karena itu papaku bisa mengeluarkanku. Walaupun setelah itu aku harus mendapatkan beberapa treatment!"


"Maksudmu Alfa?"


"Ceritanya panjang. Nanti saja kalau aku lagi mood aku ceritakan padamu!"


Tadinya Alfa sudah ingin menutup pembicaraan tapi dia kembali menatap Hanum, ia masih tak ingin Hanum membeberkan permasalahan konfliknya pada Hanum di depan sang Mama.


"Tapi jangan ceritakan semua yang tadi aku ceritakan kepada mamaku ya!" Alfa lagi lagi mengingatkan.


"Jadi mamamu tidak tahu?"


Alfa menggelengkan kepalanya, "Kau boleh marah padaku! Kau boleh bersikap kurang baik padaku. Aku akan menegurmu saja seperti setiap kali kau berteriak di hadapanku. Tapi kalau pada mamaku, jangan sampai kau bicara terlalu tinggi. Aku tidak akan pernah bisa tahan untuk meredam semua emosiku kalau kau melakukan itu! Kau paham?"


'Dia ini meminta bantuan atau mengancam sih?' bingung Hanum.


Hanum pun mengangguk dan tidak berani melawan Alfa. Alarm di dalam dirinya sudah memperingatkan bahwa pria yang ada dihadapannya ini bukanlah pria biasa. Tapi Hanum tidak tahu Alfa ini orang yang seperti apa sehingga untuk sesaat dia memilih menahan diri dan tidak mengutarakan apapun.


"Dari kejadian itu papaku memintaku untuk menurunkan berat badan. Itu akan membuatku terhindar dari segala macam perundungan lagi!" Alfa kembali melanjutkan ceritanya pada Hanum walaupun tanpa diminta oleh Hanum.


"Kalau kau mau kau bisa juga untuk langsing permanen." ucap Alfa.


Lagi lagi Hanum dibuat kesal, perkataan Alfa selalu membuat hatinya sakit. Terkadang apa karna banyak beban yang ia tutupi pada sang mama. Sehingga bicaranya tak singkron dan terlihat ngaur meski Hanum harus merasakan sakit hati.


Sebenarnya tujuan Alfa menceritakan masalah ini karena dia ingin menunjukkan pada Hanum kalau dirinya dulu gendut. Tapi karena ada peristiwa di balik dietnya, Alfa jadi menceritakan semua kasus yang tadinya tidak ingin dibuka kepada siapapun oleh Alfa. Tapi Hanum segera menggelengkan kepalanya ketika mendengar ucapan Alfa.


"Aku tidak bisa melakukannya, aku tidak disiplin!" celetuk Hanum yang ingin pergi.


"Aku bisa membantumu!"


"Benarkah?" heran Hanum menatap Alfa.


Alfa mengangguk lagi "Bagaimana kalau kita mulai hari ini? Tapi sebelumnya, aku ingin memastikan sesuatu dulu padamu!"


"Apa?"


Hanum membulatkan matanya sedangkan Alfa sudah menatapnya tegas.


"Ehm ... papaku bilang aku bisa menceritakan masalahku kepada istriku semuanya. Tapi aku masih ragu padamu. Apa kau bisa menyimpan rahasiaku atau tidak. Makanya aku ingin kau berjanji padaku dan tidak menceritakan ceritaku tadi pada siapapun."


Alfa kembali memberikan penekanan lagi. Sehingga Hanum juga tidak berani menyinggung terlalu banyak. Hanum memilih mengangguk. Kehidupan Alfa seperti apa? Sebenarnya Hanum penasaran. Tapi mendengar ultimatum dari Alfa, ia tidak mau meributkan lagi masalah itu.


"Untuk masalah itu kau jangan khawatir, aku tidak akan menceritakannya pada siapapun!"


Senyum Alfa pun mengembang ketika mendengar ucapan dari Hanum. Lalu ia menahan tangan Hanum yang ingin pergi.


"Kau tidak jadi melakukannya, aku akan beritau loh?"


"Alfa. Apa otakmu sedikit tergeser, malam ini acara tahlilan. Singkirkan semua apa yang maunya kau mau selalu tercapai. Aku sedang berduka!" ketus Hanum melepas tangan Alfa.


Aah, Ya! maafkan aku Hanum. Aku lupa, aku tidak bermaksud.


Dengan kilat Hanum menghampiri Lisa. Lalu Lisa berbisik dan menyadarkan wajah Hanum yang sedikit sebal.


"Han, apa dia tamu kamu. Kakak kayak ga asing ya lihatnya?"


Hanum segera menoleh ke arah pintu. Ada raut wajah tajam kala Alfa juga ikut melihatnya. Alfa mencodongkan tubuhnya sejajar pada Hanum. Tapi di balik pria itu terlihat seseorang yang membuat semua mata terkejut. Dan itu pun membuat sorot mata Hanum pada Alfa.


"Kau mengundangnya?" lirih Hanum sehingga Alfa terdiam kaku.


To Be Continue!!