
"Cepat katakan apa maumu Ren! aku tidak punya banyak waktu!" ungkap Hanum.
"Cetus sekali, apa kamu tidak ijin dengan mertuamu. Jika kamu bertemu denganku? Hahaa, Hanum Hanum kamu tau gak? kamu itu wanita bodoh."
"Tidak penting, katakan apa maumu. Dan kembalikan kartu black milik Jhonson!"
"Apa? pa- pa. Papa mertuamu itu memang sudah seharusnya memberikan padaku. Kamu tau, kenapa aku bisa bersikap seperti ini. Aku ingin papa mertuamu itu yang paling kaya, akan habis dan segalanya punah! satu lagi, kamu tidak bisa memiliki Alfa selamanya. Selama ia ingat dengan aku Maoren, dia akan kembali padaku!"
"Mao-ren?" Hanum terpatah sedikit karna baru beberapa saat ia mendengar kala kedua mertuanya membicarakan.
"Kenapa bingung? tanya pada papa mertuamu. Sekalipun kamu menjelaskan. Dia pria tua bangka itu tidak akan berani padaku?!"
"Tidak mungkin. Kamu pasti membual kan?"
Hanum saat itu memang ijin ke toilet. Tapi sebenarnya ia bertemu dengan Irene di rooftop. Membuat Hanum kesal, karna Memakan banyak waktu.
"Ren! kamu mau berteriak pun. Ga akan terdengar orang lain selain gonggongan binatang di luar sana!" cetus Hanum emosi.
"Hahaa, ternyata wajahmu sangat lucu jika marah. Aku ingin tau, bagaimana bisa Alfa luluh baik padamu. Atau jangan jangan, setelah mendapatkanmu. Boom, dia ijin untuk menikahiku dan membuatmu ada dalam tekanannya. Hahaaa kasian sekali nasibmu Hanum? aku yakin, jika saat itu kakakmu yang menikah dengannya. Mungkin ia akan memilih berpisah. Tapi aku lihat kamu sudah cukup modis dan kurus. Aku tau, kamu jatuh cinta kan dengan lelaki ku?"
Irene mendekat kewajah Hanum. Menoel kulit pipi Hanum dari bawah telinga dengan sebuah bolpen. Hingga dimana Hanum menebasnya dengan sebuah bolpen. Saat ini pikiran Hanum terbagi, apa ia berterus terang saja pada papa mertuanya jika kartu black itu ada pada Irene. Tapi bagaimana dengan setelahnya? beban Hanum.
"Aku ingin bertemu denganmu, aku ingin kejujuran mu Irene. Apa saat Alfa bersamamu ia sering pingsan. Sakit di bagian kepala?"
"Hahaaa! pertanyaan macam apa itu? Dia sehat, jelas dia sakit karna tertekan olehmu Hanum. Dasarnya gendut, akan kembali gendut dan jelek. Aku yakin setelah nanti kamu terpedaya dan kamu hamil, pasti lebih jelek. Sulit untuk seperti ini?!" tawa Irene pecah.
Lagi lagi Hanum kembali menyesal, membuang waktu berdebat pada Irene. Kenyataannya ia salah bertemu dengan Irene saat ini. Dia tidak menjawab sesuai keinginannya. Yang Hanum dapatkan adalah body shaming dan hina tekanan.
Jujur saja Hanum bertemu Irene guna meminta kartu black papa mertuanya, agar tidak terlalu parah dia mendebit. Tapi jika ia jujur, maka Alfa akan di coret sebagai anaknya. Dan itu adalah delima Hanum yang tidak tega.
"Baiklah aku rasa cukup membuang waktu ya?" emosi Hanum dengan elegant, ia pergi menabrak bahu Irene dengan tatapan dan pandangan yang lurus.
Sementara Irene, ia menepuk dengan senyuman sambil berkata, masih membelakangi punggung. "Wow, hebat. Rupanya dia mau bertarung denganku? kita lihat Hanum. Aku atau kamu yang menang." lirih Irene.
Hanum yang seolah turun dari tangga, ia segera cepat ke lantai dimana Alfa berada di ruang Igd. Sehingga tidak membutuhkan lama, ia pergi ke toilet demi mengatur nafas dan membasuh wajahnya.
Kini Hanum juga mendapat pesan dari Fawaz. Hal itu juga membuat Hanum mengabaikan, karna pikirannya semakin banyak dan ia tak berani bicara pada Lisa. Hanum takut akan menjadi beban bagi kakaknya itu.
Hanum segera mendekat ke arah kedua mertuanya kala dokter keluar. Hanum dengan perasaan berdebar ia segera ingin tau dan berteriak Halus.
"Mah. Pah! bagaimana kondisi Alfa? Dokter apa yang terjadi pada suami saya."
Hal itu membuat tatapan Fawaz, yang berusaha menghampiri Igd di ruangan teratai. Ia mendengar Hanum berbicara suami saya? patah hati Fawaz. Ia segera menutup wajahnya dengan berkas, saat ke loker melewati ruangan dimana Hanum berdiri saat ini. Melewati kedua paman dan bibinya. Serta Hanum yang seperti khawatir pada Alfa.
'Benar, kamu tidak meresponku Hanum. Ini arti akhir dari hubungan kita. Tidak lagi ada persahabatan, atau harapan impian kita.' batin Fawaz melewati ketiga orang yang masih ada hubungan dengannya.
"Han, kamu tenang ya! dokter akan memeriksa Alfa lebih lanjut. Mama yakin, kamu dan Alfa akan baik baik saja dan selalu bersama."
'Bersama apa mungkin?'
"Ya mah. Tapi Hanum ingin tau, apa yang terjadi dengan Alfa sebenarnya. Hanum minta maaf, telah membuat Alfa pingsan tadi!"
Hanum dan Maria mengangguk, ia saling menggenggam tangan. Hingga Jhoni berada diruang ahli bedah otak.
"Silahkan duduk pak!"
"Begini, baru diagnosa kami sebagai tim medis. Tapi sebelum saya menyimpulkan. Saya harus memeriksa dengan Ct Scan. Apa bapak bersedia, tanda tangani?" tanya dokter Steven ahli bedah otak dan tulang.
"Ct Scan apa itu dokter? sebelumnya keluarga kami baik baik saja. Tidak ada yang perlu dicek, putra saya pasti baik baik saja!" elak Jhoni.
"Begini pak! kami baru menyatakan kemungkinan, maka dari itu kami harus lebih teliti secara rinci. Apakah penyebabnya dari syaraf kejepit karna darah beku atau gejala meningitis. Apa sebelumnya pernah kecelakaan?"
"Apa..?" sesak Jhoni tidak menjawab, ketika dokter menjelaskan derita kemungkinan sakit Alfa. Juga menjelaskan mengapa perlu memeriksa secara rinci dengan Ct Scan.
Alat ini dapat digunakan untuk mendiagnosis dan memonitor beragam kondisi kesehatan. Kami dapat merekomendasikan pemeriksaan CT scan untuk kondisi tertentu, seperti memperoleh diagnosis kelainan otot dan tulang, seperti tumor atau keretakan pada tulang. Menentukan lokasi tumor, infeksi, atau bekuan darah. Jelas dokter Steven pada Jhoni Jhonson agar mengerti.
\*\*\*
Hanum yang masih menunggu keadaan Alfa yang belum sadar. Karna beberapa saat ini, Alfa telah di pindahkan ke ruangan intensif. Mama mertuanya mendampingi putranya. Sehingga Hanum pamit keluar sebentar. Hanum duduk di luar, memikirkan banyak tekanan dan pikiran apa yang harus ia putuskan.
Tak lama Hanum menoleh ia melihat Fawaz. Hanum tersenyum, juga segera berdiri dan menghampirinya.
Dokter Fawaz, Dokter!! Teriak Hanum, tapi Fawaz tetap lurus berbicara dengan suster.
Hanum sekali lagi mendekat, lalu menepi di loket penjaga suster. Yang saat itu Fawaz berdiri sudah tak lagi mengobrol. Hanya mengecek sebuah berkas hitam, mungkin data pasein.
'Kebetulan ada Fawaz. Aku minta tolongnya saja. Mungkin dia mau bantu, sekaligus aku mau bicara soal komitmen.' batin Hanum.
"Dokter Fawaz. Sepertinya anda sibuk, apa punya waktu setelah pulang dinas merawat pasein?" senyum Hanum.
"Anda berbicara dengan saya bu? Maaf! saya full shift. Beberapa hari ini dan kedepannya saya sibuk. Jadi maafkan saya akan fokus pada pasein." senyum pahit Fawaz ia pamit dan pergi begitu saja. Meninggalkan Hanum yang terdiam dengan sikap aneh Fawaz.
Begitukah? Hanum juga melihat suster susi yang ia kenal. Sekaligus asisten Fawaz, Hanum menghampiri dan bertanya pada susi.
"Suster susi, boleh saya bicara sebentar?" teriak halus Hanum memanggil.
"Owh. Bu Hanum, ada apa bu. Jika tidak berat saya akan jawab?!"
"Oh begitu, eeeumh. Begini apa dokter Fawaz akhir akhir ini sibuk sampai pagi. Terus minggu ini super padat, atau ada jadwal keluar negeri panggilan gitu?"
"Owh. Soal pak dokter. Pak Fawaz besok jadwal cuti, dan lusa hingga minggu depan hanya dinas pagi saja bu. Jadwal bulan ini tidak ada keluar negeri yang saya tau." jelasnya.
"Ada lagi bu Hanum?" tanya lagi suster Susi.
"Baiklah. Makasih ya sus."
Hanum pergi, ia berjalan dengan tatapan kosong. Hingga dimana ia duduk ditaman seorang diri. Tidak biasanya Fawaz bersikap aneh padanya ketika bertemu.
**To Be Continue**!!