
"Kami, baru mengenalnya tadi kok tante." senyum Hanum, lalu menautkan mata tajam pada pria itu. Hanum akan mencari cara untuk membalas perlakuan Alfa padanya. Sehingga ia kembali duduk kepangkuan dan nimbrung bersama kedua orangtuanya.
Hal itu sontag membuat Alfa cengingis pada wanita gendut jelek. Menikah baginya hanya sebatas ktp, mungkin dengan mudah Alfa akan mengendalikan wanita gendut untuk tutup mulut.
Tapi dalam jeritan Hanum, sikap pria itu. Akan membuat dirinya membalas sesuatu yang sakit dan hancur pada pria itu sebagai pembalasan.
Hanum kembali pamit, ia menumpang ke toilet. Sehingga ia sedikit menghindar dari pria yang membuat ia kesal, dan mungkin juga dalam masalah. Bagaimana tidak, ia bicara akan menuntut dirinya jika ia berani bicara. Hal itu juga, papa akan tau jika dirinya telah di rusak.
'Jadi papa menjodohkan ka Lisa dengan pria itu. Tidak mungkin, kenapa harus terjebak seperti ini sih?'
Sementara Hanum melihat dari bilik tembok, ia sedikit ragu untuk menghampiri. Andai saja ada pintu untuk membuka dirinya tembus pulang kerumahnya. Sudah pasti Hanum lakukan untuk pergi saja saat ini. Tapi tidak, ia kembali menyalami kedua orangtua itu yakni paman Jhoni dan sang istri. Setelah pria itu menerima panggilan dan berlalu keluar. Hanum sedikit lega, ia berharap dirinya tak dikenali dan hanya mendengarkan pembicaraan papa dan paman Jhoni.
"Mengapa putri bungsumu Armand?" tanya Jhoni.
"Aah! itu masalahnya, Lisa sudah mempunyai kekasih dan telah bertunangan. Bahkan aku baru saja tau, setelah ia pulang. Jadi saya minta maaf dan hanya putri sulungku saja. Ini adalah Hanum." Armand mengenalkan putrinya.
"Kenapa begitu?" tanya Jhoni menatap sinis.
Alhasil Armand menceritakan perdebatannya dengan putri sulungnya. Memang selama ini ia tak pernah damai dan sama sama keras kepala, tapi kali ini semua ucapan papanya membuat Hanum ingat. Ingat kata kata ka Lisa dan papa saat bertengkar, kala dirinya baru saja pulang. Dan hal itu ingin Hanum jelaskan jika paman Jhoni marah alih alih menyalahkan papa.
FLASHBACK TADI PAGI.
Hanum ingat perkataan tajam ka Lisa pada kedua orangtua nya kala tak ingin di jodohkan. Lisa begitu menolak secara mentah mentah dan suara yang lantang.
"Kalau begitu kenapa dulu kalian tidak membiarkan aku mati saja! Jadi kalian tidak usah berhutang budi!" saat ini dengan ketus Lisa menimpali papanya, sementara Hanum hanya sesak kala melihatnya.
"Kau mau kemana Lisa? Pembicaraan kita belum selesai!" Armand memekik, meninggikan suaranya ketika melihat putrinya ingin mendorong koper. Lisa baru saja tiba dari paris dan pembicaraan ini sudah dimulai sebelum dia menaruh koper di dalam kamarnya.
"Papa, kau menyuruhku untuk pulang tujuannya hanya untuk menikahkan aku dengan pria itu! Aku tidak mau! Aku akan kembali ke paris!"
"Dan aku tidak akan mensupport satu rupiah pun untukmu di Paris!"
"Papa!" Lisa memanggil papanya dan menatap nanar pada Armand.
"Aku bukan pengemis! Aku akan hidup di paris dengan caraku sendiri. Papa lupa aku sudah jadi selebgram. Papa jangan berpikir kalau kau tidak menghidupiku maka aku tidak akan bisa hidup sendiri! Satu hal lagi yang harus aku ingatkan, jangan campuri urusanku!" mendengar ucapan Lisa, Hanum bukan ciut nyalinya malah semakin takut papa terkena serangan jantung.
"Lisa kenapa kau bicara kasar sekali?" tanya Rita mencoba untuk mengajak diskusi anaknya dan menenangkan suasana tapi Lisa putri sulungnya tetap keras kepala.
"Aku tidak akan bicara seperti ini kalau aku tidak dipaksa, Mama!"
"Aku memaksa demi kebaikanmu sendiri! Putra sahabatku adalah lulusan terbaik University! Dari kecil dia sudah sangat hebat sekali membuat konsol game! Kau memiliki masa depan yang baik dengannya, Lisa!"
'Haduh, ga ada titik terang ini!' Armand juga masih bersikeras, hal ini membuat Hanum semakin cemas, melihat keributan antara papa dan kakaknya juga mamanya yang terlihat tak berdaya, hati Hanum semakin sedih.
Hanum paham betul alasan Lisa menolak pernikahan itu. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Membujuk papanya? Armand memang keras jika sudah memutuskan sesuatu dan tidak bisa lagi merubah keputusannya dengan mudah.
Apalagi Hanum memang tahu persis kalau yang ingin dijodohkan adalah anak sahabat dekat papanya. Sayangnya, Hanum juga belum tahu bagaimana wajahnya dan sikapnya karena mereka memang belum pernah bertemu selama ini. Hanum makin pening melihat perseteruan yang tidak pernah berakhir itu. 'Hmm .. bisakah dengan cara itu?' tapi tiba tiba saja ada sebuah pikiran di kepalanya yang membuat Hanum tersenyum.
"Aku tetap menolak, aku tidak mau, Papa!" pekik Lisa
"Kak Lisa!" Hanum menyelak. Dia tak tahan lagi mendengar keributan orang tuanya dengan kakaknya. Lisa langsung berjalan mendekat.
"Hey Hanum! kau sudah pulang?" tanya Rita sambil menghapus air matanya.
"Aku baru sampai rumah, Mama! Aku baru menyelesaikan magang di hari terakhirku. Magang untuk keperluan kelulusanku!" ucap Hanum sambil berjalan mendekat pada mamanya lalu memeluk mama, papa, dan kakaknya. Ini memang kebiasaan Hanum kalau pulang ke rumah, pasti bermanja dengan semua anggota keluarganya.
"Jadi hari ini hari terakhirmu?" tanya Lisa.
"Ya! benar kak."
"Maafkan aku ya! Aku tidak bisa menemanimu lama lama! Aku akan kembali ke paris sekarang juga." Tidak meladeni permohonan Hanum tadi, malah kata kata itulah yang terlontar dari Lisa.
"Kak Lisa aku masih sangat merindukanmu! Kenapa kau tega sekali pada aku?" Mama Rita pun ikutan membujuk mencoba menahan putrinya.
"Aku tetap tidak akan tinggal di sini Mama, sebelum Papa merubah keputusannya!"
"Aku tidak akan merubah keputusanku, Lisa!" Armand masih menolak.
"Papa, kalau begitu kau akan menjerumuskanku! Aku tidak mencintainya dan aku tetap tidak akan menikah!" pinta Lisa memohon.
BEGITULAH ARMAND MENJELASKAN.
***
"Jadi ini penjelasan mu Armand, aaakh! aku merasa sakit hati." ujar paman Jhoni.
"Paman, perkataan papa ada benarnya. Aku dan kami kesini karna aku berniat menggantikan posisi ka Lisa. Semuanya terserah paman dan tante saja. Setidaknya demi janji papa, dan demi kasih sayangku pada kak Lisa untuk tidak bersedih karna ia tak ingin di jodohkan." mata sendu tangis Hanum memohon.
Sementara Jhoni dan istrinya mengangkat tangan, lalu berbisik seolah Hanum yakin semua akan batal. Dan kini mereka pasti sedang mencibirnya meski berbisik.
Hanum yakin mereka mempermasalahkan penampilanku yang jelek rupa ini. Dengan berdebar ia menatap sang mama karna gugup.
"Hello paman! aku Alfa Jhonson. Siapa ini?" tanya pemuda itu membuat Hanum terbelalak saling menautkan pandangannya, karna pria itu kembali bergabung setelah mengangkat telepon.
To Be Continue!!