BAD WIFE

BAD WIFE
PRAMUGARI NAKAL



Syok! saat Hanum berada di sebuah awak pesawat. Hingga ia mengambil sesuatu agar dirinya terlepas dari ikatan Alfa. Belum lagi tindakan semena mena pada fisiknya, dan bermain wanita di hadapannya.


'Gila! semoga setelah aku melakukan sesuatu, kau akan menyesal Alfa!' gumam dalam hati.


Hanum masih merasa gila, apa yang ia lihat sangat benar benar membuatnya tak masuk akal. Bisa bisanya ia jadi istri, tapi di perlakukan sebelah mata.


'Tidak Hanum, kamu harus bertahan. Apa yang kamu lihat, tidak perlu kamu ingat dalam pikiranmu. Semua akan baik baik saja, semua pasti akan segera berakhir. Pria gila itu hanya suami kontrakmu. Dia tidak benar benar suamiku.'


Kali ini Hanum berusaha untuk menenangkan dirinya tapi bukannya tenang, Hanum malah semakin bergetar tangannya dan berkeringat dingin basah.


Beberapa saat telah berlalu tapi Hanum masih tetap merasakan tangan yang basah ketika pesawat lepas landas, dengan detak jantungnya yang tak seimbang, lalu pikiran tentang dirinya bersama Alfa di dalam kamar hotel itu pun terngiang kembali bertubrukan dengan pikiran yang baru dilihatnya ketika Alfa bersama dengan pramugari tadi. Hampir saja itu membuatnya gila.


Jujur saja saat ini Hanum berada di awak pesawat vvip yang memiliki keistimewaan kamar mirip hotel. Benar saja, saat Hanum mencari Alfa ia telah masuk dan bercumbu dengan pramugari tadi. Sehingga ia kembali dan duduk dengan berusaha merefresh pikirannya tak mengingat. Kini ia hanya berdiri tak jauh dari dinding kamar yang Alfa masuk tadi.


"Sedang apa kau di sini?" suara Alfa tinggi.


"Hhh!" Ucapan yang membuat Hanum kaget, lalu menengok pada asal suara yang sudah melangkahkan kakinya menghampiri tempat duduk dihadapan Hanum, duduk disana menatap Hanum.


"Ah, tidak! Aku sedang melihat pemandangan di luar! Kenapa memangnya?" ujar Hanum berusaha untuk mengendalikan dirinya dan tidak terlihat nervous.


'Lihatlah bajunya sudah berantakan, dia sudah tidak lagi memakai dasi dan warna merah lipstik itu juga masih ada di lehernya. Ah, menjijikan! Orang ini mau apa lagi duduk dihadapanku sekarang? Pamer, Kenapa dia tidak pergi saja sih dengan wanita tadi?'


Hanum ngedumel sendiri di dalam hatinya, tapi dia masih berusaha untuk mengendalikan dirinya.


"Kau seperti badut!" Dan tiba tiba saja Alfa bicara begitu.


"Kau menyindirku?"


"Emang kenyataannya begitu!"


"Kau, kenapa selalu begitu sih!" Hanum sudah melotot menatap Alfa yang terhuyung.


"Aku bicara sejujurnya! Riasanmu sudah hampir berantakan dan rambutmu juga sudah berantakan! Makanya aku bilang kau terlihat seperti badut. Kenapa tidak masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaianmu? Memang kau pikir kita masih ada di resepsi pernikahan?"


Hanum lalu melihat ke arah pakaiannya dan menahan semua rasa malunya. Ada ada saja yang dikatakan Alfa yang membuat wajah Hanum kembali selalu memerah.


'Benar juga!' Dan Hanum pun meringis. Penampilannya jauh sekali dengan pramugari tadi yang tampil sangat menawan.


"Apa yang kau pikirkan? Cepat ganti pakaian!" ujar Alfa lagi.


Tapi.. "Aku tidak membawa baju ganti. Aku belum menyiapkan apapun!" Hanum menjawab jujur dengan wajahnya yang kini memelas.


"Dasar bodoh! Semua sudah tersedia di dalam kamar kita. Kau bisa mengganti pakaianmu sekarang. Bahkan lingerie seukuran tubuhmu pun ada disana!"


Glek! 'Gila! Apa mama yang menyiapkan itu untukku? Kenapa harus pakai lingerie? Aku juga nggak akan mau disentuh sama dia! Hiks apa memang yang ingin aku tunjukkan dengan lingerie itu pada Alfa dengan postur tubuhku?'


Itu yang dipikirkan oleh Hanum, pikirannya sudah travelling ke mana mana dan pipinya pun sudah bersemu merah ketika mendengar ungkapan Alfa.


"Permisi Tuan!" ucapan seorang wanita yang membuat kepala Hanum semakin pening.


'Ini pramugari yang tadi! Kenapa sekarang dia malah memakai atasan bawahan dua pieces gitu? Dan aduh apa dia pikir pesawat ini pinggir pantai?'


Hanum sakit kepala sendiri melihat wanita yang sedang datang mendekat padanya dan Alfa, hanya memakai atasan untuk penyangga dua gunungnya dan satu penutup segitiga bawahnya, hanya saja belakangnya cuma tali. Dan nyempil diantara dua gundukan belakang.


"Ini makanan malam untukku?" tanya Alfa.


"Ya Tuan silakan! Sesuai dengan selera Anda!"


"Dan ini minumannya, Tuan!"


'Gila! Semua pramugari di sini sudah mengganti pakaiannya menjadi pakaian yang sama, kah? Aduh! sakit perutku melihatnya, mataku udah ternodai!' batin Hanum karna pertama kalinya ia naik pesawat dengan fasilitas aneh baginya.


Itulah yang dikatakan oleh Hanum dalam hatinya sambil terus terusan menelan salivanya sampai tidak ada lagi saliva yang bisa ditelannya.


"Aku suka melihat pemandangannya kalau kalian memakai pakaian seperti ini. Karena membuat mataku tidak sepet!" Alfa tersenyum.


"Kemari sebentar!" lalu Alfa memanggil seorang wanita yang baru saja menaruh minumannya mendekat.


"Iya Tuan!"


"Coba aku ingin pegang itu!" Wanita itu pun dengan sukarela dia sedikit membungkukkan tubuhnya dan menaruh tangannya di lutut sehingga posisinya membungkuk, tepat di tengah antar Alfa dan Hanum, pas dekat meja.


"Punyamu yang ini kenyalnya sempurna! Ini bagus!"


Alfa menaruh kedua tangannya di kedua gunung wanita itu tanpa malu malu di hadapan Hanum yang membuat melotot. Alfa bahkan tidak menatap kearah Hanum.


'Haaaks! Dia menyentuh seperti mainan slime! Memijat mijat begitu dan wanita itu mau aja? Ah, gila aku! Aku menikah dengan orang macam apa sih ya? Ibunya baik sekali! Papanya juga peduli banget padaku! Tapi anaknya gak waras! Parah ini! Pantas dia memintaku untuk tidak menceritakan apa yang terjadi dengan pernikahan kami pada siapapun! tapi meski aku menolak, aku juga telah rugi karna kegadisanku telah di renggut. Dilematis yang Hanum rasakan saat ini.


Itulah yang dikatakan oleh Hanum di hatinya. Hanum yang mengenal keluarga Alfa sungguh tidak menyangka bahwa perlakuan putra Jhonson akan seburuk itu. Apalagi dia juga berteman dengan sepupu Alfa.


'Satu adiknya terlihat baik baik semua, tapi kenapa kakaknya gini sih? Anak pungut bukan si dia?' Itu yang terlintas di benak Hanum.


Saat ini Hanum tak bergerak. Dia diam di tempat duduknya menyaksikan perbuatan Alfa, seakan terhipnotis sehingga pandangan matanya justru memandang tangan Alfa yang merogoh benda pramugari dan Hanum bukannya pergi untuk mengganti pakaian seperti rencananya tadi. Dengan bodohnya malah semakin serius memperhatikan yang dilakukan Alfa dan sedikit membuka mulutnya, terperangah gila.


"Hei gendut, kenapa membuka mulutmu lebar?! Kau tidak dengar tadi aku menyuruhmu mengganti pakaian?" sinis Alfa yang tau Hanum masih terdiam.


Dengan gercap, Hanum segera bangkit dengan posturnya yang gempal, tapi masih gemetar tak percaya.


'Apa putra terkaya akan berlaku begitu menjijikan, seperti Alfa Jhonson?' benak Hanum dengan kepala yang sakit, hati yang sakit dan jiwa yang remuk saat ini.


To Be Continue!!


Yuks!! jejaknya. Karya ini sedang ikut kontes Lomba Mengubah Takdir. Mohon dukungannya. Untuk visual, di tunggu sebentar lagi ya All.