
"Kamu ngomong apa sih, sekarang kaka mau hangatkan lauk. Kita makan bareng ya!"
Hanum menarik tangan Lisa, ia menatap sendu pada wajah sang kakak. Hanum jelas tau bagaimana Lisa menyembunyikan sesuatu darinya. Jika ia menyukai seseorang, rautnya terlihat berbeda.
"Apa lagi Han?"
"Kak! aku jelas tau, jika kakak suka sama Fawaz. Lagi pula dia memang sahabatku, tapi usianya seumuran bukan dengan kak Lisa?"
"Hanum, kakak ga suka sama Fawaz. Kamu tau kan kakak lagi dekat sama Rehan."
"Rehan. Kan tadi kakak bilang sama bi Surti ga mau temuin. Kaka nasehatin aku jangan ada yang disembunyiin, tapi kaka sendiri?"
Lisa menggeleng kepala, lalu senyum seolah benar ia tak menyembunyikan sesuatu. Lisa mengangkat ponselnya, terlihat dering sang Mama.
"Dek! kaka nitip ikan di oven ya. Matiin kalau udah bunyi! mama hubungin kaka nih."
Hanum mengangguk, jelas terlihat jika Lisa selalu saja mengelak. Hingga dimana Hanum kembali melihat layar pesan di notif ponselnya. Hanum mengingat kala Alfa benar benar mengirim pesan manis untuknya. Sudah delapan kali panggilan dari Alfa, tapi Hanum menonaktifkan demi menumbuhkan rasa percaya jika Alfa benar berubah padanya.
Hanum masih ingat kala Alfa berjanji untuk merubah sikapnya. Meminta maaf atas prilaku kasarnya. Tapi saat itu Hanum berjanji akan memutuskan hubungannya dengan Alfa dan berkomitmen. Tapi melihat Lisa, Hanum mengerti saat pertama kali Lisa memandang mata Fawaz.
"Kenapa cinta adik dan kakak begitu rumit?" lirih Hanum.
TLING!
Tiba saja suara oven, Hanum mengambil sarung tangan. Lalu meletakannya di meja makan. Setelah menyiapkan, ia melihat Lisa kembali.
"Han, mama sering di rumah eyang. Eyang sakit parah, lagi pula rumah ini itu banyak kenangan dengan papa. Mungkin karna itu mama jarang di rumah."
"Kita coba buat surprise mama gimana. Ka Lisa mau ga?"
Lisa dan Hanum mengangguk, hingga dimana saat mereka makan bersama. Suara ketukan pintu membuat mata Hanum dan Lisa saling menatap.
"Kaka undang tamu, gebetan kaka ya?" tapi Lisa diam menggeleng, ia tak menjawab karna masih mengunyah sup ikan.
Bi Surti datang, ia berkata jika pria bernama Fawaz datang mencari Hanum. Lisa yang sedang menyuap sup, ia sedikit tersedak dan membuat Hanum menatap tingkah Lisa yang jelas saja tadi mengelak, tak menyukai Fawaz.
"Suruh masuk aja bi!" pinta Hanum.
Lisa menundukan wajah, ia segera kedapur dengan alasan ingin menghangatkan cake lebih lagi. Lalu Hanum menghampiri Fawaz di ruang tamu.
"Hai! Han, kamu udah mau tidur ya. Aku bawain buah manggis kesukaanmu lagi."
"Makasih, kamu tuh ya. Udah dinas harusnya kamu pulang. Jangan sampai dokter sakit, kalau pasein sakit bisa di sembuhin sama dokter. Kalau kamu dokter, gimana?" lirih Hanum duduk meletakkan teh hangat.
"Kalau dokter Fawaz sakit, biasanya temuin Hanum lalu sembuh."
Hal itu membuat mereka tertawa, tapi Hanum melihat Lisa yang sedari tadi mundar mandir terlihat di pintu dapur yang menatap arah ruang tamu.
***
BANDARA.
Alfa memandang foto mungil Hanum. Dia merasakan kekesalan di dalam hatinya. Karna Fawaz melakukan apapun demi Hanum, jelas jelas ia telah membuat sinyal untuk berkomitmen dan membahagiakan Hanum. Tapi Hanum masih saja menghindar dan acuh. Bahkan meneleponnya saja, Hanum tak mengangkatnya.
'Hanum, aku memang pria yang terlalu kasar padamu. Tapi beri aku kesempatan, untuk menebus dirimu bahagia.' batin Alfa.
Tapi lagi lagi Irene datang, ia ingin memeluk Alfa dari belakang. Namun Elmo yang cekat, ia segera menarik tubuh Irene agar tak mengganggu Alfa putra Jhonson.
"Elmo, kau ini apa sih mau mu. Bisa tidak menggangguku?"
"Apa, dasar asisten sinting. Kamu pikir siapa bisa larang aku?" lirih Irene acuh.
Irene berusaha melewati tubuh Elmo, namun pria itu menyangga tangan hingga membentur halus tubuh Irene ke arah tembok, dengan berputar seolah sedang menari.
"Aaach. Lepasin gak!" sinis Irene menatap.
Tak lama Elmo menyentuh ranum yang baru dilabuhkan. Irene terngiang ngiang di kepala akan kilatnya aksi Elmo. Wajah Irene langsung memerah dan tersipu malu sambil menahan amarah.
"Lo dasar asisten gak tahu malu!”
Elmo mengangkat sudut bibirnya dan tersenyum jahat, "Jika kamu ingin melakukan transaksi bisnis, maka tunjukkan ketulusanmu! jangan lagi mengganggu Alfa Jhonson!"
Irene merasa sangat marah. Dia tidak memperdulikan semuanya dan bersiap untuk pergi. Tapi, Elmo berkata dengan suara dingin.
"Kamu yakin sudah tidak mau penjelasan ini?"
Irene mengepalkan tangannya dan berhenti di tempat. Hatinya terasa sangat marah dan serba salah. Irene menolehkan kepalanya dan berkata.
"Elmo, kamu sudah keterlaluan berani menyentuhku."
"Ok! Aku akan lakukan seperti yang kamu inginkan."
Irene melangkah maju satu langkah dengan cepat, Hingga menempel dan kemudian menarik dasi Elmo. Melabuhkan suatu tamparan untuk Elmo.
"Eeiiits. Tidak sopan sayang, aku akan melihat apakah dirimu kembali mual denganku. Nak, jika kamu ada dan hamil. Katakan ya!!" mengelus perut Irene, meski ia sedang bergusar melepaskan diri dari cengkraman tangan kokoh Elmo.
"Tidak ada yang hamil, kau pasti di suruh pria bangkotan itu, agar mematai aku. Berusaha memisahkan aku dengan Alfa kan?" ketus Irene, namun Elmo hanya terdiam menahan tangan Irene yang ingin menamparnya.
***
Kediaman Hanum.
"Kapan kamu bicara dengan Alfa dan keluarga Han?" tanya Fawaz.
"Aku belum tau, aku bingung soal perasaan ini Fawaz. Jika aku melanjutkan, ada baiknya kita tetap tidak bersama."
"Kenapa Han, aku bahkan menerima kamu dan bayimu. Jangan patahkan semangat dan ketulusan aku Han. Aku sanggup menunggumu, asalkan kamu juga berjuang!"
"Terlalu cinta pada manusia sangat sakit, tapi cinta pada ke esaannya pasti tak akan pernah di hampakan. Itu yang aku sedang tata Fawaz, sekalipun jodohmu dengan orang lain atau orang terdekatku. Aku ikhlas." senyum Hanum.
Fawaz tak mengerti saat ini Hanum benar benar merubah kisah mereka. Fawaz meminta penjelasan detail, apakah ada campur tangan orang lain yang membuat hati Hanum gelisah dan gundah serta mundur.
"Katakan sama aku Han, apa ada orang lain yang buat kamu kaya gini sama aku?"
"Kaya gini gimana, aku bicara secara logika. Kita sulit bersama, pasti lama lama Alfa akan tau bayi ini. Bukankah kita berharap yang terbaik untuk hubungan kita tetap indah meski hanya sahabat."
Meooong!!
Lihatlah anak kucing yang marah ini menggigit bibir. Dia menggigit dan menggerogoti seperti sedang melampiaskan amarah. Semua itu karna ia kehilangan induknya, maka ia tetap tinggal di rumah ini untuk mencari arah kelanjutan hidupnya kelak. Hanum menggendong bayi kucing peliharaannya.
"Begitu pun aku, Fawaz. Jika aku benar berpisah dari Alfa. Aku akan melanjutkan hidupku, aku ingin pergi sejauh mungkin untuk menyembuhkan luka."
Saat Fawaz sedang menatap puggung Hanum, benar saja seseorang datang membuat Hanum juga terkejut akan tamu yang datang.
To Be Continue!!
Hayo, ada yang tau siapa? Jejak yuk!