
"Tidak mungkin jika putri Rita, menggugat anak kita hanya karna sebuah cinta yang pudar, tak mencintai Alfa." elak Maria.
"Kenyataannya seperti itu, sudahlah sayang. Biarkan urusan perpisahan putra kita. Alfa yang selesaikan, kita tidak berhak ikut campur untuk Hanum mengurungkannya. Aku sudah membencinya." jelas Jhoni.
"Atas dasar apa?"
"Hanum pencuri, dia mencuri banyak aset rumah. Kartu black juga masih di ambil, aku sudah blokir. Maka dari itu aku ambil perusahaan satu satunya milik Armand."
"Tidak mungkin, Rita dan kedua putrinya tidak gila harta. Aku tau persis dia Jhon, katakan semuanya yang jujur padaku. Apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa kalian beri banyak pengawal bahkan Hanum tak di ijinkan bertemu denganku?"
Jhoni tetap mengelak, ia masih berusaha mempengaruhi Maria untuk membenci Hanum bahkan Lisa serta Rita, sahabat lamanya karna sebuah asmaranya dengan putranya diketahui Hanum. Terlebih Hanum tidak bisa mempertahankan menjadi menantu Jhonson, menyingkirkan wanita bernama Irene diam diam tanpa Alfa tau.
Karna permintaan Jhoni di tolak mentah mentah oleh Hanum, hal itulah membuat Jhoni mempunyai rencana agar Hanum malang.
Tidak cukup melihat Rita dan putri sulungnya tak bisa mencari pencaharian demi kelangsungan hidup. Itu adalah hal tersenang bagi Jhoni untuk dendam karna tak berani tunduk pada perintahnya.
Sementara Alfa yang tak jauh duduk, melihat kedua orangtuanya berdebat, ia hanya diam membisu, tak bisa menjelaskan yang sebenarnya. Dilema Alfa adalah jika ia berkata jujur, maka Maria sang mama akan mengulik siapa identitas Irene dan kenapa ia melakukan hal tega padanya, hal itu juga membuat Alfa tak ingin kehilangan sang mama, demi menutupi aib sang papa dan dirinya di masa lalu.
"Alfa, katakan semuanya pada mama. Jika yang dikatakan papamu tidak benar nak!"
"Heuum! mah, istirahatlah. Aku akan menemui Hanum, dan melakukan pertemuan sebelum mediasi."
Berbeda hal dengan Hanum.
Hanum meminta Lisa tidak memberi tau Fawaz, akan masalahnya. Terus terang Hanum sudah mempunyai rencana matang, ia yakin Lisa menyukai Fawaz. Maka hal lain adalah pergi dari kehidupan pria yang pernah singgah dan menjadi status dekat dengannya.
Akan tetapi ponsel Hanum bergetar, Alfa mengirim pesan dan meminta Hanum datang ke lokasi cafe dekat makam sang papa. Tanpa basa basi, Hanum segera pamit pada sang mama dan Lisa.
"Mah, Kak. Hanum ada urusan sebentar, Hanum pamit ya!"
"Han, kaka antar ya?"
"Ga usah kak, aku cuma sebentar aja kok ketemu mbak Nazim." senyum Hanum, agar Lisa dan sang mama tidak cemas.
***
Cafe Loji.
Fawaz sudah tiba di tempat tujuannya, ia memarkirkan mobilnya sembari menatap ke arah sekitar.
Fawaz mencari keberadaan Alfa. Namun, sepertinya Alfa belum tiba karena mobil Alfa tidak terlihat di sekitar lobi basement.
“Ke mana Alfa?” tanya Fawaz.
“Kenapa dia belum sampai?” kembali bertanya sendirian.
“Dasar lambat! sudah jam segini, Alfa masih belum datang? sungguh keterlaluan!” gerutu Fawaz.
Fawaz mengambil ponselnya dan menelepon Alfa, tetapi Alfa tidak mengangkat panggilan teleponnya dan membuat dirinya semakin kesal.
“Dasar iblis! dia benar benar tidak berguna, hanya bisa mengacaukan kesibukan saja." gerutu Fawaz.
Fawaz benar benar sudah muak dengan Alfa, ia tidak peduli dengan statusnya. Alfa memang sepupunya, tetapi sikap Alfa yang kekanak kanakan membuat orang orang muak dengan tingkah semena menanya.
'Aku akan menunggu sebentar lagi,' batin Fawaz.
Fawaz mengambil salah satu karya blog kedokteran yang sudah terbit cetak, ia ingin mengulas dan mengetahui kekurangan yang berada di dalam karyanya. Ia berusaha mencari kursi taman, hingga dimana Fawaz terkejut karna bertabrakan dengan Hanum yang menunduk berjalan tak berhati hati.
"Auuw." pekik Hanum terjatuh.
"Fawaz. Aku, a- aku janjian dengan Alfa." lirih Hanum suara mengecil.
Alfa? apa ada hubungannya juga dengan pertemuan dirinya dengan Alfa. Tapi kenapa melibatkan dengan Hanum. Apa yang sebenarnya terjadi. Benak Fawaz ikut terdiam masih menatap Hanum, tapi pikirannya bercabang.
Fawaz masih menunggu Alfa walaupun hari sudah menjelang petang, tetapi ia tetap sabar menunggu Alfa. Hingga sampailah ia bertemu Hanum wanita yang ia jaga jarak, karna hatinya semakin melihat Hanum akan bertambah rasa sayang dan pedulinya.
"Fawaz, kamu ga apa apa?"
“Sudah satu jam aku menunggu, tapi Alfa masih belum sampai juga,” balasnya.
Fawaz menatap ke arah lain, agar dirinya dapat menghirup udara luar walaupun matahari begitu terik, tetapi cahaya matahari mampu menenangkan hatinya.
Fawaz menghela napas sembari memejamkan mata, ia teringat dengan kenangan kenangan indah saat bersama Hanum di dekatnya.
“Seandainya, aku memiliki mesin waktu ...” ucap Fawaz di samping Hanum.
'Andai aku tak menikah dengan Alfa, aku pasti akan kembali ke masa terindahku.' batin Hanum.
Fawaz membuka matanya lalu, menatap ke arah langit. Fawaz semakin larut dengan lamunannya, dirinya penasaran dengan kabar Hanum saat ini.
Fawaz terus terbayang bayang dengan sosok sahabatnya hingga ia tidak menyadari jika Alfa sudah tiba di tempat tersebut.
“Fawaz, where are you?” Terdengar suara seorang laki laki memanggil namanya membuat perhatian Fawaz menjadi teralihkan.
“Kampret! kau sudah membuang waktuku. Apa yang ingin kau bicarakan?”
"Alfa. Jadi kamu memintaku datang, ada Fawaz juga?" tambah Hanum.
"Jangan berpura pura kamu Han, aku tau kamu menikmati berduan seperti ini kan? aset yang telah kamu ambil dari keluarga Jhonson. Hanya untuk kamu bawa pergi dan tinggal bersama pria impianmu ini kan?" cetus Alfa.
"Brengsek!" Fawaz menonjok lengan Alfa dan membuat Alfa hampir terjungkal.
“Tidak tahu diri! saya sudah lama menunggu kamu, tapi kamu malah kurang ajar menuduh sembarangan!” ucap Fawaz.
Fawaz benar benar geram dengan Alfa karena ucapan yang tadi yang Alfa lontarkan membuatnya tersinggung, Fawaz sadar jika dirinya masih belum bisa move on dari Hanum, tapi tuduhan Alfa membuat hatinya teriris.
“M-maaf, gue khilaf. Gue nggak bermaksud untuk melukai perasaan lu, tapi itu kenyataan yang gue pikirkan saat ini." ucap Alfa dengan sedikit senyum gila.
Bugh!! kembali menonjok.
"Sudah cukup Fawaz, hentikan! Dan kamu Alfa, apa seperti ini sikapmu padaku. Kita berpisah secara baik baik, tapi cukup membuat kebohongan lagi!" isak tangis Hanum, ia kecewa karna pertemuannya dengan Alfa membuat Hanum sakit hati.
"Be-r-pisah. Benarkah itu?" lirih Fawaz yang cukup terkejut.
"Kenapa kau baru tau, tidak kejar wanita impianmu itu. Ingat dia bekasku Fawaz." tawa Alfa.
"Kau diam, atau aku pukul sampai mati!" ketus Fawaz dan mendorong Alfa.
Alfa tertunduk, ia tidak berani menatap wajah Fawaz karena wajah Alfa begitu menyeramkan. Fawaz bagaikan malaikat pencabut nyawa yang siap untuk mencabut nyawanya kapan saja.
Hanum masih berlari, sehingga kakinya berhenti dan memegang ranting pohon yang tak cukup besar.
"Huhuu," tangis Hanum.
Apa seperti ini rasanya sakit perpisahan? Aku sudah berjuang dan percaya padamu, tapi kamu hancurkan begitu saja. Tega sekali kamu Alfa padaku?
**To Be Continue**!!