BAD WIFE

BAD WIFE
PERJUANGAN RICO



"Cepat kalian cari sekarang! pasti ada salah satu cctv dimana keberadaannya!" tegas Rico, pada security.


Rico memaki ketidak becusan security yang berjaga, tidak mungkin jika seseorang menghilang tanpa jejak. Hal itu membuat Rico geram, ketika ia menghubungi Hanum. Coffe yang baru saja dibuat, dengan cup gelas cantik jatuh begitu saja.


Hanum yang menghubunginya beberapa saat, tidak terangkat ketika ia lupa menaruh ponselnya. Tapi saat ia kembali menghubungi Hanum, tentu saja itu membuat gundah kekhawatiran. Kala ponselnya tepat berada di lantai tak jauh dari mobil parkirannya. Hal itu juga ia melepas dua cup coffe, dan yakin jika Hanum sedang dalam masalah.


"Ketemu pak! ini dia rekaman cctv nya!" Ucup salah satu security.


Rico menggerbak meja, ia memerintahkan pada seluruh security yang berjaga di area tepat di blog G. Rico menyadari pasti ada orang yang terselubung, atau benar hanya kelalaian.


Rico meminta Erwin mengurus seluruh keamanan. Lalu Rico segera mengambil kunci mobil dan mengendarainya sendiri.


"Pak! saya antar atau .." lirih Erwin.


Rico hanya memberi telapak tangan, bagai angin. Menandakan jika dirinya perlu sendiri menemui keluarga Jhonson. Kepanikan yang terlihat jelas Erwin lihat, ia segera menghubungi pak Mark. Karna hanya tuan Mark yang tau tempat persembunyian villa jhonson.


Mark sangat marah, ia menghubungi Jhoni setelah puluhan tahun. Meminta pertemuan sekaligus memutuskan kontrak kerjasama Jhonson dalam market Marco.


Tepat sampai di rumah Alfa, Rico membunyikan alarm mobilnya dan menerobos kala gerbang otomatis terbuka. Sejujurnya Rico sudah malas bertemu keluarga Jhonson setelah puluhan tahun, ketika ia masih kecil sang papa dan Jhoni terlibat duel bisnis.


Namun saat ini berhubungan dengan Hanum, ia harus melibatkan sang papa mungkin yang akan turun tangan, bahkan mengetahui. Atau bahkan restunya pada Hanum di tolak karna menimbulkan kedamaian yang sudah lama tentram.


"Paman! dimana Alfa? dimana dia sembunyikan Hanum?"


"Oh! kau sudah berani datang kemari, sebelas tahun baru menginjak rumah paman lagi Ric?"


"Paman, jangan buang waktu. Jika tidak aku akan bicara pada bibi Maria, soal Mouren dan Irene. Saya hanya menanyakan satu pertanyaan lagi, jika tidak akan fatal merembet kesemua arah!"


"Anak keras kepala ini, sama seperti Mark. Terus terang soal Hanum, bekas menantuku itu aku tidak tau. Lagi pula, apa spesialnya wanita itu. Sehingga kamu melawan kedamaian papamu. Baru saja papamu menghubungiku!"


Papa sudah tau? lirih Rico menutupi pelipisnya. Dengan mode panik dan bingung.


"Paman cepat katakan!"


Jhoni hanya tertawa, ia benar benar tidak tau dimana keberadaan putranya itu. Terlebih yang ia pikirkan adalah belahan jiwanya Maria.


"Kau tau, bibi mu sakit. Aku tidak ingin kehilangan harta, jika sampai putraku buat masalah. Kau lakukan saja sendiri, paman benar benar tidak terlibat." cetus Jhoni meninggalkan Rico.


Sia sia bagi Rico, ia berteriak dan meninju tangannya pada pilar kediaman Jhonson. Pengawal dan bagian art rumah hanya diam menunduk melihat semua itu.


Tak lama Erwin mengirim pesan kode misterius. Ia telah berhasil melacak sebuah apartemen pribadi dengan lima lantai tapi hanya di isi dengan beberapa orang saja.


"Alfa! jika aku menemukanmu, aku akan membuat kamu kesakitan sama seperti kamu menyakiti Hanum, tiga kali lipat." lirih Rico mengepal tangan.


***


ALFA DAN HANUM.


"Yang aku inginkan hanya kamu Hanum. Apa sulit bersama denganmu lagi?"


"Tidak! kita sudah berpisah, sejak lama. Dan aku tidak pernah berniat untuk kembali bersamamu!"


"Apa mau kamu Alfa?" cetus Hanum, yang berusaha menahan air mata dan menahan luapan emosi.


"Menikah lagi denganku. Kalau perlu sekarang!"


Hanum berusaha melepas tali putih besar, yang terkait ditangan kanannya. Mencoba melepas kala pintu terbuka, benar saja ikatannya benar terlepas. Tapi saat Hanum bangkit, Alfa kepalang menoleh ke arahnya. Hingga luapan Alfa menatap tajam pada Hanum.


"Kamu ga bisa pergi Hanum! aku sudah memanggil wali untuk kita menikah malam ini! Kita akan resmi menjadi sepasang suami istri lagi. Hahaahaaa." gelak tawa Alfa, tapi Hanum berusaha menolak dan berkali kali menolak.


Alfa mendekat ke arah Hanum, dan Hanum mendorong tubuh Alfa. Ia berusaha membuka pintu yang terkunci.


Cekleg! Cekleg! berkali kali berusaha membuka tapi Hanum hanya sia sia.


Dor! Dor! "Siapa pun tolong aku!" isak Hanum yang penuh dengan ketakutan.


"Alfa ini bukan kamu, aku rasa kamu harus ke psikolog. Kamu harus sembuh, jangan lakukan hal buruk seperti ini lagi. Jangan sakiti aku, kita bisa jadi teman!"


"Aku bilang kita akan menikah malam ini Hanum!" teriak Alfa.


Braaagh! pintu dari arah luar terbuka, benar saja Hanum senyum menatap Rico yang tepat waktu. Alfa sedikit bangkit, melepas dan mendorong Hanum karna seseorang berani mengacaukan rencananya.


"Lepasin dia!"


"Rico. Kita masih ada darah keluarga, tidak mungkin kamu datang kemari. Hanya untuk membela wanita ini kan? Dia milikku, jadi aku terserah untuk melakukan apa padanya kelak?" senyum Alfa.


Bugh!


Rico memukul berkali kali wajah Alfa, hingga Alfa tersungkur dan memegang bawah bibirnya serta menyeringai. Tak lama Erwin datang bersama polisi, sehingga Alfa diringkus dan dibawa begitu saja.


"Kau akan mati Hanum!" lirih Alfa menatapnya. Wajah Hanum pun sedikit memar dan bringsut ketakutan.


"Han, kamu ga apa?" peluk Rico dan Hanum reflek membalas.


"Bawa aku pergi Rico, aku takut. Aku tidak ingin pria itu kembali lagi!"


"Itu pasti, apa dia melukaimu atau ..?"


"Dia hanya sering memukul dan menamparku! karna aku menolak malam ini menikah kembali." disertai tangisan histeris.


"Aku akan lebih berhati hati, kamu akan aman denganku Hanum. Ini memang waktu yang tidak tepat, tapi aku berusaha ingin membuat kamu bahagia. Melindungimu karna aku mencintaimu Hanum." lirih Rico.


Tatapan dalam membuat Hanum melihat Rico, sementara angin terbuka dan cahaya menerpa begitu saja. Membuat dua insan, saling menatap dengan dalam.


"Apa begitu sulit aku ingin bersamamu Hanum?" lirih Rico.


"Yang aku inginkan, memang ingin bersamamu Rico, tapi apa aku bisa menjadi istri terbaikmu. Aku tidak yakin."


Mendengar jawaban Hanum, Rico segera menaikan dagu Hanum. Dengan tatapan ketulusan Hanum tersenyum dan memegang erat tangan Rico.


To Be Continue!!