
Trimester pertama kehamilan Hanum, jelas menjadi masa paling sulit yang harus Rico alami, karena selain harus mengontrol toleransinya pada bau-bauan yang ada di sekitarnya, pada makanan yang di makannya, seorang ayah itu juga harus berusaha menutupinya dari orang orang sekitar terutama wibawanya sebagai seorang bos.
Padahal, jadwal operasi transplantasi papanya sudah berada di depan mata, dan itu berarti Rico harus selalu berada di samping sang papa dan mendampinginya, bahkan hingga nanti masuk pada tahap pemulihan papa Mark.
Waktu yang tidak sebentar, dan Rico harus menahan semua itu, apalagi kondisi Hanum yang hamil lagi dengan tiga bayi di rumah, serta anak angkatnya Leo, yakni anak dari Adelia ia rawat dan dia besarkan. Tak lupa Rico memberi satu asisten khusus untuk setiap anak anaknya itu, dengan sertifikat seperti Erwin yang kelak akan menjadi kepercayaan tiap anak anaknya hingga dewasa.
“Mas, bisa minum obat dan vitamin ini untuk mengurangi mual. Hanum rasa ini sedikit membantu, tapi tidak bisa menghilangkan keseluruhannya.”
Hanum menyodorkan bungkusan obat dari meja kerjanya, tepat saat Rico mengunjungi ruangannya dan mengeluhkan tentang mual yang amat sangat akhir akhir ini membuatnya penat.
“Tapi kalau mas Rico, memang tidak bisa menoleransi bau desinfektan dan semacamnya, ada baiknya mas jauhi ruang perawatan untuk beberapa waktu. Biar Hanum yang akan sering menengok papa sebagai gantinya, mas ga perlu khawatir.”
"Sayang, mas bisa kok. Kamu juga harus banyak istirahat. Bayi bayi kita membutuhkan pelukanmu juga setiap hari. Kata dr El, juga ini akan berlangsung beberapa bulan saja." ujar Rico.
Rasanya Rico ingin sekali mengiakan hal itu. Ini pertama kali dalam hidupnya dia tidak mampu menoleransi sesuatu, padahal sejak kecil Rico sudah biasa untuk menahan rasa sakit atau semacamnya, tapi ia tetap menahan agar Hanum tidak kepikiran.
Rico tumbuh sebagai pria yang tidak manja dan mudah rewel, tapi kali ini dirinya benar benar merasa bahwa keteguhan yang selama ini diperlihatkannya percuma, karena hormon kehamilan kedua Hanum, ini jelas mengalahkan usahanya untuk tetap menjadi Rico yang sama selama belasan tahun belakangan.
“Tapi besok adalah jadwal papa operasi, mas bahkan sudah izin untuk tidak masuk kerja karena ingin bersama papa seharian. Tapi bau bauan di rumah sakit, memang benar benar membuat mas mual dan tidak bisa menahannya."
"Tapi mas, papa bisa khawatir kalau melihat mas ke toilet dan muntah terus.” ucap Hanum menjelaskan.
Entah sudah berapa banyak Rico mengeluarkan kata ‘tapi’ dalam setiap kalimatnya sejak tadi, karena memang sebimbang itulah dirinya.
“Itu artinya mas harus tahu, kapan mas bisa bertahan dan kapan mas tidak bisa menahannya. Di saat seperti ini mas yang lebih tahu apa yang mas rasakan. Jadi jangan memaksakan diri, papa Mark akan baik baik saja dalam penanganan Dokter Dira, tidak perlu khawatir!"
Pada akhirnya Rico hanya mengangguk kaku. Meski entah bagaimana realisasinya saat dia berhadapan dengan situasi nanti, yang jelas Rico harus mulai mencari alasan, berjaga jaga jika papa mulai bertanya tanya, karena kondisi sang papa yang sudah sepuh. Ia belum tahu kabar Hanum yang kembali hamil.
"Mas, udah aku potongin jeruk lemon. Tapi mas ga bagus juga nguyah buah asam ini. Takut lambung mas ga kuat dan bermasalah, maka dari itu. Hanum beri mas vitamin dari dokter, mas kan tahu. Hanum ga suka, dan ga mau kalau mas sampai sakit."
"Iy sayang. Maaf ya! semua karena mas tidak sabaran, sehingga kamu harus kembali hamil dalam waktu dekat."
"Mas, bukan salah mas. Ini rejeki dari gusti allah swt. Bahkan Hanum juga minum pil andalan dr dokter. Rejeki kenapa ditolak."
"Setelah ini, kamu seteril saja Han. Mas ga mau kamu capek, mas ga tega lihat perjuangan kamu. Semua karena mas, andai rada sakit itu pindah ke mas, dan mas ga bisa bayangin bayi itu keluar dari rahim kamu lagi sayang."
"Mas, itu udah kodrat sebagai perempuan. Lagi pula mas saat ini alami morning skicness. Hanum bangga sama suami ganteng ini. Apa celah kekurangan kamu mas, kamu buat aku seperti ratu. Hanum beruntung sekali bisa berjodoh dengan mas." ujar pujian Hanum.
"Sayang! jangan lagi puji mas, justru mas beruntung mendapatkan istri secantik kilau mutiara, kamu langka. Dan pastinya pembawa berkah dan rejeki yang mengalir bagi kebahagiaan kita. Apa lagi disaat mas jatuh! kamu tetap dukung dan mau hidup bersama mas. Makasih ya." senyum mode memeluk.
"Mas, gombal. Pasti bohong memuji Hanum." bisik Hanum menoleh.
“Apa wajah mas, terlihat seperti sedang berbohong? Dengan senyum semanis ini?” lirih Rico memperlihatkan giginya, yang meraup sebuah penyatuan tangan, dan menempel dibagian anggota badan lain, sehingga mereka bersandar di sofa.
***
Esok Harinya.
...~ Cafe Chiken ~...
“Eiits, tidak tidak... Jangan panggil aku Bapak! Bukankah kita sudah sepakat soal ini tempo hari, mbak? Panggilan itu tua sekali, dan jelas tidak keren. Panggil aku Kakak seperti kamu memanggil koki sebelumnya, oke? Itu terdengar lebih baik.”
Belum apa apa pria itu sudah mengoceh panjang lebar seperti biasa.
Anggukkan yang dia terima dari Emil membuat Adelia tersenyum puas. Lantas dengan dua kantong belanja yang sejak masuk ruangan tadi berada di tangannya, pria itu melangkah menghampiri Adelia, meletakkan semua kantong belanjaan itu di atas ranjang, membuat Adelia melemparnya dengan tatapan tanya.
“Hei, setidaknya kamu harus menjelaskan dulu kenapa kamu bisa ada di sini. Jangan membuat ku bingung, apalagi dengan kelakuan bodohmu itu. Untuk apa lagi kemari, memesan dan meminta aku jadi pria simpananmu. Maaf!” Emil komentar setelah melihat ekspresi Adelia yang tidak tertolong.
"Aku hanya ingin memberi penawaran, bukankah kamu menginginkan wanita idamanmu setiap hari bisa melihatnya kan? Hanum, benarkan aku bilang?"
"Hanum, kamu mengenalnya?" tanya Emil seorang koki ayam chiken.
“Mungkin juga kamu bertanya tanya kenapa aku bisa ada di sini, padahal aku jelas tidak sakit atau berniat menjenguk seseorang. Tidak, aku bukan orang yang akan melakukan itu karena aku tidak punya kenalan yang harus kuperlakukan seperti itu di negara ini—aduh! ingat aku kemari membantumu, dan kamu membantuku." jelas Adelia.
Lengan atas Emil dipukul Adelia, karena seperti kekhawatirannya, pria itu mulai meracau di luar jalur.
“Kamu malah membuat ku bingung, karena tidak langsung cerita ke intinya!” omel Emil menunjuk, sambil mengambil dua kantong belanjaannya.
"Aku ingin kamu menerima tawaranku, keuntunganmu bisa melihat apakah wanita pujaanmu itu bahagiakan. Gimana? bukankah kamu ingin tahu alamatnya?" ucap Adelia.
“Aku bukan stalker, mengerti? Jangan berprasangka aku mau melakukan hal sememalukan itu. Kamu bisa menganggap aku bodyguard-mu dari jarak jauh, yah kira kira begitulah kurang lebihnya. Tapi saat itu aku melakukan, karena kamu janji tidak akan menemuiku lagi di cafe ayam ini." jelas Emil.
Kernyit di kening Adelia tetap menunjukkan keberatan. “Tapi intinya kamu, mengikuti kediaman Hanum tanpa sepengetahuan dan izinku. Lalu apa bedanya dengan penguntit? Itu terdengar sama buruknya. Lebih baik kamu bantu aku, karena aku hanya ingin anakku kembali. Tolong kasihani aku! aku mendekatimu, karena aku yakin, kamu bisa dijadikan sebagai asisten pribadi anakku. Karena Rico kakak ku, sedang mencari untuknya."
"Kakak?" ucap Emil, yang kebingungan.
"Rico suami Hanum, itu benar kakakmu?" ucap Emil dengan penasarannya.
"Yes! gimana, deal. Kamu sepakat terima tawaranku?" ucap Adelia.
Tbc.
...Note!!...
Akhir akhir ini akan up malam! karena ponsel setiap pagi di bawa sulung buat sekolahnya, efek ponselnya opname kecebur. 😅 Di tambah Author harus jaga my mom sakit gantian sama adik.
Tapi ada yang baru, ini tulisan adik aku yang mau liburan sekolah, nuangin kisah horor pengalamannya, dibumbui halu sih. Yuks mampir!! tetap di novel pena Author kok.
Berhubung Hanum akan end di eps 300. Author minta maaf, dan banyak makasih udah dukung Hanum selama ini.
Yuks mampir! cover akan sewaktu waktu berubah karena sistem Noveltoon.
Judul : PEKA