
Hanum mendapat panggilan dari mama, selama satu jam. Ia juga mendengarkan cerita sang mama. Hanum merasa tidak tepat jika kebahagiaan dirinya yang menerima Rico harus di depan Lisa.
"Hanum mengerti mah! Hanum segera pulang ke rumah!" menutup panggilan.
Lalu menaruh ponsel, dan duduk dengan menahan kesakitan. Rico langsung mendekat ke arah Hanum. Benar saja sosok Hanum si bungsu, sangat mandiri dan selalu menapilkan sisi tegar. Meski setelahnya ia rapuh dan hancur.
"Kemarilah! kenapa kamu bersikap kuat, padahal kamu sedang sakit. Pake segala bicara lagi dines diluar kota. Calon istriku tidak boleh berbohong!" jelas Rico.
"Ric, tapi ..."
"Sudahlah! aku paham, lagi pula aku tau sisi keluargamu. Untuk kali ini aku maafkan, jangan lagi berpura pura sibuk dan sehat jika kamu bersamaku nanti. Aku tau mama Rita, calon mama mertuaku itu menderita asma. Lakukanlah yang terbaik!"
'Thanks Rico, tapi masalahnya adalah tentang Lisa. Bagaimana aku mengatakan semuanya padamu.' batin Lisa.
Rico yang memahami wajah Hanum seperti menahan ingin mengatakan sesuatu. Ia segera meraih tangan Hanum dan berbicara.
"Tunggu sebentar!" pinta Rico.
Rico mengambil sebuah buku, beserta pulpen. Ia sangat mengerti kala Hanum ingin mengatakan semuanya, tapi rasa sakit lebam membuat ia sulit untuk berbicara. Aah! sungguh Rico sebal dan ingin sekali meninju Alfa setelah nanti bertemu di persidangan.
"Ini, buku tulis dan pulpen. Katakan semuanya yang kamu ingin bicarakan. Aku akan membuat teh hangat, dan setia menunggu kamu selesai menulis!" senyum Rico mengelus pucuk rambut Hanum.
'Perlakuan Rico, seperti mengelus kucing saja.'
Hanum kembali memutar mata, wajahnya berseri seolah rasa sakit memudar. Rico benar benar tipe pria idaman. Benar saja dalam waktu sesaat, ia memahamiku yang sedang kesulitan. Andaikan aku bertemu Rico jauh dari sebelum aku mengenal cinta dan perjodohan. Hingga Hanum pun segera menulis semua obrolan dan keluh kesah ketakutannya. Beberapa saat, saat ia menerima panggilan dari sang mama.
Rico yang membuat coffe dengan mesin coffe, lalu teh jahe untuk Hanum. Ia segera meletakan di meja, juga sebuah biskuit. Dengan bantuan ahlinya pernah mengikuti lomba chef. Ia segera ke dapur, mengangkat lengan kemejanya ia naikan. Satu dua kancing ia buka, dan segera memakai celemek. Rico memeriksa isi kulkas, ia akhirnya menemukan Tuna dan Salmon serta daun mint.
Hanum yang telah menulis beberapa puluh menit, ia segera bangkit mencari keberadaan Rico. Namun lima langkah ia terhenti, kala melihat Rico yang seperti mahir memasak.
'Ya Tuhan, begitu sempurnanya Rico. Selain perhatian, ia juga pandai dan lihai cara memasak. Apa tidak ada celah kekurangan pria itu untukku?'
Dengan sayup samar, ia segera melangkah dan melambai tangan. Ketika Rico melihatnya tak lupa, Rico meminta Hanum duduk. Dalam beberapa puluh menit ia menunggu.
Rico segera melepas celemek, cuci tangan dan menaruh satu mangkuk bubur di depan Hanum. Bersamaan teh jahe buatannya. Hanum sedikit melonjak kaget, lalu menatap Rico dengan dalam.
"Apa ini?"
"Bubur tuna, sedikit daging dan kacang polong. Bagus untuk kamu makan saat ini. Selain bubur kamu tidak bisa mengunyah makanan keras." senyum Rico.
"Ayo di coba!" titah Rico. Hanum mengangguk, tanda berterimakasih!
Sementara Rico masih menatap Hanum dan menjelaskan bahan yang ia buat, seperti dokter Gizi.
"Tuna merupakan sumber protein yang rendah kalori. Maka dari itu, aku membuat untukmu Hanum! karna aku tau, kamu paling takut makanan yang berlebihan. Jangan lagi membuat jus pare, karna aku membencinya! aku akan memilih makanan yang tepat dan sehat untukmu!"
Eheuuum! Hanum mendeheum hebat, ia segera minum air putih dengan bantuan sedotan. Lalu menatap Rico yang mengambil sendok garpu.
'Ternyata cela kekurangannya adalah selalu protes, menyukai mengkoreksi dan bawel.' batin Hanum. Ia menyesal tadi sempat memuji Rico.
"Selamat makan Hanum! aku juga akan makan."
Hanum sedikit kesal, andai ia tidak sakit. Mungkin dirinya sudah habis habisan memaki Rico, mengatakan soal makanan bergizi ala diet. Jujur program seimbang tubuhnya masih ia jalani, tapi sedikit sensitif jika dibicarakan. Terlebih melihat menu makanan yang Rico makan berbeda darinya.
"Dia makan steak daging, dan sosis bakar kesukaanku di depanku, serta aaah! jahat sekali, sedangkan aku hanya bubur Tuna terasa hambar. Terlebih teh jahe tanpa gula dan penyedap makanan." gerutu Hanum dalam batin.
Setelah beberapa saat mereka selesai makan. Hanum segera mencuci tangan. Bahkan ia berniat istirahat karna rasa sakit itu kembali membuat Hanum sangat kesakitan.
Rico yang melihat tulisan Hanum, di buku yang ia berikan. Ia begitu tersayat kala Hanum menjelaskan kepanikan dirinya terhadap Lisa.
"Jadi ini penyebab Hanum lama mengangkat telefon, dari mamanya?"
Isi tulisan itu adalah trauma Lisa yang gagal ditinggal menikah. Lalu menyukai Fawaz yang notabane dirinya dan Fawaz pernah saling menyukai dan memimpikan bersama kala Hanum telah menikah dengan Alfa.
Rico merasakan kerumitan, lalu ia menghampiri Hanum yang saat ini sedang meletakkan sebuah vas bunga, yang ia semprotkan dengan pengharum ruangan.
"Han! kita akan menemui mama kamu, juga Lisa. Setelah lebam ini benar sembuh! aku janji tidak akan menanyakan soal lamaran. Aku siap menunggu kamu, sampai Lisa menikah."
Hanum menoleh, bahkan ia senyum dan berterimakasih. Tapi Hanum takut jika Rico akan bosan menunggunya kelak. Apa Rico bisa bertahan menunggu.
"Kenapa diam? begini. Aku akan datang menemui mama kamu! tapi satu hal! aku akan datang meminta pertunangan. Aku ingin menandai kamu sebagai calon istriku! dan jangan khawatir soal Lisa!"
Tatapan Hanum mengerti, tapi meski begitu ia masih khawatir jika perasaan Lisa akan semakin Hancur. Apakah tidak terlalu sakit, bagi seorang kakak yang melihat adiknya kembali dilamar.
Rico meraih tangan Hanum, lalu menyematkan satu cincin. Hanum sedikit terkejut, lalu dengan sigap Rico berkata pada Hanum.
"Ini sebagai tanda, kamu wanitaku. Nyonya Rico harus selalu tersenyum dan bahagia. Serahkan semuanya padaku, calon suamimu tidak akan pernah ingin melihat wanitanya menangis atau banyak pikiran. Sekarang kamu istirahat di kamar! agar cepat pulih!"
'Thanks Rico, aku lagi lagi berhutang budi padamu. Apa aku mimpi bertemu pria sebaik dirimu?' batin Hanum tersenyum indah.
Rico masih terus menatapnya dalam, lalu menempelkan tangannya pada tengku leher Hanum. Dengan sarkas suara serak suara pria itu, ia masih berkata dengan lembut.
"Aku akan sakit, jika melihatmu bersedih dan terluka Hanum." lirih Rico.
**To Be Continue**!!