
"Mas, kotak apalagi ini? mas, Hanum minta mas Rico jangan terpancing emosi."
"Ini pasti orang yang sama sayang, biar mas buktikan untuk buat mereka diam di penjara." ujar Rico, dan Hanum masih menenangkan suaminya itu di kamar.
Rico di balik pintu. Ia duduk dengan meratapi kekesalan. Betapa tidak sebuah paket, pria brengsek itu berani datang ke rumah baru dikota s. Dengan enteng ingin memberikan surprise dan pergi begitu saja.
"Mas, ingin sekali percaya padamu Hanum. Tapi mas begitu syok, kenapa kamu bicara jujur saat mas sudah tahu."
"Mas, maafin aku. Tapi dia datang, ke rumah ini karena papa. Papa Mark, memberi alamat ini. Ada mama, ada bibi juga. Aku tidaklah selingkuh dibelakangmu atau berpura pura. Kemarin aku juga cukup terkejut, kenapa bisa Alfa ada di daerah cluster kita. Saat aku, mama dan anak anak berenang."
Rico menatap isi surat dari tangan Hanum, ia menghubungi nomor itu. Dan benar jika nomor itu adalah sambungan dari nomor baru paman Jhoni. Surat itu berisi tulisan tangan om Jhoni. Terlihat mama Rita ikut duduk, dan mengatakan penjelasan pada menantunya itu sebagai saksi.
'Aku niat ingin mengunjungi Hanum dan mama Rita di saat ada kamu Rico, paman Jhoni menitip dimanapun kalian berada. Tetaplah menjalin silaturhami, Alfa dibebaskan dalam tahanan rumah. Setelah laporan Hanum, ia kali ini benar benar lebih baik dan religius. Alfa sudah kehilangan sang ibu, om sudah kehilangan sang istri tercinta. Paman saat ini sedang sakit keras, kangker otak yang membuat wasiat, memohon kerendahan hatimu Rico. Kembalilah seperti dahulu, Alfa hanya tersesat saat itu. Dia tidak akan lagi mengganggu hubungan kalian apalagi Hanum sudah bahagia. Percayalah! Alfa saat ini seperti Alfa yang hilang setengah akalnya.' salam Jhoni Jhonson.
"Mama saksikan sendiri nak Rico. Maaf jika mama lancang, Alfa lebih keliatan religius. Dan kabar dari Elmo yang dampingi Alfa kemanapun. Dia memang benar sedikit tidak waras, meski jiwa penolongnya kemarin saat Hanum tenggelam, mama yang saksikan pria itu pura pura atau tidak."
"Maafkan Rico ya Mah. Mama jangan khawatir, Rico tidaklah marah pada Hanum, hanya saja Rico takut. Alfa akan kembali berulah seperti dulu. Rico pastikan jika Alfa itu benar benar bukan Alfa yang dulu, Rico akan coba rangkul dia."
"Mas, aku juga dengar dari Elmo. Dia itu ikuti Alfa kemanapun, agar bisa memantau gerik Alfa yang membahayakan."
"Nak Elmo, juga bilang sama mama nak Rico. Kalau Irene, wanita yang dahulu sama Alfa. Yang sempat kamu bantu itu, dia sudah tiada. Sebulan lalu Irene meninggal karena penyakitnya tidak sembuh."
"Innalillahi, semoga mereka benar benar dapat ampunan. Rico minta maaf, sudah salah dan hampir cemburu sama Hanum. Maafin mas ya Han. Maafin Rico juga mah, sudah hampir emosi karena Rico takut."
"Mama ngerti kok, kamu wajar bersikap demikian. Han, lain kali kamu harus terus terang dalam hal sekecil apapun. Mama kembali ke kamar, semoga besok dokter bisa kasih kabar kalau kesehatan mama, sudah bisa perjalanan jauh. Mama ga sabar temui Lisa."
"Iy mah, mama istirahat dulu. Mas, Hanum antar mama ke kamar dulu ya!"
"Iy sayang. Mas akan jenguk baby kita dikamar sedang apa."
***
Berbeda Hal Dengan Lisa.
Lisa mencengkram perutnya. Ia menghubungi Sinta, meminta untuk menjemput di loby parkiran bawah.
"Sin. Tolong gue sekarang, gue butuh bantuan lo. Gue share lock lokasi ya!"
"Lis. Lo kenapa, oke gue segera jemput lo. Tunggu ya Lis!"
Sambungan ponsel terhenti. Tidak begitu biasanya, perut Lisa sangat sakit. Hingga di mana ia harus berjalan dengan tertatih tatih. Mencoba bicara dan mengetuk pintu, tapi kediaman Ray tidak ada siapapun. Bahkan orang yang akan membantunya bersih bersih saja tidak terlihat, atau belum datang. Lisa baru sadar ada sepucuk surat, jika Ray tidak menginap di apartemen miliknya saat ini. Lisa baru sadar, tempat yang teraman ia tinggal di saat hamil adalah keluarga.
Lisa kembali berjalan. Ia cepat menuju lift, dan hanya berbekal ponsel tak membawa apapun di dalam kediaman Ray. Lisa bahkan tak sempat membawa dompet dan identitasnya.
Tapi satu hal, setelah berada di loby. Ia sangat pusing dan tubuhnya remang kala sebuah cahaya mobil putih melintas. Lisa terjatuh dan tak tahan begitu saja, ingin pingsan.
"Lisa. Ada apa denganmu?" ucap seseorang yang terkejut dan membangunkan Lisa.
"Tolong aku. Tapi jangan hubungi mas Fawaz. Aku mohon!" pinta Lisa meski sedikit remang, tapi ia cukup yakin siapa, pria berbaju putih itu.
"Lo udah sadar Lis. Lo mimpi buruk ya?" tanya Sinta. Yang terkejut dan menghampiri.
"Sin. Gue di mana? Kenapa gue di sini?" tanya Lisa panik.
"Istirahat ya. Tenang aja, gue sama dokter Frans udah bawa lo ke rumah sakit. Hampir aja lo pendarahan hebat, kalau udah tenang cerita sama gue!"
Pendarahan? Kata itu terngiang di telinga Lisa. Ia tak mengerti mengapa dirinya ada di rumah sakit. Dan kram perutnya itu karena pendarahan.
"Apa gue ..?" menatap Sinta.
"Iya, baik baik ya. Jangan lagi banyak pikiran, lo harus bedrest Lisa. Kasian bayi lo."
Tak lama dokter Frans datang, ia senyum dan mengecek kembali kondisi Lisa.
"Bagaimana. Sudah membaik, tekanan darah sudah membaik dan normal. Jangan stres, takut menjadi hal tak di inginkan."
"Sin. Gue pulang ke rumah kamu ya, atau cariin lostmen kecil. Buat gue, gue butuh sendiri. Dan jangan beri tau siapapun!"
"Lis. Cerita sama gue, ada apa?"
Lisa terdiam. Ia memeluk Sinta sahabatnya itu. Hingga di mana, Sinta cukup menjelaskan mengapa Lisa sampai di rumah sakit.
"Gue paham. Kalau lo belum siap bercerita, tapi gue bakal bantu lo cari penginapan ya." senyum Sinta.
Sinta bercerita, kala saat menjemputnya. Ia sempat hampir meninju dokter Frans. Karena mengira dokter itu akan melakukan hal buruk sama Lisa. Tapi begitu dia menjelaskan. Kita bawa lo ke sini, di tangani dengan cepat. Ray juga lagi keluar kota, dia kirim pesan buat nitip lo yang ada di apartemennya.
Lisa mendengar hal itu. Tertawa puas, lalu memeluk Sinta karena selalu care padanya
"Thanks ya Sin. Gue seneng banget, makasih udah setia di setiap gue sulit. Sedangkan gue .." menatap sendu.
"Lisa. Gue ngertiin kok, jangan sungkan. Lo tau kan, dulu gue kaya gimana. Lo yang selalu suport. Padahal usia lo lebih muda tapi dewasa penyabar banget. Karena lo udah berkeluarga, jadi waktu kita ga sefull kaya dulu. Inget, apapun itu cerita! Gue pasti akan bantu sebisa gue ya."
Dengan perasaan haru, Lisa pun teringat mimpinya tadi. Ia sulit percaya, mengapa mimpi buruk itu sangat pas ketika ia takut.
Hal dalam benak Lisa adalah, ia takut jika mimpi itu kenyataan. Tak lama, Sinta memperlihatkan sebuah foto dalam ponselnya.
"Pak Ray bilang, kemarin malam dia temuin lo hampir mau kecelakaan. Dia sengaja bawa lo ke apartemennya buat lo istirahat. Dia juga nyuruh gue nemenin lo Lisa. Terus, benar lo mau pergi sama Ray?"
"Bukan itu maksud gue sih Sin, gue mau hidup sama anak gue aja kelak. Dan gue terima tawaran iklan job dari Ray."
"Gue paham, tapi persalinan yang gue tau itu sangat butuh perjuangan, ada baiknya lo temui mama Felicia. Mama Rita, dan Hanum. Dia keluarga yang sayang lo Lisa, ga mungkin dia ga suport lo. Please, setelah ini gue antar lo pulang dulu ya. Lo banyak dicariin keluarga, gimanapun lo belum resmi cerai dari Fawaz."
Perkataan Sinta membuat pikiran buntunya terbuka, ia senyum dan mengangguk.
Tbc.