
Terlihat Fawaz menyapa Rico, mereka seperti membicarakan bisnis yang sulit para istri mengerti. Belum lagi dengan tanda tangan yang aah! sulit Hanum dan Lisa mengintip, bahkan tulisan saja membuatnya penat.
"Hai, kalian datang? pantas tadi kakak hubungi, kamu malah ga aktif, taunya mampir." Lisa menarik Hanum dan duduk di sofa.
"Rico ada urusan sama Fawaz kak! ponsel aku juga jatuh di air. Jadi aku ga tau kakak hubungi." jelas Hanum, matanya masih melirik Rico dan Fawaz di sofa lain.
"Kok bisa?" tanya Lisa. Hanum menoleh ke arah Rico, dan hanya senyum tak menjawab.
Fawaz meminta Rico menunggu, Fawaz adu jotos jari layaknya pria bertemu sohib saat tadi ia lebih dulu masuk.
Hingga dimana mereka meminta sarapan bersama. Jamuan beberapa saat sangat ramai, dua pasangan adik kakak dan sepupuan terlihat sangat kompak.
"Mas, kamu jadi pergi dengan Fawaz?"
"Ya sayang kami mau bertemu bu Martha, lebih aman kamu sama Lisa. Lisa, titip Hanum ya!"
"Hah, baiklah. Terkesan seperti penitipan bocah. Tidak perlu sungkan, Rico. Nanti kita shoping ya Han,?" hanya melirik, tapi Fawaz menampaki senyum.
"Benar, kamu bisa jalan dengan kakakmu! tidak nyasar, aku akan usahakan pulang cepat sayang." mengusap kening Hanum.
Duh, manis beud ya! Fawaz romantisnya cuma di kasur aja. Di depan mana mau dia nampaki, terkesan kaku ga sih. Gerutu Lisa, yang menunduk sambil mengelap kaki di keset hijau.
Rico mengedipkan mata, pertanda memberi izin. Setelah beberapa saat, Rico langsung mengecup kening Hanum dan pamit. Ia berbisik dengan meminta Hanum memegang ponsel pribadinya.
"Sementara pakai ini dulu sayang! kalau jadi pergi, belanjalah ponsel baru!"
"Makasih, ya mas. Tapi aku bingung, lebih baik nanti saja kalau sudah pulang. Simcard, aku harus mengurusnya."
"Baiklah aku berangkat dulu, mas ga lama kok sayang. Setelah selesai, kita ketemuan dan pergi berdua saja." bisik Rico menggoda.
Saat Hanum duduk di ruang televisi, Lisa menghampiri Hanum dan memperlihatkan sebuah video.
"Han, lihat deh. Ada video viral. Kok kaya mirip siapa gitu ya? Kakak, kayak pernah liat." ucap Lisa.
"Yang mana kak, coba Hanum liat juga?"
Hanum dan Lisa duduk, ia melihat sebuah video yang sedang naik dari akun burung biru, lalu menyebar ke aplikasi tek tuk yang masuk ke instastory Lisa. Mereka diam dan memperhatikan dengan jelas.
"Heh pengemis, pergi! Tempat ini nggak pantas untukmu!" ucap bapak muda.
Dari video menampaki seorang pria. "B-bukan, aku bukan..." teriak memohon, menutupi wajahnya setengah.
"Pergi sana! Ambil ini dan jangan mengikutiku lagi!" bapak muda terlihat melempar beberapa lembar uang yang jatuh di dekat mengenai wajah pria itu.
"Singkirkan tangan kotormu!" satpam tiba saja datang, berteriak dan mendorong pria itu, seolah pria itu benar benar seorang pengemis.
"Ambil uang itu Den! dan pergi!"
Seketika tubuh pria itu kehilangan keseimbangan, begitu satpam itu mendorongnya hingga terlihat mereka terjatuh ke depan. Spontan pria itu melindungi perutnya. Walaupun tak terlihat memeriksa hasilnya,
"Ada apa dengan pria itu sih kak, Hanum jadi ga ngerti deh." bisik Hanum.
"Ssst! udah liatin dulu, kok Kakak ngerasa dia mirip seseorang." balas Lisa pada tatapan Hanum, lalu mereka kembali melihat video dari ponselnya.
Di tengah pilu ini, sesuatu mengganggu indera penciuman, aroma parfum begitu dekat dengan Hanum, entah kenapa model pria itu mirip wajah gerakan seseorang yang sering ia lihat beberapa hari, dari saat pernikahan hingga kini ia tak melihatnya karena di Paris.
Lalu Hanum, kembali memperhatikan video yang masih di putar oleh Lisa.
Suara bass itu benar benar rendah, seolah membuat pikiran yang mendengar buyar selama beberapa detik. Suara itu begitu indah di dengar.
Aku tidak pernah dekat dengan siapapun, dimana pun selama berpisah, apalagi jatuh cinta pada wanita lain. Penampilan dan kehangatan itu membuat wajahku memerah. Pria itu segera bergerak mundur dan menghapus air matanya
"Maaf."
Hanum pun tertegun melihat pria ini. Dia memiliki otot yang bidang, wajah yang simetris dan hidung yang mancung. Manik mata cokelatnya begitu tajam menatap intens. Sehingga melihat tontonan saja, mirip dengan dirinya yang terlihat suka dengan masa lalunya saat itu, yang di abaikan.
Hanum tiba tiba memandang pria itu dan tersenyum, ketika video yang di putar mengarah ke layar meski di tutupi topi sweater dan masker. Hatiku berdegup tak karuan. Aku sadar telah memandanginya begitu lama. Lalu aku menunduk karena canggung. Hanum menyadarkan jika itu bukanlah dia.
'Bukan, dia pasti bukan Alfa. Tapi jika itu benar, apa maksud Alfa mengikutiku?' batin Hanum.
"Kak, udah yuk. Kita jadi pergi gak?"
"Eh, ya udah deh. Kakak bersiap dulu ya." mematikan video.
Beberapa jam kemudian, Hanum dan Lisa mengitari sebuah perbelanjaan. Dengan membeli permen kapas yang terbuat dari gula, begitu lucu karena bentuknya yang bagai awan dan berbentuk panda.
"Lucu banget sih, " hahah tawa Hanum dan Lisa.
Hingga tak sadar, seseorang menabrak bahu Hanum hingga permen terjatuh.
Bruughh!!
"Auuw."
"Sory." mungkin tanda kedua tangan itu, ingin bicara seperti itu. Hanya gerakan tubuh saja tanpa berbicara pada Hanum.
"Gak papa kamu Han? Heh, liat liat dong." ketus Lisa.
"Kak, udah. Hanum ga apa apa kok. Kita pergi lagi aja!"
"Mbak, dia ini pengemis, dia sangat kotor sebaiknya kalian menjauh darinya!" seorang satpam asing datang, bersikap sangat sopan kepada Hanum dan Lisa.
Pria tersebut memandang satpam itu dengan mata yang dingin dan ekspresi datar. Satpam itu terkejut dan tidak berani berkata apapun. Kemudian dia pergi.
"Eh kok pergi, sih." cetus Hanum, yang Lisa juga bingung masih menatap satpam itu.
Sadar akan diperhatikan. Pria itu langsung pergi tanpa aba aba.
Siapa sebenarnya pria ini? Mengapa dia membelakangiku? itulah jawaban Hanum saat ini.
"Gimana, mirip ga Han?" tanya Lisa.
"Ga tau, mirip siapa kak." balas Hanum, ia berusaha mengalihkan pertanyaan Lisa.
'Dulu aku takut kehilangan dia, tapi aku lebih takut jika dia bersamaku tidak bahagia. Maka melihatnya bahagia saja dari jauh, itu sudah cukup membuat aku tersenyum.' gumam pria misterius itu menjauh dalam langkahnya.
'Tidak ada kata terlambat, jika meminta maaf dan menjalin silaturahmi! sepertinya nyonya Hanum juga bahagia bersama aden Rico. Bapak sendiri yang liat selalu senyum, aah! sebagai tukang rumput, saya mah kerja dapat majikan bahagia nular.' itulah balasan bapak tua pada pria misterius yang masih memikirkan, bagaimana ia meminta maaf dan memulainya.
"Han, Hanum. Kok bengong??!" teriak Iisa.
"Eh ya kak. Kita ke dalam gerai shop itu ya?!" senyum Hanum, mencoba sadar tak memperhatikan langkah pria itu yang mirip ia kenal.
Tbc.