
"Mas, katakan pada Hanum. Apa yang sebenarnya Alfa inginkan. Tadi aku bertemu dengannya, dia memperingati aku mas."
"Bertemu. Dia ke kantor? kenapa aku ga tau ya. Biar nanti mas coba tanya Erwin."
"Mas, jangan mengalihkan. Aku tau mas ingin menyembunyikan dari Hanum. Percayalah, kandungan aku baik baik saja. Aku dan bayi kita, mau kita berjuang sama sama."
Rico memeluk Hanum, ada rasa tak percaya. Apa ia harus menyerah dan memohon pada Alfa, agar market Marco tidak pernah dihilangkan.
"Mas sedang bernegosiasi, meminta Alfa tidak menggusur market Marco. Mas mencoba memohon apapun itu, asalkan mas tidak kehilanganmu saja sudah cukup Han."
Raut mata Hanum, berbinar tak percaya. Alfa selalu saja membuat dirinya terasa beban dan selalu ingin membuat hidupnya sengsara.
"Mas, kita harus bicara dengan papa. Kalau paman Jhoni datang, lalu papa Mark tau dari mereka langsung. Kita harus gimana, satu satunya jalan papa kita suruh tinggal di villa Feli."
"Lalu aset kita hilang semuanya, sayang. Mas harus melukai jerih papa yang sia sia begitu saja. Rasanya mas tidak sanggup."
"Mas, setidaknya papa tinggal lebih layak. Jika aku harus tinggal di rumah kontrakan petak. Aku mau ikut bersamamu, asalkan papa tidak tau kondisi kita sebenarnya setelah itu. Ini bukti agar Alfa tau, jika aku hanya bahagia dengan kamu mas."
Pernyataan Hanum, membuat Rico tersentuh. Ia segera memeluk erat sang istri, dengan begitu Rico tak lagi menyumpatkan tiap masalah yang ada.
"Sayang, mas janji akan berjuang dalam keadaan apapun demi kamu." kecup Rico.
***
KEDIAMAN MARK.
Hanum yang sedang berbicara serius pada Lisa dan sang mama. Sementara Rico dan Fawaz memberi pengertian pada sang papa. Termasuk dr Felicia yang tidak tega, tapi villa begitu luas. Rumah nya pun terbuka sampai kapanpun untuk keluarga Mark.
"Tidak, papa tidak ingin meninggalkan rumah ini."
"Pah, Rico minta maaf. Sudah gagal mengembangkan market Marco." bersimpuh pada kaki Mark.
Sejenak hening, Hanum ikut bersedih. Namun kedatangan Jhoni dan Alfa memang akan datang. Tapi Hanum berusaha menghadangnya, meminta di waktu yang tepat.
"Pah, Rico janji akan mempertahankannya."
"Rico, apalah semua aset dunia ini hanya titipan. Jika masih rejeki, maka ia akan terus berada di tangan pemiliknya bukan. Papa ikhlas, asalkan kamu juga tinggal bersama papa!" senyum Mark pada Rico.
Rico menatap Hanum, ada rasa khawatir. Tapi kalau mereka tinggal bersama sama, maka kebohongan Rico yang hanya memiliki apartemen yang akan ikut ia jual, untuk memenuhi kebutuhan sehari hari dan bekal sang papa diketahui.
'Maafkan Rico pah, Rico tidak bermaksud membohongi papa.' batin.
"Rico dan Hanum akan selalu mengunjungi papa, kita tetap tinggal bersama, di rumah lama."
"Baiklah, ingat kunjungi papa sesering mungkin ya!"
"Lalu jika kamu tidak lagi menjadi pemilik Marco, kamu akan bekerja apa Rico?"
"Rico akan menjadi karyawan saya paman. Itu jika Rico inginkan?" ucap seseorang yang datang menyambar.
Hal itu membuat tatapan semua orang terdiam, Mark begitu malas melihat Jhoni dan Alfa datang. Dua pria yang gila harta, membuat mereka melakukan segala cara.
"Apa maksudmu?" tegas Rico, yang ingin menghajar Alfa. Tapi di hentikan Hanum, karena waktu yang tidak tepat.
"Mas, sabar. Kita ga boleh semuanya dengan emosi."
"Apa yang kamu lakukan, dan datang kemari Jhoni?" tanya Mark.
"Seperti anakku bilang. Dia akan menjadi pemilik Marco, dan label di ganti dengan AJ Market. Atau Jhoni Market, bukankah begitu Alfa?" liriknya.
"Pah, semua urusan Alfa. Alfa akan mengganti atau tidak, atau membiarkan Rico menjadi supervisor mungkin. Dan tetap membiarkan Marco berdiri lebih canggih, membangun market Marco lebih besar lagi. Asalkan Hanum bersedia bersama Al-fa. Maka Alfa akan merekrut Hanum menjadi managernya." jelasnya.
Plaak!!
Tamparan mendarat, di pipi Alfa. Semua tatapan menuju wajah Hanum dan marah terhadap Alfa yang lancang.
"Kamu pikir setelah menguasai semua aset Mark. Kamu bisa seenaknya membeli seseorang seperti barang? Rico adalah satu satunya pria di sisiku. Jadi lebih baik kamu cari Hanum lainnya, masih banyak wanita yang bisa mendampingi dan membuat dirimu sukses Alfa."
"Jangan sombong Hanum, aku hanya ingin Hanum dirimu karena kasihan. Setelah Rico jatuh miskin, kamu mau makan apa? hahahah."
Semua mata menutup dan gemas ingin menyumpal mulut Alfa. Bahkan Rita beruntung Alfa bukan lagi menantunya.
"Miskin harta, asal tidak miskin hati seperti kamu Alfa Jhonson. Jadi enyahlah kalian dari sini!"
"Ayo Alfa, kita pergi. Kita lihat sore ini mereka tidak berkemas. Maka kita usir mereka balik." ungkap Jhony.
"Semua aset masih milik kami Paman, jadi jangan terlalu bangga dengan mengambil kepemilikan hak orang lain." cetus Rico.
"Rico, Hanum. Sudahlah, biarkah saja. Hari ini kita berkemas, harta hanya titipan. Asalkan kalian baik baik saja, dan kita bersama itu sudah lebih dari cukup nak!" ucap Mark, dengan suara terbatuk batuk.
"Of course, kami tunggu!" tawa Alfa berlalu pergi meninggalkan kediaman Mark, dan melirik Hanum dengan genit.
Rico mengepal tangan, ada hal tak biasa saat ini. Namun Hanum meminta sang suami tetap tenang. Ia yakin jika kehamilannya ini adalah berkah dan ujian naik level.
"Mas, kamu tau gak. Setiap derajat orang baik yang ingin naik level, akan di uji dengan berbagai cobaan?"
"Terimakasih sayang, mas berharap kamu tidak pernah meninggalkan mas." senyum Hanum kala Rico yang merasa khawatir.
Tbc.