BAD WIFE

BAD WIFE
SEPERTI MEMANGGIL



"Sabar sedikit, aku sedang merangkai kata. Aku lupa apa yang mau di tanyakan!" lirih Hanum.


"Jika kau tak bisa aku bicara lembut, maka aku harus bicara dan memanggilmu gendut! katakanlah apa yang kau mau bicarakan!"


Gleuuk! lagi lagi hati dan keadaan Hanum berada dalam wahana. Wahana yang siap terjun dalam perbatasan bukit, lalu turun kembali menerjang air terjun buatan. Mungkin ini adalah perasaan hati Hanum pada sosok pria bernama Alfa. Benar kata mbak Nazim, syaratnya adalah mengikuti kata hati. Tapi kenapa sesakit ini jika aku yakini aku mencintai pria yang salah.


Hanum memilih untuk kembali duduk, sembari memegangi mantel pemberian Alfa.


Mantel Alfa memang cukup besar, itu mantel untuk musim dingin. Sehingga cukup dipakai oleh Hanum yang bertubuh lebar, hanya saja perbedaannya kalau dipakai Alfa terlihat sangat keren karena tubuh Alfa sangat tinggi dan berisi sedangkan saat dipakai Hanum, dia terlihat sangat bulat.


Hanum tidak mengancingnya hanya merapatkannya saja, dengan kedua tangannya memegang tempat kancing berada seperti orang kedinginan. Meski ia telah diet, tetap saja punggungnya masih terlihat lebar seukuran awal, mungkin bongsor adalah panggilan yang tepat untuk punggung Hanum.


"Apa begini cukup?" Hanum menatap Alfa selesai memakai mantelnya.


"Begini lebih bagus! Ingat, kalau keluar rumah jangan memakai pakaian yang terlalu terbuka seperti tadi! Aku tidak suka! Aku tidak menyuruhmu menutup seluruh tubuhmu tapi cobalah untuk berpakaian sopan!"


Hanum tidak merespon apapun kecuali mengangguk tapi sungguh dalam pikiran Hanum dia tidak bisa berhenti untuk berpikir.


'Bagaimana seorang yang dengan mudahnya di depan istrinya sendiri bermain dengan wanita lain bisa bicara seperti itu? Apa sebenarnya masalah dengannya? Apa ini pengaruh dari penyakitnya? Tapi dia sakit apa? Dia tampak seperti orang normal dan sehat sehat saja. Ikh aneh, lagian dia sendiri sih yang cari masalah. Tadi kan aku pakai baju sangat sopan, celana jeans panjang dengan kaos lebar. Dia robek bajunya waktu aku ga mau ikut dia! Siapa coba yang salah narik terlalu kencang?' batin Hanum menyadarkan.


Kelembutan hati Hanum, sering bersebrangan dengan dendamnya. Namun ketika Alfa kembali mencaci fisiknya. Hanum kembali kesal dan ingin rasanya membalas dendam, hanya saja kini ia berada di rumah sakit. Ia mengurungkan niatannya saat ini pada Alfa.


"Alfa! jika kau tak menyukai pernikahan ini. Kenapa harus terus menutupinya. Bukankah lebih baik kita berterus terang? bukankah lebih baik kita akhiri?" lirih Hanum membuat tatapan bola mata Alfa yang hampir keluar.


"Apa kau bilang?"


"A-aku sedikit berani berkata. Tapi kamu kan tau kita tidak sejalan. Kau mencintai Irene, lalu untuk apa bertahan. Bukankah kita seharunya mengakhiri kontrak perjanjian ini?"


"Tapi kamu menyakitiku Alfa." teriak Hanum kala Alfa lagi lagi meninggalkannya begitu saja.


Hanum kembali turun dari rooftop. Lagi lagi sikap Alfa menyebalkan. Hingga ia kembali keruangan sang papa. Ia duduk dan masuk menunggu di luar saja hingga menjelang pagi.


'Wajahnya juga ganteng, tapi sikapnya menyebalkan. Tapi kenapa aku menolak untuk dendam dan mengatakan semuanya pada Om Jhoni. Jika aku katakan bisa sajakan Alfa kehilangan hak waris dan di coret dari nama keluarga Jhonson. Aaaah! tidak, kenapa aku menutup mata wajah Alfa sih?'


Hanum duduk memejamkan mata, tapi pikirannya kacau selalu melihat wajah Alfa. Hingga dimana, ia berhasil mengalahkan imajinasi wajah Alfa dalam bayangan hitam karna rasa ngantuknya. Hanum sudah biasa, bahkan tidur dikursi saja ia bisa santai dan lelap.


"Hanum." lirih seorang membangunkannya.


Heeemh! Hanum perlahan membuka mata, menyempitkan sebelah mata dan menutup wajahnya setengah karna malu. Ia menengok nengok karna benar saja ini sudah pagi. Pukul enam tiga puluh. Bisa bisanya ia baru sadar tertidur the waiting room, nampak tulisan tercetak plang biru.


"Nona bisa pindah!" ungkap suster.


"Baik suster. Makasih sudah membangunkan." senyum Hanum berlalu mencari toilet. Meski benaknya saat ini adalah ia merasa suara pria yang tak asing membangunkan.


Hingga beberapa puluh menit kemudian, Hanum terkejut saat Lisa sudah datang dengan mama. Ia terlihat panik dan lagi lagi membuat Hanum berlarian.


"Kak, ada apa?" paniknya.


"Papa. Papa kita kritis, dokter sedang mengeceknya."


Hanum tergontai duduk dengan lemas, ia merangkul pundak sang ibu yang baru saja tiba dan menangis.


To Be Continue!!