
Kantor M- Entertaiment.
Kala itu Lisa terkejut, kala Ceo pak David mengenalkan seorang rekan bisnis, dan saham pada perusahaannya adalah Fawaz. Sosok semua wanita yang bekerja begitu terpesona, melihat dokter Fawaz Abraham Jhonson spd. Yang Lisa kenal.
"Jadi begitu ya! Saya harap kalian bekerja sama dengan tim. Saya serahkan pak Fawaz untuk memilih satu orang, bebelanja ke toko pernik wanita untuk sebuah doorprize."
Fawaz tak mengenal karyawan lain selain Lisa, maka dari itu ia memilih Lisa. Tentu saja jadi bahan perbincangan saat itu. Hingga Lisa mengambil tas, dan ikut bersama Fawaz satu mobil.
Beberapa saat di toko tas, Lisa jadi ingat karna kemarin tante Felicia mengajaknya. Namun saat mereka baru masuk, Fawaz dan Lisa berhenti melangkah. Mereka melihat seorang wanita yang ikut juga menatapnya.
\*\*\*
"Han, enak gak?"
"Gado gado buatan kamu, beneran kamu yang buat?"
"Iyalah! kamu ga tau, kalau aku pandai buat makanan khas kaya beginian?"
"Masa, aku ga yakin. Kamu pasti belajar dari chef Paijo, kan?"
"Paijo! Chef Ar. Kamu bisa humor juga ya?" sindir Alfa yang sedang menyendok sayuran.
Hanum memang saat ini sedang berada di taman halaman belakang rumah. Duduk ditengah gajebo, dan berniat memberi Alfa ruang semakin dekat. Hanum ingin lebih banyak tau soal Alfa, sampai sampai ia lupa akan peristiwa Alfa yang mungkin sadar atau tidak, kala dirinya mengambil obat untuk sang Mama. Saat itu Alfa juga menebus obat untuknya, tapi orangtuanya hingga kini tak tau.
'Merasa bersalah, apa Alfa menjadi pria players ada sebabnya?' batin Hanum.
"Kamu mau nambah gak Han?"
"Boleh deh, aku mau sambelnya banyakin Ya!"
"Jangan, kamu harus banyakin toge. Aku mau juga banyakin toge biar tokcer. Bumbunya ini dengan cinta tau Han, percaya gak?"
"Enggak! Hahaa, cowok kaya kamu itu sulit aku percaya. Gimana kalau kelakuan kamu ini hanya pancingan, atau semacam menyogok aku untuk mau nurut kan?" cecar Hanum, sambil menyuap gado gado.
"Dih! ga boleh suudzon gitu dong Han! masa gitu sih, oh ya. Aku mau panggil kamu sayang, gimana kalau kamu panggil aku lebih manis! jangan nama lagi?"
Mendengar hal itu, Hanum terdiam. Menarik nafas dan benar saja ponselnya berbunyi. Sehingga Hanum tak mengiyakan apalagi menjawab permintaan Alfa.
"Sory! aku buka pesan dulu ya!" Hanum menjauh.
"Heuuum." serak Alfa, ia masih mengaduk sayuran dan sambal kacang. Tetapi masih menatap gerik Hanum.
Hanum yang kini melihat sebuah pesan, ia segera menatap dengan diam, Irene meminta bertemu berdua saja dengannya. Hal itu membuat Hanum mencari cara, pada Alfa. Alasan apa yang tepat, agar dirinya bisa pergi tanpa Alfa mengikut.
"Serius sekali, sedang apa sayang?" bisik Alfa merangkul lingkar pinggang Hanum dari belakang.
"Aaah! jaga sikapmu Alfa! aku sedang tidak sanggup berdebat denganmu." Hanum berusaha melepas jari tangan Alfa yang liar.
"Aku hanya berbisik padamu Hanum, kita seharusnya membuatnya kan? ini sudah hari ke empat puluh hari. Apakah aku bisa ..?"
"Maaf! beri aku waktu, aku saja belum bertemu dengan Fawaz."
"Fawaz lagi, Fawaz lagi, kenapa setiap kita sedang berdua. Kamu selalu sebut pria itu sih, Hanum kamu ga pikirkan bagaimana hati aku saat ini?"
'Pikirkan hati kamu, tapi kamu juga ga mikirin hati aku Alfa?' batin Hanum menatap tajam. Lalu menghela nafas, berusaha agar tidak terpancing emosi, jika berdua bersama Alfa.
"Alfa! A-aku.., maaf. Mengertilah! kita akhiri saja quality time kita ini, aku harus pergi."
Alfa mengejar Hanum, ia meminta maaf karna sudah terbawa emosi. Pikiran Hanum masih dihantui kenangan pahit, dan janji komitmen pada Fawaz. Saat ini jiwa Hanum memang berada di sisi Alfa, tapi setengah hati dan pikirannya sulit di kendalikan dan selalu mengingat Fawaz.
"Mama, ganggu saja." lirih Alfa, yang sedang merayu Hanum.
"Kita udah coba gado gado buatan Alfa, mama mau nyoba gak?" Hanum menarik tangan sang mama mertua dengan lembut, ke arah gajebo. Melupakan keberadaan Alfa saat ini.
Banyak mereka bercerita, sehingga Alfa merasa kesal karna dirinya merasa terganggu. Maria yang tau putranya semakin kesal, ia semakin lama membuat Hanum bersamanya. Tak lama Jhoni datang menghampiri.
"Han, mama mau ke mall. Belanja bahan yang mama mau, kamu mau temani mama gak?"
"Mall, mama ajak aku?" senyum Hanum.
Mendengar hal itu, Hanum mempunyai ide agar dirinya tak di kuntit Alfa. Hanum tau, jika mama mertua pergi. Alfa akan diminta pulang, dan membiarkan supir yang mengantar jemput.
"Boleh, tapi Alfa gimana. Mah?"
"Alfa! kamu temani papa main golf. Mama mau berdua sama Hanum. Jangan ngebantah ya!"
"Oke mama." lesu Alfa.
Mendengar hal itu, Alfa lemah. Melirik papa Jhoni datang dengan semar mesem. 'Phuuuh. Harusnya aku berdua manja dengan Hanum. Bukan main golf.' batin Alfa.
"Sudahlah Alfa! jika mamamu meminta, kita para lelaki tidak boleh menolak." senyum Jhoni pada putranya itu.
"Itu karna papa hobi golf, sementara aku hobi di kas.." tak melanjutkan, karna mata Hanum mendelik ke arahnya.
"Kas .. Apa nak?" tanya Mama.
Alfa segera pergi, ia pamit dan berkata ada yang tertinggal di dalam kamar. Tak lupa menghampiri Hanum dan memberi tanda di keningnya. Di depan kedua mertua, hal itu jelas membuat Hanum kaget bukan kepalang.
BEBERAPA JAM KEMUDIAN.
Hanum dan Maria, ia masih melihat lihat toko tas dan pakaian branded. Ada rasa ketir Hanum, kala Irene datang lebih dulu sebelum jadwal sang mama mertua meminta pulang.
Hanum masih melirik tas, yang di kenakan mama mertuanya. Warna fucia, pink meminta Hanum kenakan dan memilih.
"Mah, itu berlebihan untuk Hanum. Hanum lebih suka putih atau warna cream. Warna fucia itu terlihat mencolok."
"Hoohoo. Benar, kamu orangnya kalem. Ga kaya mama, suka warna nyentrik. Terang, sehingga mendapat perhatian lebih dari mata jahil yang memandang. Benar kan?" tawa Maria, gelak Hanum ikut tertawa demi meramaikan.
Hanum dan mama mertua sudah lama memutar mutar, namun di saat bersamaan ia melihat seseorang yang tak asing baginya.
'Fawaz?' batin Hanum terkejut, karna ia datang bersama wanita.
~ **Hayo, ada yang tau siapa**?! ~
SAMBIL TUNGGU KELANJUTAN HANUM, YUKS MAMPIR LITERSI TEMEN AUTHOR.
JUDUL : ROMANSA BIAS DAN ZEE
KARYA : BUBU.id
Zee masuk dalam sekolah unggulan di mana Bias menjadi idola di sana. Zee berbeda, ia memilih berpenampilan jelek di sekolah untuk mengetahui ketulusan orang-orang di sekitarnya. Ya, di masa peralihan itu Zee tidak ingin dikenal menjadi gadis berpenampilan cantik, tetapi Zee ingin dikenal sebagai gadis berotak cerdas.
Suatu hari Zee mendapat surat tertanda Bias sang idola. Hati Zee tak menentu.
"Mungkinkah kak Bias menyukaiku yang jelek?"
**Bersambung ... Next**!