BAD WIFE

BAD WIFE
PERKARA LEMON



"Gimana dok? suami saya sakit apa? kenapa tadi dia pusing dan mual ya?" tanya Hanum.


"Wajar bu Hanum! ini adalah hal wajar yang di alami setiap pasangan. Jika saat pertama bu Hanum merasakan mual, nah saat ini pasangan bu Hanum yang alami."


"Jadi, maksud dokter apa?" tanya Hanum yang semakin bingung.


Sindrom couvade atau kehamilan simpatik adalah kondisi yang terjadi ketika pria merasakan gejala kehamilan pasangan. Tak ada perawatan spesifik yang bisa dilakukan untuk mengatasi kondisi ini, namun gejala bisa diredakan dengan menerapkan teknik relaksasi hingga konsumsi herbal.


"Jadi maksud dokter. Saya yang hamil, suami saya yang merasakan mual, sama seperti gejala awal kehamilan pertama saya dok?"


"Benar bu hanum, seperti ikatan batin. Mohon banyak bersabar! bisa jadi kehamilan bu Hanum yang kedua ini lebih kuat, tidak merasakan mabuk. Juga saya berharap bu Hanum rutin, dan kembali mengecek karena maaf! proses jahitan kemarin masih sangat terbilang muda."


"Ah, iya dok! benar sekali, bahkan kenapa bisa terjadi ya? bukankah setelah masa empat puluh hari, saya menjaga untuk menunda dan minum pil kontrasepsi tidak pernah telat?"


"Itu kuasa Tuhan bu Hanum. Bisa saja bu Hanum telat seperkian detik. Jika tidak telat, ini sudah menjadi rejeki bu Hanum dan pak Rico. Sekali lagi saya ucapkan selamat ya bu Hanum."


"Sama sama dok. Kalau begitu saya permisi."


DI LOBY.


"Mas, udah enakan. Biar aku yang nyetir aja ya gantiin mas?" Hanum menatap suaminya yang masih menutup kain.


"Tidaak usah sayang, mas sudah suruh Erwin jemput mobilnya. Biar dia yang kendarai. Kamu jangan melakukan apapun!"


"Ya udah, nih jeruk yang kamu mau. Kok bisa dari jeruk bayi jadi ke jeruk lemon?" mengelap dengan tisue basah.


"Ah, iy mas salah. Mas pikir jeruk lemon ini jeruk bayi. Mas salah bukan oren, tapi tepatnya kuning." senyum Rico yang menggigit tanpa rasa ngilu.


"Mas, tadi dokter bilang. Mas itu mengalami kehamilan simpatik atau disebut juga sindrom Couvade, terjadi ketika suami ikut merasakan tanda tanda kehamilan yang dialami oleh sang istri. Umumnya faktor pemicunya adalah stres dan rasa empati suami kepada istri yang sedang mengandung. Hanum ingin mas ga perlu merasa bersalah, dan membuat Hanum hamil lagi menjadi beban. Hanum ga apa apa kok! bener deh, aku yakin mas kepikiran kan?"


"Iy sayang. Maafkan mas ya!"


Hanum menganguk, dan menatap dalam suaminya saat ini. Ia jadi merasa bersalah, karena dirinya sedang Hamil, maka mas Rico yang akan mengalami mabok selama beberapa bulan di trimester awal.


"Y udah, mas ga usah panik atau merasa bersalah lagi ya! Ini benar rejeki untuk kita. Hanum ga merasa terbebani kok. Dan tuh Erwin udah datang, mas bisa tiduran saat ini." Hanum menunjuk pundaknya untuk dijadikan sandaran Rico.


KE ESOKAN HARINYA.


Di hari tanggal merah, Hanum berusaha ingin turun dari ranjang tempat tidur. Hari ini mas Rico akan kedatangan tamu, tapi entah mengapa Hanum yang ingin melepaskan eratan tangan suaminya. Semakin sulit untuk di lepas, Hanum menoleh dan menatap kilat ke wajah suaminya.


"Mas, aku sudah mandi dan wangi. Kamu sudah membuat kekacauan dan mengkoyak tubuhku lagi, bukankah kita akan kedatangan tamu?"


"Sayang, untuk apa kamu terburu buru. Mas masih ingin memelukmu, rasanya sangat sebentar jika waktu memelukmu, tidak kah selama satu hari kita seperti ini? ini membuat mas merasa aman, dan tidak mual. Entah kenapa mas ingin seperti ini, memelukmu terus."


"Mas, jangan berlebihan. Aku belum menyiapkan makanan, aku juga harus mandi lagi."


"Heuuumph, bagaimana kita mandi bersama?" tatap Rico membuat Hanum semakin ingin mengigit bawah bibirnya.


Tak lama, Rico yang menempelkan bibirnya ke ranum Hanum, membuat sesuatu kilat seperti sambaran kecupan.


"Mas," teriak Hanum mode manja, pasalnya ia masih meminta bibi menyiapkan sesuatu, dalam mode telepon. Lalu Hanum cepat cepat mengakhirinya.


"Kenapa, bukankah ini wangi alami?" senyum Rico membulat matanya menatap sang istri.


"Mas kamu bau sekali, tapi aku suka .." goda Hanum, agar mood Rico tidak turun setengah centi.


Hingga di mana, Hanum merasakan sesuatu yang masuk kedalam organ pribadinya. Tangannya menjambak halus rambut mas Rico, sebelah lagi menarik sprei merah jambu dengan bahan licin dan halus. Hingga di mana suara engah membuat mereka menyatukan raga dan jiwa dengan sempurna.


Rico sangat berhati hati, karena sang istri sedang hamil. Entah mengapa di saat momen ia bersama Hanum, ia sangat malas untuk melakukan aktifitas yang membuatnya ingin di rumah memeluk sang istri.


Aaach!! Uuuch!!Maas!! itulah suara desis mereka di saat menyatukan dalam ranjang, hingga mencapai puncak. Suatu ponsel berkali kali membuat suasana mood mereka yang sedang menggebu, ambyar.


"Mas, ponsel mas bunyi." bisiknya masih mode menahan rasa yang bercampur.


"Biarkan saja, kita selesaikan dulu. Jika itu Erwin, mas akan potong gajinya selama enam bulan kedepan!"


Hanum hanya pasrah, ia tak mengira jika suaminya merasa terganggu. Siapapun akan membuat kemarahannya menjadi denda, karena moodnya berubah aneh semenjak kemarin. Hanum berusaha membuat desiran agar mas Rico kembali semangat dan cepat, hal itulah yang membuat Hanum, inisiatif agar mas Rico tetap berada di zona mood aman. Dan tidak marah marah pada bawahannya.


Mengalihkan dan membuat perkataan manja, adalah hal yang membuat dirinya mempuyai ide. Hanum berusaha meraih earphone dan memasang satu masing masing, lalu ia setelkan music yang membuat mereka sedang memadu tetap di zona aman tak mendengarkan bel di luar. Hal itu, agar mas Rico cepat menuntaskannya. Sungguh ia lelah, karena pagi ini ia sudah di gempur bekali kali dalam waktu yang cukup membuatnya lelah. Meski kali ini Hanum sangat fit.


Bayangkan saja, bangun di pukul empat. Hingga pukul delapan, mas Rico lelah tertidur. Lalu bangun memulai kembali ketika aku telah mandi sudah dua kali. Dan kini harus mandi kembali. Benak Hanum, masih membuat suasana mood suaminya baik.


DI LUAR, RAY KESAL.


Ray yang memencet bel, ia ingin menanyakan sesuatu tentang masalah privasi. Namun sudah setengah jam menunggu, masih juga Rico belum datang.


"Akh, gila. Apa pasangan suami istri sengaja tak membuka pintu? Sudah jam sembilan, apa mereka belum bangun. Haah, pasangan pemalas." ucap Ray yang masih menunggu di ruang tamu.


Tak lama ia menoleh kala Erwin datang, hingga di mana tatapan Ray sebal dan menyandar dua tangan, bahu ke dinding pintu.


"Hei, kau kesini juga. Apa hari tanggal merah Rico masih memberikan pekerjaan padamu Erwin?" tanya Vero.


"Ah, ya. Pak Rico meminta dua kilo lemon segar. Jadi saya harus datang saat ini."


"Sebanyak itu, untuk apa?"


"Untuk jus Lemon, dan untuk di e.m.u.t alias makan langsung. Ini perintah pak Rico dan ia yang ingin." senyum mengering Erwin, membuat tatapan pias, Ray menelan saliva.


Tbc.


Author mau bilang makasih, udah mampir di karya Dady Danzel. Mohon maaf karya lama masih sepet mata, dilihat karena puebi masih berantakan dan belum sempat di revisi.