BAD WIFE

BAD WIFE
KUATNYA CINTA



Rico langsung ke rumah sakit malam itu juga setelah mendapat kabar, bahwa Hanum jatuh dari ojek online saat berjalan pulang. Rico merasa bersalah karena membiarkan kemauan Hanum yang ingin pulang, sementara Rico saat itu panik akan jantung sang papa yang kambuh.


“Han, kamu kenapa bisa jatuh? Gimana ceritanya?” tanya Rico dengan wajah khawatirnya.


“Aku nggak apa apa Rico, cuma jatuh sedikit saja nggak ada luka serius, aku juga bisa langsung pulang, aku yang salah karena terburu buru, ga liat kalau ada motor lewat juga." jawab Hanum.


Tiba-tiba handphone Hanum berbunyi singkat. Ada pesan baru di sana.


[ Itu sedikit peringatan untukmu Hanum kalau aku tidak pernah main main dengan kata kataku, sudah aku peringati batalkan pernikahan! ]


Hanum langsung menatap Rico. Jangan sampai Rico tau, jika ia mengalami hal yang lebih ngeri lagi dari apa yang terjadi malam ini. Karenanya, Hanum kecelakaan.


“Han, kamu kenapa?” tanya Rico yang heran menatap kepanikan di wajah Hanum.


“Ah nggak, aku nggak apa apa Rico,” kilahnya.


“Siapa yang menghubungi kamu?” tanya Rico.


Hanum kembali menggeleng. “Cuma operator Ric,” jawabnya lagi berbohong.


“Han, tatap aku, apa yang kamu sembunyikan? Apa yang kamu takutkan?” tanya Rico menggenggam tangan Hanum.


“Lusa sidang akan digelar, nggak ada yang perlu kamu takutkan Han, apa ada yang mengancammu?” tanya Rico, menebak.


Hanum masih menggeleng. “Nggak Rico, aku baik baik saja,” ucapnya. Ia menghela napas.


“Entahlah, mungkin aku hanya kecapekan dan terlalu gugup untuk lusa nanti, aku belum pernah berurusan dengan pengadilan seperti ini, belum lagi pernikahan kita." jelasnya, mencoba mengalihkan perhatian Rico.


“Kamu tenang ya Han, aku akan terus ada bersamamu. Semua akan baik baik saja!" ucap Rico, menatap matanya dalam dengan sorot mata yang tulus.


Hanum mengangguk dan menunduk. Wanita bernama Meri benar di tuntut, akan pencemaran nama baik. Belum lagi soal Adelia yang saat itu mendorong dirinya hampir jatuh dari balkon. Sehingga membuat Mark sakit jantung kumat, di larikan ke rumah sakit. Dan Rico yang panik, ia membiarkan Hanum naik ojek online pulang ke rumahnya.


"Aku antar pulang, maafkan aku ya Han!"


"Aku ngerti Rico, setelah ini kamu kembali ke rumah sakit. Aku akan baik baik saja di rumah. Bukankah kita akan selalu bersama?" senyum Hanum.


Dan ternyata benar, tidak hanya di situ saja, pagi harinya saat Hanum sampai di kantor tempatnya bekerja, ia sudah menemukan sebuah amplop putih di meja kerjanya. Saat ia duduk dan membukanya, jelas di sana tertulis bahwa ia dipecat dari posisinya di market Marco.


“Apa lagi ini ya Tuhan?” lirih Hanum. Seketika ia melemah. Ia menyangga kepalanya dengan tangannya. Mengetuk ngetuk keningnya dengan kepalannya sendiri. Kebingungan dan kepedihan tampak jelas di wajahnya.


Handphone nya pun berbunyi. Ia mengingat nomor yang tertera di sana adalah nomor Adelia yang mengirimkannya pesan tadi malam. Putus asa ia mengangkat panggilan itu.


“Selamat pagi Nona Hanum.” Suara Adelia berhasil membuat jiwa Hanum gamang.


“Selamat atas pemecatan anda, saya turut berbahagia. Ingat, saya masih bagian dalam tempat kamu bekerja, lagi pula semua sudah dipegang atas nama aku perusahaan itu. Aku tidak suka kamu menikah dengan kakak ku! jadi agar menjaga jarak, pergi dari hadapanku termasuk di market Marco."


"Adelia, bicaralah! kenapa kamu tidak menyukaiku? salahku apa sih?"


Panggilan itu langsung berakhir. Hanum menahan isakannya, ia menutup wajahnya yang sangat kacau itu.


“Han, lo kenapa?” ungkap Dewi.


“Gue nggak apa apa Dew,” jawab Hanum tersenyum, setelah mengangkat kembali wajahnya untuk menatap Vita dari arah belakang.


“Astaga! Lo dipecat? Lo salah apa Han?” tanya Vita terkejut, ia menutup mulutnya saking terkejutnya setelah sekilas membaca surat di atas meja Hanum.


Terlalu sakit, terlalu pahit, pundaknya terlalu ditekan hingga untuk berdiri pun Hanum merasa tidak sanggup. Kenapa ia harus berhadapan dengan masalah pelik.


Hanum mengemasi semua barang barangnya dari meja kerjanya itu. Ia pun meninggalkan kantor setelah pamit pada Dewi.


“Lo nggak coba tanya ke pak Bos dulu Han?” Vita masih sempat memberikan usul.


"Pak Rico?"


"Iya, dia kan calon suami kamu. Meski bu Adel yang pegang, tetap aja pak Rico harus tau. Masalah bu Adel udah keterlaluan soalnya. Gue lebih suka dia yang keluar dari market Marco. Meski mustahil." jelas Vita.


"Rico lagi urus papanya, pak Mark di rumah sakit. Biar nanti gue temui langsung Adelia. Kita harus bicara, kenapa dia selalu aja ga suka sama gue."


"Ya udah, kita cuma bisa kasih usul. Kedatangan kamu kesini cuma mau ambil berkas, dari meja bu Adel kan? tapi malah kamu dapetin pemecatan. Ga adil tau, kalau pak Rico tau dia pasti marah." ucap Dewi.


"Ga usah khawatir ya! aku pulang dulu, jangan lupa nanti datang ke pernikahan ya. Doain supaya pernikahan aku lancar." senyum Hanum.


"Pasti, kita bakal datang dan selalu doain terbaik buat kamu Han." ucap Vita dan Dewi bersamaan, lalu melambai tangan kala Hanum sudah pamit, pergi menjauh.


Saat berjalan, lagi lagi Hanum menatap sinar ke arahnya.


BRAK!!!


Hanum terlempar setelah terserempet oleh sebuah mobil yang melaju. Tubuhnya itu sempat berguling di jalanan dan membuatnya langsung tidak sadarkan diri.


Hanum membuka matanya, aroma dan ruangan itu sudah jelas memberikan sinyal ke otaknya, memberitahu bahwa ia berada di ruangan khusus. Meski tatapannya kosong saat sebelum kejadian, ia masih mengingat bagaimana ia merasakan sakitnya ditabrak mobil yang melintas.


“Sayang, kamu sudah sadar? Kamu baik baik saja?” tanya mama.


“Mama, aku baik baik saja,” jawabnya.


“Mama sangat takut mendengar kabar kamu masuk rumah sakit. Mama panik,” ucapnya memegangi anaknya itu lalu memeluknya.


"Aku kenapa, mah. Maafin Hanum buat mama khawatir!"


"Rico datang, dia langsung bawa kamu pulang setelah dilarikan ke rumah sakit. Mama akan jaga kamu sayang."


Tak lama Rico datang, ia mendekat dan meminta maaf pada Hanum.


"Maafin aku Han! aku ga bisa jaga kamu, karena jaga papa. Sekarang bagaimana kondisi kamu?"


"Aku yang minta maaf, karena menjelang kita akan menikah. Aku buat kamu sulit Rico."


"Enggak! semua udah aku atasi, orang aku sudah cari Adelia. Seingat Erwin, dia di kurung disatu rumah. Tapi ada seorang pria yang bawa dia, lari dan mobil itu sedang ditangani polisi. Adelia berkomplot dengan seseorang. Tapi aku bersyukur, kamu tidak cedera. Mulai saat ini aku akan terus berikan penjagaan ketat buat kamu dan mama kamu di rumah!"


"Rico, itu berlebihan. Aku ga merasakan sakit dan terluka. Kamu harus jaga papa. Kita berdoa minggu depan pernikahan tetap berjalan dengan lancar." balas Hanum.


Mama Rita mengangkat telepon dari Lisa, sementara Rico dan Hanum saling memegang erat tangan.


"Maafin aku Han! aku ga tau kenapa Adelia berubah total 80º, aku merasa bersalah karena adikku. Kamu jadi ancaman, setelah ini aku pastikan tidak akan terjadi."


"Aku ambil hikmah dari semuanya Rico, aku akan terus percaya kamu. Aku akan terus mempertahankan hubungan kita. Karena aku yakin, begitu banyak yang cemburu karena aku akan di nikahi pria sebaik dirimu." puji Hanum.


Tbc.