
"Apa, Hanum beberapa kali pemeriksaan. Dan harusnya besok kembali datang?" syok Alfa.
"Ya, dan benar saja. Bu Hanum mengalami hamil anggur, setelah saya lihat catatan dari dokter Felicia. Janinnya tidak berkembang, kosong. Itu bisa terjadi dan berkali kali bu Hanum mengalami jatuh sehingga tidak berkembang. Tekanan batin yang kuat, membuat janin tidak aktif." jelas dokter.
"Apa semua salahku, apa yang harus saya lakukan dok?"
"Sebelumnya saya mendiagnosa kehamilan diluar kandungan. Tapi kini setelah pengecekan dengan adanya lendir merah pekat. Bu Hanum harus segera saya kuret. Apa bapak bersedia kami tangani?" tanya dokter Feni.
Hamil anggur atau yang dikenal juga sebagai mola hidatidosa adalah kelainan kehamilan yang jarang terjadi. Kondisi ini terjadi ketika sel telur yang sudah dibuahi dan plasenta tidak berkembang secara normal. Akibatnya, sel sel abnormal tersebut akan membentuk sekumpulan kista yang bentuknya menyerupai anggur putih. Dan saya harus meminta persetujuan bapak!
"Saya ga ngerti istilah medis, apakah bibi saya yakni dokter Felicia ada, dokter? saya ingin tanyakan langsung?"
"Dokter Felicia sedang tidak hadir. Tapi saya memiliki riwayat catatan dokter Felicia. Dan benar saja saya mengecek ulang. Diagnosa nya adalah Hamil anggur." jelas dokter Feni.
"Apa yang harus saya lakukan, apakah istri saya akan selamat?"
"Hamil anggur tidak boleh dipertahankan karena kondisi yang terjadi saat sel telur yang dibuahi tidak berhasil menjadi embrio, alhasil hamil anggur tidak akan menjadi janin hingga bayi. Jadi bapak cukup tanda tangani, saya tim medis akan melakukan sebaik mungkin. Tentunya dengan disertai doa pak!"
Alfa menutup wajahnya, ia tak menyangka jika saat ini Hanum diam diam sedang hamil.
Mungkin ia menutupinya agar rencana berpisah darinya berjalan mulus. Tapi setelah mengetahuinya Alfa benar benar syok dan pening dikepala.
Runtuhan jiwa pria pemain wanitanya, runtuh begitu saja, ketika impian mimpinya saat anak kecil memegang tangan Hanum tersenyum padanya, kini sirna dan kode meninggalkannya.
"Pak Alfa. Bagaimana apa bersedia menandatanganinya?"
"Dok! saya tanda tangani segera. Selamatkan kesehatan istri saya. Tapi apa boleh saya tanya, setelah proses kuret dan tindakan operasi hamil anggur. Apa istri saya akan bisa hamil?" tanya Alfa membuat dokter terdiam.
"Sebagian besar wanita lebih dari 98% yang mengalami hamil anggur, bisa hamil normal pada kehamilan berikutnya. Mereka juga tidak mengalami peningkatan risiko komplikasi pada kehamilan berikutnya. Tentunya ikhtiar dan promil, juga dengan rutinitas sehat antara bapak dan ibu!"
Penjelasan dokter Feni. Membuat Alfa menyetujuinya. Sehingga ia menunggu di luar dan dengan keadaan panik tak bisa berkata kata lagi. Belum lagi mamanya baru saja pulang dari rumah sakit. Alfa tidak sanggup mengabarkannya saat ini.
'Inikah karma aku yang mempermainkan wanita? sebejadnya aku. Tentu aku ingin mempunyai istri dan anak anak yang baik dan lucu setelah bekeluarga. Hanum bertahanlah!hanya karna kondisi fisikmu mengingatkan aku di masa lalu. Aku begitu membencimu mati matian dan menyiksa batinmu. Jika terjadi sesuatu maka aku adalah pria yang bersalah akan hal ini.' batin Alfa lemas.
Ia duduk menunggu proses Hanum yang sedang ditangani dokter di ruang Igd.
Tak jauh, seseorang berlarian dan meminta Alfa menjelaskan semuanya.
"Ka Lisa, lepasin kerah Alfa! Jika saya mendorong Hanum. Tidak mungkin saya kasih tau kakak keadaan Hanum saat ini."
Lisa memegang keningnya, bagai orang frustasi. Hingga dimana Lisa bingung mencari alasan pada mamanya tentang Hanum.
"Dasar pria bodoh! mamaku akan pulang dan ingin jenguk Hanum. Kalau dia tau Hanum putri bungsunya ada di rumah sakit. Apa yang akan terjadi nanti?" kesal Lisa.
"Sama. Mama Maria juga baru pulang, bahkan saya tidak bicara untuk mengabarkannya. Saya bersumpah untuk membahagiakan Hanum. Tolong dukung saya ka Lisa!" Alfa bersimpuh.
Lisa terkejut, ini adalah Alfa yang tidak pernah ia lihat.
Bahkan mau memohon mempermalukan dirinya begitu saja. Lisa yang ingin meminta Alfa bangun. Ia juga ikut terkejut ketika Fawaz datang dengan baju kedokterannya. Lalu tepat berdiri dihadapan mereka.
Bahkan Lisa melihat jelas, Fawaz melepas seragam kedokterannya. Lalu di taruh di kursi, dan mengangkat lengan baju tangannya. Satu persatu, Lisa tak tau jika Fawaz akan memukul Alfa saat itu juga.
BRUUUGH!!
"Kau pantasnya pergi Alfa! jika sesuatu terjadi pada Hanum. Aku tidak akan diam!"
"Sial! gue suaminya. Lo siapa Fawaz?" teriak Alfa memegang pipinya yang merah, mengeluarkan darah akibat pukulan Fawaz.
"Stop! hentikan, ini rumah sakit! Fawaz. Aku ga bela siapapun saat ini. Keluar dari sini. Bertarung di luar kalian semua!" teriak Lisa.
Hal itu menyadarkan tatapan dua pria yang mengarah pada wajah Lisa saat ini. Lisa sedikit beringsut, kala dua pria itu sedang mereda emosi yang tidak stabil.
"Kenapa lihat wajahku, aku bukan mafia yang patut kalian tatap dengan tajam!" ucap Lisa yang menjauh duduk.
Alfa segera melepas tangan Fawaz. Lalu mendorong dokter itu untuk jaga sikap.
"Sikapmu tidak pantas pada istri orang. Hai dokter sadarlah! Hanum masih istriku. Aku akan mempertahankannya!"
"Aku akan hilang dari hadapan Hanum. Jika itu dari ucapannya sendiri Alfa Jhonson." balas Fawaz.
Sementara Lisa, ada sesak dan berusaha menutup wajahnya. Namun Lisa berdiri kala lampu Igd meredup tak menyala.
To Be Continue!!