BAD WIFE

BAD WIFE
BUKU PANDUAN



Lisa dan Fawaz telah berada di kediaman Hanum, Lisa mendekat ke arah Hanum. Satu minggu sebelum akad dan resepsi di mulai. Lisa begitu khawatir, kala Hanum sempat konflik dengan adik dari Rico.


"Han, untung kamu ga kenapa kenapa. Tapi kakak udah bilang sama Fawaz, mau rekomendasi kamu, buat cek ke dokter."


"Buat apa kak? Hanum ga apa apa kok."


"Luka diluar ga ada, tapi kakak dan mama takut kamu ada luka di dalam. Itu yang paling ditakutkan Hanum."


"Ya udah, iy. Hanum nurut deh kali ini. Tapi sebelumnya juga Rico udah kirim dokter spesial kak. Alhamdulillah, jadi acara pernikahan ga di undur." jelas Hanum.


"Tetap aja, mama khawatir. Kamu jangan keluar rumah ya! lusa kamu udah jadi istri seorang pria pilihan kamu Hanum. Mama sangat beruntung, kalian udah berkeluarga. Mama tenang, mulai nanti kamu harus nurut setiap langkah kaki kamu, harus restu suami kamu. Bukan ijin mama lagi."


Mmmmmuuch! Lisa dan Hanum memeluk dan saling mencium pipi bersamaan. Hanum di pipi bagian kiri, dan Lisa bagian pipi kanan. Mama Rita begitu senang, ia merasa hidup kedua putrinya baik baik saja, sudah ada yang menjaga.


Hal itu mungkin, yang di rasakan sang ibu kala bahagia bercampur sedih, karena melepas kedua putrinya. Dan akan dibawa kemanapun oleh suaminya kelak.


"Mah! Hanum tinggal bentar, angkat telepon ya."


Mama mengiyakan, lalu kembali berbincang dengan Lisa. Dan pengalamannya di ternate ikut Fawaz.


Handphone Hanum kembali berbunyi, kali ini bukan pesan, melainkan panggilan. Ada nama Rico di sana. Kembali lagi Hanum mengatur napas untuk bisa mengangkat panggilan dari Rico dengan suara yang sebisa mungkin dibuat normal.


“Halo Ric ,” sapa Hanum.


“Sayang, kamu di mana?"


"Di rumah, aku ga keluar rumah Rico, sekalipun mau. Mama dan pengawalmu menjaga ketat bukan?"


"Hahaha, benar juga. Tapi jika itu bertemu aku, tidak masalah bukan Hanum sayang?"


"Rico, kita dalam pingitan. Kamu bersabar, Lusa kita bertemu bukan." tawa Hanum.


Hanum menunduk dalam, mengatur pola napasnya agar tidak terdengar mencurigakan. Karena Rico lagi lagi membisikan kata kata pujangga yang mungkin membuat sebagian orang geli di telinga, jika mendengarnya.


“Han, kamu baik baik saja kan. Kenapa diam aku tanya?” tanya Rico.


Pertanyaan sederhana yang hampir membuat Hanum menjerit tidak karuan. Kala Rico masih saja membicarakan malam pengantin, hal itu membuat nafas Hanum gugup tak bisa ia bayangkan.


“Yah, I’m Okay Rico, kenapa?” balas Hanum, padahal hatinya gemetar.


“Ahm, kalau gitu, kamu tunggu aku di rumah kamu ya, aku mau bilang sesuatu sama kamu,” ucap Rico.


“Jangan nekat! kita ga boleh ketemu, masa pengantin masih aja keluyuran. Bersabarlah Rico sayang." lirih Hanum dengan lembut.


Hanum mengira bahwa sesuatu yang ingin dikatakan Rico itu adalah sesuatu tentang sidang yang akan digelar lusa. Sesuatu tentang Meri dan Adelia yang akan didakwa. Namun nyatanya ia mendengar pengakuan lain dari Rico, yakni kamar pengantin.


Di teras rumah, Hanum justru menyatakan perasaannya. Ingin sekali membalas perasaan pertanyaan Rico, tapi ia sangat malu.


Hanum tau, wajah Rico terlihat tulus dengan apa yang ia ucapkan. Netranya itu juga tidak berbohong bahwa ia benar benar mencintai Hanum, dan menantikan malam pengantin dengan jarak sangat dekat. Dan selalu ingin bersama, Hanum juga masih membayangkan menjadi istri yang baik, dan memperlakukan suaminya kelak ketika ia telah sah jadi istri Rico.


Hanum menahan dirinya. Ia menahan air mata dan keharuan yang semuanya ingin ia keluarkan dengan jeritan sampai ia puas. Karena Rico selalu saja mengirim puitis dan kata kata pesan suara.


“Rico, aku tahu kamu tulus. Aku juga sudah menyimpan rasa yang sama setahun belakangan ini, tapi situasinya sekarang berbeda. Aku pernah menikah, dan kamu masih saja memperjuangkan aku. Aku bahagia dinikahi kamu."


"Aku tidak peduli fisikmu Hanum, aku hanya ingin kamu selalu percaya padaku! kita mengarungi dan mengisi junior Rico dan Hanum nanti, di rumah kita."


Panggilan pun berhenti, Hanum menutup panggilan dengan senyum. Hingga beberapa saat seseorang mengetuk dua kali pintu ruang tamu.


"Neng Hanum, ada paket."


"Owh. Buat Hanum mbok, makasih ya."


Hanum sempat senyum, lagi lagi Rico mengirim paket agar dirinya tidak jenuh. Hanum pamit ke kamarnya, rasanya ia ingin membuka secepat mungkin. Penasaran dengan akhir cerita telenovela yang ia tak bisa lihat.


Maka Rico selalu kirim buku agar Hanum tak jenuh, untuk mengisi luangnya yang selalu di dalam rumah.


"Di kirim lagi?" cetus Lisa.


"Iya, jilid tiga kak. Rico yang kirim, Hanum naik dulu ya."


"Kalau udah, bagi kakak baca ya, Han." Hanum mengicep tanda ok! pada Lisa.


Sesampai di kamar, Hanum duduk di atas ranjang. Lalu membuka kertas coklat dengan tali pita berwarna senada. Sesaat Hanum bingung, kala ia membukanya. Bukan buku biasa yang ia inginkan.


"Apa ini.. Ahm! Rico..., kamu menyebalkan." lirih Hanum.


Hanum melempar buku itu, lalu ia meraih ponselnya dengan memencet nama Rico di dalam phone book.


Tuut!


Tuut!


Beberapa menit tak kunjung di angkat, hingga sesaat Rico mengangkatnya tanpa rasa bersalah.


"Halo, Rico kamu jahat. Kenapa bukan buku series jilid tiga. Kenapa kamu kirim judul yang berbeda?"


"Hemph! memang sudah sampai? padahal buku itu baru aku pesan, dan mungkin butuh waktu tiga hari sampai paling cepat."


"Apa, lalu buku ini?"


"Owh! itu, hahaha. Bacalah! gunakan isi hatimu, untuk malam nanti. Agar tidak bosan, aku sengaja mengirimnya. Agar kamu tidak takut dan was was." goda Rico.


"Kamu jahat, kamu kirim buku panduan malam pertama. Kamu itu buat aku malu. Untung aku buka seorang diri di kamar. Gimana kalau seperti biasa, aku buku di depan mama dan Lisa? kamu Jahat Rico, kamu mau bikin aku malu."


Rico tertawa keras, ingin sekali ia video call. Menatap wajah Hanum saat ini. Andai saja, tapi Rico tetap menenangkan Hanum.


"Hahaa, ya sudah. Maafkan aku Hanum! buku itu tidak perlu kamu baca. Tapi cukup dilatih, kelak aku akan menjadi gurumu."


Tuut .. Tuut! ponsel sengaja Hanum matikan.


Hanum mematikan ponselnya. Lalu dengan sengaja melemparkannya ke atas bantal. Wajahnya ia tutupi, dan tiba saja Lisa masuk ke kamarnya.


"Han, kamu lagi apa. Pasti lagi baca ya? mana buku series jilid tiganya. Kakak mau liat dong?" sapa Lisa.


Hanum terdiam menutup rapat, dan hal itu membuat mata Hanum mengumpat paket yang baru saja ia buka.


Tbc