BAD WIFE

BAD WIFE
SELESAI LISA



"Lis, kenapa diam?"


"Ga apa, pemotretan iklan udah selesai. Akhirnya gue bisa cuti. Gue hanya ga sangka aja, lawan satu group management. Mempertemukan gue sama mas Fawaz dan madunya."


"Serius, dia bilang apa tadi. Gue kasih peringatan ya sama cewe itu."


"Sin, semua salah gue juga. Gue emang terlalu gila kerja, ga terbiasa hidup tanpa kesibukan. Andaipun mas Fawaz ga normal dia nikahi Nestia. Gue ikhlas! lagi pula kalau mas Fawaz berhenti sama Nestia. Apa mungkin gue bisa terima lagi, suami yang udah nikah lagi tanpa sepengetahuan kita tahu. Belum lagi gue masih kebayang, bakal jadi toxic kalau gue dan Fawaz bersama lagi. Saat anak gue lahir pun! bakal terus kebayang gimana gue dan Fawaz yang bakal ungkit masalah terus. Jadi gue putusin tanda tangani surat pengadilan, di bantu pengacara Rico."


"True, gue paham apa yang lo rasain." Sinta menyabarkan. Saat itu juga Sinta dan Lisa berpisah, akan kerjaannya masing masing.


Saat di belakang layar, Fawaz menemui Lisa memohon ampunan. Ia sudah sadar apa yang terjadi. Belum lagi ia semakin tidak bisa berkompromi akan dibawa kemana hubungannya dengan Lisa. Fawaz merasa bersalah dan bingung untuk kembali pada Lisa, tapi satu hal Fawaz sedang mencari bukti untuk saatnya tiba ia kembali menemui Lisa.


'Maafkan mas! Lisa, mas bersalah sama kamu. Semua karena mas bodoh, tidak bisa tegas. Mas sadar, tapi mas terikat suatu hal yang mas harus bersamanya.'


'Cukup mas Fawaz. Terimakasih atas dua tahun kita menikah, kita juga menanti anak kita lahir, dan tumbuh momen indah bersama. Terimakasih juga atas momen manis yang pernah kita jalani. Jangan cari aku! meski kamu selesai dengan Nestia. Itu sudah cukup membuktikan, rasa sayang dan pengorbanan setiap pasangan dimataku. Kita memang tidak berjodoh lama.'


'Lisa, dia punya riwayat sakit jantung! jika aku menggugatnya sekarang. Maka aku akan bermasalah dengan hukum, dia akan berhenti bernafas dan semua karena aku. Mas sedang mencari saksi untuk mas membela, agar mas menggugatnya. Jadi mas mohon, Lisa! tunggu mas!'


'Mas, kamu seorang dokter masih bisa mengurus segala penyakit, yang dialami beberapa pasien, lalu hanya satu wanita bernama Nestia. Kamu meminta aku menunggumu mas? sesulit itukah kamu belum bisa membereskannya dan memilih?! aku kira setelah kamu tau kebusukan Nestia, video full dan yang beredar setengah mencecar namaku menjadi jelek. Kamu sudah tahu jawabannya, jika dia bermuka dua. Kamu masih bisa membelanya, dan meminta aku menunggumu mas?'


'Maafkan aku Lisa!'


Lisa masih mengingat obrolannya dengan Fawaz. Ia kini mulai mengepakan cara, bagaimana ia bisa bertahan hidup dan bahagia dengan sang anaknya kelak. Tanpa bayang bayang sakit dan luka yang di torehkan mas Fawaz. Dua tahun pesta pernikahan, sudah cukup membuat momen indah yang dilakukan Fawaz. Dan itu cukup untuk memutuskan. "Aku tidak akan mundur untuk memberikanmu kesempatan mas." gumamnya.


Sementara Fawaz duduk terdiam. Ia memicingkan senyuman, lalu menatap ponselnya yang berdering dari Nestia. Tak lama ia melanjutkan kembali melangkah, hingga membuka gagang pintu mobilnya agar terbuka.


Fawaz duduk lalu menyalakan mesinnya, ingin sekali ia melakukan pedal gas dengan kencang, melewati taksi yang di naiki Lisa. Dengan wajah geram dan keringat mengepal, ada rasa benci yang muak melihat ke pura puraannya saat ini. Ia sadar telah gagal menjadi pria yang melindungi Lisa, ia telah menorehkan luka yang sulit Lisa lupakan.


"Kamu tidak tau aku. Lisa jangan pernah menasehatiku, siapa kamu. Kamu hanya orang kepercayaan orangtuaku, bagaimana bisa kamu menceramahiku seperti tadi! sementara aku juga korban."


Lisa pun sadar, ia menoleh ke arah jendela kanan. Lalu menatap mobil Fawaz yang berlalu kencang, melewatinya hampir menyerempet.


"Astaga. Orang kaya tidak tau aturan! Jika saja saya punya jantung. Bisa celaka ini." supir taksi menggeleng kepala. Menatap spion ke arah Lisa yang terdiam.


"Tak apa pak. Saya juga terkejut, mungkin pria itu tadi sedang buru buru. Bagus kita tak apa kan?" Lisa sedikit mengeles dan menutupi wajahnya.


"Ya. Buru buru, orang jaman sekarang hanya terlalu sibuk. Tetapi membahayakan nyawa orang lain. Tidak patut ditiru. Jika tadi saya berhenti dan mobil itu berhenti, sudah pasti berlanjut Non." senyumnya.


"Iy pak, lanjutkan saja pelan pelan bawanya. Saya tidak buru buru juga kok." pinta Lisa, ia menyandarkan posisi duduknya.


SETIBANYA DI KANTOR.


Lisa menuju ruangan barunya, ia mengambil dokumen yang tertinggal. Tapi beberapa orang menatapnya dengan sinis, salah seorang karyawan mengenalkan dirinya, setelah berdiri tepat di depan meja Lisa.


"Kenalkan. Saya Desi, ini dari pak Ray. Jika butuh sesuatu, saya ada di meja sudut belakang. Tapi saya juga masih baru, jadi hiraukan tatapan senior ya!"


"Owh. Begitu ya, baiklah. Saya Lisa." senyum berjabat tangan.


'Jangan menangis Lisa. Tagihan rumah sakit ini mungkin masih bisa di cicil. Jangan menyerah, keselamatan adalah yang utama. Abaikan masalah yang datang. Semua pasti akan berlalu!' deru batin Lisa, menyemangati dirinya sendiri.


Saat Lisa tersenyum, ia senang karena pekerjaan Lisa yang akan berakhir. Detik detik ia cuti, Lisa harus bekerja siang sampai malam, terlebih sampingan project iklan.


"Tolong periksa berkas ini, ingat saat ini juga saya tunggu. Dua jam bisa kan, cepatlah!" ucap Ray acuh.


Lisa mendengus nafas panjang. Ia menatap delapan tumpukan berkas hitam. Ia menatap langit tembok dan lampu kantor yang berada di atas kepalanya, menatap seisi ruangan dan menatap meja lain yang telah berkemas ingin pulang.


"Aaakh! ini sudah waktunya jam pulang kerja, hari hari akhirku, mengapa seburuk ini. Aku akan pulang jam berapa. Dasar Ray gila, mana bisa urus semua ini dalam dua jam. Sabar ya nak, bunda harus semangat bekerja demi kita." mengelus perutnya.


Tak ada hal lain, ketika semuanya telah pulang. Menyisakan dirinya dan ruangan bos yang menyala. Lisa tetap serius dan mengabaikan pesanan makanan dari Hanum


"Kak, lembur boleh. Di makan ya, jangan sampe enggak. Hanum bakal tunggu di lantai bawah. Kita bareng pulang ke rumah!" tutur Hanum.


"Hanum ga jauh dari kantor mas Rico, kita pulang bareng ya!" pesan Hanum, yang terlihat di ponsel Lisa.


Lisa menatap pesan dengan senyum. Di saat hatinya yang kacau, hanya adik, sahabat yang ia percaya. Ia pun menatap jam telah pukul delapan, hingga ia beres dan mengantarkan bersiap ke ruangan Ray.


TOK .. TOK.


"Pak Ray. Maaf, saya baru selesai. Saya mengantarkan ini!"


"Ya. Duduklah, saya akan cek satu persatu. Duduklah sebentar Lisa!"


Masih dalam tatapan diam, datar dan wajah kesal. Lisa menahan emosinya untuk menggebrak meja sang bos. Padahal bisa saja hanya mereka berdua, berbicara secara formal.


"Pak. Apa di periksa malam ini juga?"


"Ya. Jatah lembur tetap di hitung, tunggulah. kamu tidak ada waktu pergi atau berkencankan. Tunggulah, saya tidak suka ada berkas kesalahan!"


"Ciieh." gerutu Lisa, masih dengan bahasa hewan. Mimik bibirnya bergetar kesal, mengingat Hanum pasti, telah menunggu lama di loby. Belum lagi ketusan Ray, membuat Lisa tersindir kesal.


Lisa pun hanya pasrah. Ia meminta ijin dan mengirim pesan pada Hanum untuk tidak menunggunya. Meski ia tau, Hanum pasti kecewa.


'Han, kakak masih lama kayaknya. Kamu pulang duluan aja sama suami kamu! kasian Ghina dan Ghani kan!'


Tok! Tok!


"Masuk." suara sarkas Ray bergema.


Lisa pun menoleh, kala seseorang yang datang, adalah tak asing.


Tbc.