BAD WIFE

BAD WIFE
ROMANTIS



"Tidak, papa meminta kita pulang. Biarlah, esok kita bisa bertemu setelah pulang bekerja. Kamu ikut denganku ya!"


"Ric, jika di tempat kerja. Apa tidak apa, aku rasa tidak enak, jika karyawan semua tau."


"Kamu malu dengan siapa? Han, kita itu akan menikah. Biarkan saja orang bisa menebak sendiri, jangan pikirkan hati dan perasaan orang lain!"


"Tapi Ric, jika mereka berbicara aneh aneh lagi. Apa tidak membuat mereka syok, karena aku mendekatimu seperti ini, jadi seorang karyawan dan atasan ..,"


"Aku yang akan menutup sikap mereka padamu, kamu lupa Linda? Sudah! Ayo kita lanjutkan lagi."


Hanum dan Rico kembali menempuh perjalanan, ada hal yang tak biasa saat ini. Nasi goreng yang mereka inginkan telah habis, ada rasa kecewa dalam diri Hanum. Karena kebetulan nasi goreng tengah malam langganan mereka sudah habis beberapa menit lalu.


Rico mengajak Hanum mencicipi jajanan lain, yakni kembang tahu dan aneka kue basah yang dibungkus dengan daun kelapa. Mereka makan dengan raut bahagia, saling suap dan saat bicara pun, uap dingin dari mulut mereka berbuih dan saling terkejut.


Hanum dan Riko bagai anak bayi, yang baru melihat asap dingin. Ketika bicara, asap dingin itu berhembus Rico sengaja bicara O, sehingga Hanum yang melihat bibir Riko lucu dan tak habis habisnya ulah Rico membuat Hanum tertawa geli.


"Rico, sudahlah! Perutku sakit dari tadi tertawa terus!"


"Aku baru pertama kali, dini hari kita berada disini Hanum, aku kira hanya di negara Salju bisa bicara dengan asap putih yang keluar dari mulut kita." senyum lebar Rico, sambil mengusap ngusap tangannya.


"Sini tanganmu, menempel seperti ini. Jauh lebih hangat!"


Rico dan Hanum saling bersandar, menatap ujung perkebunan di bawahnya yang menjulang, Rico bersandar di bilik kayu bangku, sementara Hanum bersandar pada punggung Rico dan saling menautkan kedua tangan yang menempel.


"Tidur sejenak bolehkah?" lirih Rico.


"Tidurlah! Aku akan menunggu pangeran dalam dekapan, aku janji ga akan kemana mana. Agar pagi nanti, kamu bisa fresh mengendarai motor, agar kita cepat pulang dengan selamat!"


"Benarkah? ah! senang rasanya, punya kekasih pengertian." mencubit pipi Hanum.


\*\*\*


KEESOKAN HARINYA.


"Hei, kau kenapa?"


Pertanyaan seorang wanita menarik kesadaran irene dari bayangan malam mengerikan yang membuatnya jatuh sampai di titik ini, menyapu jalanan, tidak peduli panas siang dan dinginnya seperti saat ini.


"Kau kenapa, kau itu tuli ya? atau kau ini sengaja mau ditolong papa bukan cuma ingin kerja di rumah ini?" cetus Adelia kesal.


Adelia memang tidak suka orang asing datang dan tinggal di kediamannya, sang papa selalu saja baik pada orang lain yang belum tentu orang yang ditolong itu akan baik.


"Hah?" tersadar, nafasnya sedikit memburu.


"Aku tidak apa apa. Mbak, aku janji akan menyapu seluruh halaman ini dengan baik. Cuci piring sekalipun, tapi jangan usir saya ya!" isak tangis Irene.


Buru buru, Irene meraih sapunya lagi dan melanjutkan pekerjaannya. Hari ini ia mendapatkan tugas menyapu jalanan untuk bertahan hidup.


"Dasar wanita gila." desis Adelia yang merendahkan.


"Ssshhh!"


Irene meringis saat merasakan tangannya terasa ngilu saat udara dingin menusuk sampai ketulang. Ia memejamkan mata, untuk mengenyahkan rasa sakit di tangannya. Akan tetapi, hatinya jauh lebih sakit saat merasakannya karena itu hanya mengingatkan dirinya yang dulu dikenal, saat ini jauh lebih mirip pasien rumah sakit jiwa.


Saat masih memejamkan mata, sebuah motor sport mewah berhenti tepat di samping Irene, mengejutkan wanita itu karena suaranya yang cukup bising. Rico melepas helm, dan Hanum berdiri ikut melepas helm juga.


"Irene?" lirih Hanum, saat ia menoleh pada wanita yang sedang menyapu.


'Senang kau masih mengenaliku,' batin Irene seraya melanjutkan lagi menyapu dengan fokus, dan menghindar dari Hanum.


"Han, apa itu Irene yang kamu ceritakan?" tanya Rico memegang tangan Hanum.


"Mirip, tapi ada baiknya kita temui papa. Irene yang aku kenal tidak kusut, dan dia cantik. Tidak gimbal seperti itu rambutnya."


"Kakak bicarain wanita gila ini?!" teriak Adelia yang baru saja kembali dari olahraga paginya. Sehingga Rico dan Hanum menoleh ke arah Adelia yang mendekat ke arahnya.