BAD WIFE

BAD WIFE
KECELAKAAN



Hanum saat ini menghubungi Lisa dan sang mama. Mereka benar benar telah berkemas, Hanum pun sampai di depan rumah dalam waktu beberapa puluh menit. Ia membayar uang cash pada supir taksi, lalu segera berlari ketepian sudut dan memeluk sang mama yang menunggu Lisa mengunci pintu.


"Hey! kamu udah dateng aja. Kaget tau Han, kamu ini bener bener deh." peluk manja.


"Hanum pasti bakal kangen mama terus, Hanum sayang sama mama. Jangan sedih dan bahagia terus ya! janji sama Hanum mama!"


"Kamu nih, kaya mau pergi jauh aja."


"Jadi cuma mama doang nih yang di peluk?" sindir Lisa.


"Sini kita pelukan kaya teletabies. Seru kan, papa pasti bangga punya bidadari seperti kita."


Lisa dan mama dengan spontan ikut terharu, lalu Lisa mengajak segera pergi ke villa Feli, karna telah di tunggu.


Hanum sedikit lega, dengan bantuan dan ide tante Felicia, mereka percaya jika saat ini akan ada liburan dan kerja sama panjang antara Lisa dan ibunda Fawaz. Hal itu juga membawa sang mama agar tidak pernah sendiri.


"Kak! jagain mama terus ya. Janji sama Hanum!"


"Kamu ngomong apa sih Han, kayak orang mau pergi kemana aja. Pastilah, sama kaya kakak jagain kamu. Kamu juga jangan ilang ilang terus, kasih tau kaka apa yang kamu sembunyiin!" bisik Lisa mencubit pipi Hanum.


"Auuw sakit." kedip Hanum pada Lisa. Sementara sang mama sudah mengklakson agar anaknya itu cepat masuk.


TIN .. TIN!!


"Ayo sayang, nanti keburu malam!"


"Ok mah." serentak Hanum dan Lisa.


Hingga membutuhkan waktu empat puluh menit, Hanum meminta sang mama dan Lisa lebih dulu pergi ke villa. Hanum sudah berjanji pada tante Felicia, agar rencana ini tetap berhasil untuk Fawaz dan Lisa yang terbaik. Juga untuk sang mama, agar bisa terus tinggal di tempat yang aman. Tante Feli telah berjanji padanya, asalkan Lisa bisa menikah dengan Fawaz, maka keluarga Jhonson tidak akan berani mengusiknya.


"Han, kenapa kamu di sini?"


"Mbak Nazim. Hanum janji bakal nyusul secepat kilat. Secepat paket express." senyum Hanum.


Mama dan Lisa mengiyakan, meski sang mama sedikit tegang dan menarik tangan Hanum dan memeluknya. Seolah itu pertanda sang mama yang takut terjadi sesuatu pada putrinya.


Hanum dengan kilat turun, lalu berpamitan dan menatap mobil Lisa benar benar pergi. Seketika itu juga Hanum menghubungi seseorang untuk secepatnya memindahkan isi perabotan barang berharga di rumah ke tempat yang aman. Yakni kediaman rumah milik tante Felicia, agar kelak Lisa benar menikah dengan Fawaz. Kenangan papa masih tersimpan baik bagi sang mama.


Tak menunggu lama, Hanum meminta seseorang mengirim berkas paket surat rumah, ke kediaman Jhoni dengan sebuah hadiah kecil. Hanum tertawa puas, ketika Jhoni atau Alfa akan merebut rumah milik papanya. Hanya dengan tanah reruntuhan bangunan saja.


"Kalian yang mulai, aku Hanum Saraswati akan memberontak. Karna kalian begitu licik, ambil saja rumah yang kalian inginkan dengan bangunan yang harus kalian renov ulang!" lirih Hanum memegang ponselnya rapat rapat.


Hanum pun masuk kedalam kedai. Sehingga kali ini ia segera duduk di sebuah kursi kosong, sambil menatap seorang ibu muda dan anak kecil yang sedang merengek. Hanum pun memperhatikannya.


“Mama, katanya hari ini Mama akan mengajakku jalan jalan ke taman? Mana?" tanya seorang anak lelaki yang mungkin berusia empat tahun kepada ibunya yang sedang sibuk bekerja.


"Bagaimana kalau kau pergi bersama dengan suster saja? sebentar lagi kerjaan ibu beres sayang!"


Hanum melihat ibu muda itu berusaha menawar. Pekerjaannya benar benar tak bisa ditinggalkan.


“Ini hari minggu, bukan? Mengapa Mama tetap bekerja?” protes anak itu lagi. Kali ini pipinya menggembung, pertanda sebentar lagi dia akan marah.


"Semua orang libur di hari Minggu, tapi tidak dengan mama Nak. Mengertilah!"


“Aku tidak mau seperti Mama! Kerja siang malam lembur bagai kuda, kenapa mama?” protesnya.


“Siapa yang mengajari kamu berkata begitu?” bentak ibu muda itu marah.


Hanum bungkam. Dia mengetatkan bibir dan memastikan mulutnya rapat rapat. Kalau sampai ibu muda itu memarahinya. Hanum tahu bahwa yang mengatakan hal itu ibunya akan sangat marah, tapi anak kecil itu tidak salah.


Anak itu segera menangis, ia menjauh tepat di depan kursi Hanum. Hanum yang iba, ia segera mendongakan wajah, lalu menurunkan posisi duduknya mengimbangi anak kecil itu dengan cara membungkuk.


"Merajuk itu tidak baik, akan meningkatkan aura wajah terlihat suram. Adik manis, mau coklat? maaf tante kira lancang. Tapi tante juga menunggu teman sangat lama. Karna bosan, kamu keliatannya tak nyaman dengan menunggu. Bagaimana kita makan coklat bareng?"


Anak itu menoleh dan menatap Hanum, wanita muda itu menoleh ke arah Hanum. Lalu Hanum meminta maaf, dan ijin kala ia juga sedang menunggu seseorang. Tapi ibu muda itu terlihat cuek dan masih perduli dengan kerjaan beratnya. Sehingga pengasuh itu yang menemani anak kecil tadi di sampingnya.


"Ok! aku boleh makan ini Tante?"


"Tentu. Nama ku Hanum, panggil tante Hanum atau nama juga boleh." ungkap Hanum.


"Lebih tua, tidak terlalu tua. Kak Hanum." lirih bocah itu.


"Kak Hanum, ok baiklah. Makasih pujianmu anak kecil."


"Aku Lion." spontan bocah mengenalkan namanya, masih mode menjilat coklat.


"Cukup bagus, tampan." senyum Hanum.


Dalam beberapa puluh menit, Hanum berbincang. Tak lama ibu muda tadi segera selesai, Hanum juga ikut senyum meski terlihat ibu muda itu langsung menarik anaknya dan pengasuh mengekor. Tapi tatapan bocah tadi menatap Hanum dengan melambai tangan seolah di takdirkan akan bertemu lagi.


Hanum menghela nafas, ia segera melihat jam. Benar saja mbak Nazim meminta ia datang langsung ke rumahnya. Karna putri mendadak demam. Alhasil Hanum tak tega ia segera beranjak setelah membayar minum di kedai itu.


DALAM TAKSI.


Hanum seolah tidak tega menatap anak kecil tadi, pikirannya buyar. Terlebih saat taksi sedikit oleng karna sepeda motor mencoba membuntuti taksi yang Hanum tumpangi.


"Pak ada apa ya?"


"Duh bu. Kayaknya motor gede itu ikutin ibu, saya ketepi dulu ya. Berhenti!"


"Ya pak! ketepian aja yang agak terang." ungkap Hanum dengan ketakutan, ia yakin jika itu adalah orang dari Alfa.


Sreeiitth!! "Tidaaaak ..!" teriak Hanum kala supir sudah keluar, mencoba menanyakan pada pengendara roda dua itu.


Tapi satu mobil dari arah lain menabrak Hanum hingga terjungkal hebat. Beruntungnya supir itu seolah bagai saksi selamat tanpa luka, hanya trauma dan bergetar kala ia menghubungi nomor darurat.


"Astagfirullah. Ada apa ini, kenapa begini saya mencari nafkah?" gemetar supir taksi, menetes air mata karna masih ada penumpang di dalam taksinya.


PAGI HARI.


Lisa dan sang Mama segera ke kantor polisi. Ia juga mendapat kabar jika supir taksi yang kini berada di rumah sakit sebagai saksi.


Keterangan polisi, akibat kecelakaan itu membuat penumpang bernama Hanum Saraswati hilang saat terpental oleh mobil jeep orange hilang kendali.


Mama Rita sedikit lemas, nafasnya berat seolah kemarin pelukan itu adalah pertanda. Lisa ikut menjatuhkan ponselnya dan tak percaya. Mencari obat asma sang mama agar tetap tenang, meski hati Lisa terngiang sebuah pesan dari Hanum.


'Kak! jaga mama ya. Jangan tinggalin mama sendirian. Janji sama Hanum!'


"Enggak mah. Hanum pasti masih hidup, mama yang tenang ya!" ungkap Lisa menyemprot INHALER pada sang mama.


Tak menunggu lama, beberapa orang datang ketika Lisa menoleh, membuat dirinya tak percaya dan berdiri untuk mengamuk pada salah satunya.


To Be Continue!!


Thanks dukungan Hanum, tiap senin ada vote mohon dukungannya ya all.