
Beberapa hari kemudian, Hanum ikut ke kantor. Ia menunggu Rico di ruangannya, tak banyak yang Hanum mengerti soal segala persentase dan hitungan denda. Ia mencoba menemani suaminya agar tetap semangat dalam menjalani kasus.
Hanum yang sedang bermain game Zuma di laptop sang suami, ia segera bersandar dan meluruskan kedua kakinya. Ada rasa pegal dan tak enak ke ulu hati, Hanum mengusap ngusap perutnya. Mencoba agar dirinya tak terus menerus mual.
"Sayang, mama makan permen jahe ya. Kamu jangan ngambek, mama sedang temani dady di kantor. Kita sama sama dukung dady ya. Doakan agar masalah dady kelar." mengelus perut Hanum yang masih terlihat rata.
Hanum segera keluar pintu, mencoba ke gigir balkon. Menatap semua alu lalang jalanan mobil yang hilir berlawanan maju. Namun jengah Hanum ketika menoleh kesampingnya melihat seseorang.
"Siang, nyonya Rico. Apa anda masih bernafas lega, setelah apa yang suamimu alami?"
"A-alfa. Kamu sedang apa di kantor suamiku?"
"Menurutmu, aku di sini seperti apa. Tidak mungkinkan jadi kacung bawahan suamimu. Yang ada akan aku buat sebaliknya!"
"Apa kamu pemilik AJ market?"
"Kenapa, terkejut. Atau suami mu tidak kasih tau dengan detail?"
Hanum menghela nafas, ia segera mengalihkan agar dirinya tidak panik. Ia mencoba rileks dan tetap senyum. Sementara Alfa cengenges tawa dengan renyah menertawakan.
"Hahaha, aku tau senyum kamu palsu Hanum. Berusaha tidak panik, jelas wajah bodohmu itu selalu terlihat dan terbaca olehku."
Hanum lagi lagi mencoba sabar, hanya Alfa yang baginya sudah makan pahit dan asam garam. Ia bisa melawan Alfa dengan dirinya sendiri.
"Apa maumu, agar tidak mengganggu kehidupanku lagi, tepatnya perusahaan Marco?"
"Realy? ok! aku bisik kan ya!"
Bisikan Alfa membuat Hanum mendorong Alfa. Lalu ia pergi meninggakkan Alfa di sudut ruangan, sementara Alfa berusaha tertawa dan berteriak.
"Satu minggu, aku berikan waktu jika kamu berubah pikiran Hanum Saraswati!"
Teriakan Alfa, membuat Hanum jijik bukan main. Ia segera duduk kembali dan bermain game di laptop suaminya. Sampai Rico kembali dan tetap tak curiga, jika ia baru saja bertemu Alfa.
'Bagaimana bisa, mas Rico dalam keadaan sulit. Aku pasti bisa membuat Alfa berada dalam neraka. Aku lelah dengan Alfa yang terus saja mengganggu kebahagiaanku!" gumam Hanum dengan mengepal erat.
MAKAN SIANG.
"Bagaimana tadi kamu sayang? maafkan mas sudah membuat kamu menunggu lama!"
"Tidak apa mas, lagi pula aku senang tadi main game." mengalihkan dengan senyum bahagia.
Saat makan siang berlangsung beberapa puluh menit. Rico tau ada mata yang menatap serius pada istrinya itu.
'Alfa, kau tak akan aku berikan kesempatan mendekati istriku!' batin Rico.
"Mas, ayo buka mulutmu! Aaaaaak." Hanum menyuapi suaminya.
Lalu Hanum terdiam, ia menekan sendok garpu dan menunduk.
"Mas, Uuuuek.."
Hanum pun memuntahkan dan mengenai kemeja suaminya. Membuat panik Rico saat itu dengan refleks.
"Sayang, ada apa kamu sakit, apa kamu kelelahan?"
"Mas, maaf!"
"Tidak apa, ini bisa dibersihkan dan bisa dicuci lagi, sayang!"
Setelah itu Hanum, mengelapkan tissue, Rico membawa nya pulang. Dengan sigap menggendong istrinya di depan banyak semua tamu resto yang datang. Tak sedikit yang melihat kemesraan dan sweet nya pasangan bos nya itu.
Potretan demi potretan pun, tertuju pada Hanum dan Rico.
Satu jam berlalu di kamar, Hanum yang yang sudah berganti baju, begitu pun Rico yang mandi dengan handuk kebesaran, menghampiri Hanum, ia memberikan jahe hangat dan mengoleskan minyak angin.
"Sayang, apa perlu kita ke dokter sungguh wajahmu amat pucat?" tanya Rico.
"Tak apa mas, aku mungkin saja ga suka steak, entah kenapa makan steak aku tadi merasa mual dan tiba aja ga suka. Mas ayo pakai bajunya!"
"Baiklah diam disini makanlah sesuatu. Mas akan berganti baju dan merapihkan semua nya."
Dering ponsel Hanum berbunyi, setelah Rico berganti ke ruang ganti.
"Mas, mama menghubungiku. Mas mengabarkan pada mama ya?" teriak lembut Hanum.
"Owh segera angkatlah sayang! merindukan mu sama sepertiku jika kita selalu berjauhan." gombal Rico pada Hanum kumat, sambil mengemas barang memilih pakaian untuk ia kenakan.
Dasar suami ulung, pandai sekali puji istrinya bikin melayang. Ungkap Hanum tertawa, lalu mengangkat telepon.
"Hallo, mah. Iya mah ini Hanum."
"Apa..?" terdiam Hanum, membuat Rico yang menghampiri panik, menatap wajah istrinya terdiam pasi.
"Ada apa sayang?" tambah Rico.
Tbc.