BAD WIFE

BAD WIFE
ALIBI LISA



"Kenapa, ada masalah?" tanya Rico.


"Ka Lisa, hubungi aku terus. Gimana kalau dia kelaperan?" panik Hanum.


Rico meletakkan ponsel Hanum di atas meja, lalu menarik tangan Hanum lembut dan bicara. Rico meminta Hanum untuk tidak memanjakan kebiasaan Lisa yang ambekan. Ia yakin Lisa bisa turun dan tak lagi menghindar dari setiap masalah.


"Kamu tau perbedaan anak bungsu dan sulung?"


"Apa..?"


"Manja dan tidak manja. Jadi kategori kamu dan Lisa adalah terbalik. Kamu selalu mengatasi sendiri tanpa orang yang kamu sayang mengetahuinya. Jadi setelah jadi istriku, aku lebih suka kamu bergantung padaku."


"Heuuumph! kalau aku ga mau gimana?" senyum Hanum menggoda.


"Kalau kamu gak mau, apa fungsinya aku jadi suami. Setelah mama gak ada, kamu tau aku terbiasa melindunginya. Tapi setelah ini kamu, aku terlanjur menyukai kamu di saat.."


"Saat apa?"


"Gathering Dance. Aku menyesal mendengar kabar kamu istri Alfa. Tapi intelku berjalan dengan lancar, maka aku pelan pelan mengejarmu dan dapat."


"Gombal! udah ah, jangan bikin aku melayang terus. Kita bantuin mama kita, mereka lagi kipas kipas tuh."


Ric! tolongin tante dong. Gantiin bakar yang ini, tante mau samperin Fawaz dulu! ungkap Felicia. Alhasil Rico mengiyakan, dan Hanum ikut juga membantu mbok surti yang menata daging asap yang sudah matang.


"Mbok. Mbok sama mama makan dulu gih, biar aku sama Rico yang kipasin!"


"Walah mbok jadi enak ini. Pasangan kalau cocok mah kompak ya." goda mbok Surti dan mama Rita hanya tertawa. Sementara Hanum mengipas bbq an, menatap Rico sambil menutup wajahnya karna malu.


"Udah dong! semuanya selalu buat Hanum malu deh, berasa gimana gitu tiap hari di sanjung. Jangan gitu dong, nanti Hanum jadi keras kepala."


"Tapi kepala kamu keras Han, kalau ga keras gimana aku ngusapnya?" goda Rico, membuat candaan semakin seru. Tatapan mama Rita membuat hatinya senang. Dan Hanum lagi lagi mencubit gemas Rico.


Auuw sakit! sakit Han! teriak canda Rico dan Hanum.


BERBEDA HAL DENGAN LISA.


Lisa yang bosan di kamar, ia menunggu Hanum yang mengirimkan makanan untuknya ke kamar. Sementara di halaman belakang rumah masih saja ramai, hal itu terdengar dari kamarnya.


Lisa menghubungi Hanum, ia haus. Satu botol air dikamarnya sudah habis. Karna Hanum tak menjawab panggilan darinya, ia berusaha turun mengambil sendiri dengan pelan mengintip intip.


"Ga ada orang, baguslah. Aku mau bawa satu botol besar, coba aku liat masih ada yang bisa aku makan ga di kulkas?" lirih Lisa.


Setelah mengambil buah dan coklat, ia membalikan badan dan membuat makanan yang ada ditangan hampir jatuh.


Fawaz yang tersenyum memperhatikan Lisa, ia cukup senyum dan menahan tawa. Mendekati Lisa hingga membuatnya terdiam tak bisa bergerak.


"Jangan menghindar! aku rasa kita perlu bicara Lis!"


"Ga perlu, kita itu asing dan ga kenal." Lisa membalik badan, guna pergi dari arah lain. Tapi Fawaz menarik tangan Lisa hingga mereka membentur di samping kulkas.


Diam saling menatap, Fawaz meletakan botol air dan buah serta coklat. Ia menarik paksa tangan Lisa untuk ikut dengannya.


"Aku ga apa, jika kamu diam terus. Tapi ikut bbq an. Setidaknya hargai disana ada mama kita. Aku akan membakar bbq khusus untukmu. Tidak perlu mengatakan tidak. Padahal kamu lapar!"


Fawaz terus saja mengoceh, Lisa diam hanya menghela nafas. Tidak bisa mengelak, karna perutnya bunyi di depan Fawaz. Sehingga ia menahan malu dan mengekor langkah Fawaz yang menarik tangannya.


"Eeeh, menyebalkan." Lisa menutup wajahnya. Karna satu tangannya masih saja di ikat dengan kaitan gespernya.


'Kalau aku paksa tarik, apa celananya tidak kedodoran. Ide Fawaz bener bener buat aku seperti paseinnya.' batin Lisa, masih dengan mode satu tangan menutupi wajahnya.


Hanum dan Rico tertawa geli, melihat tingkah Lisa yang pasti malu malam ini. Felicia dan Rita saling senyum. Ia tidak menyangka jika Fawaz bisa mengimbangi Lisa yang masih kekanak kanakan dan manja luar biasa, jika setiap ada masalah ia selalu menghindar dan ya sudah pergi aja Bye! itu adalah sikap Lisa yang berbalik dari seorang Hanum.


"Selesai, ayo makan!" senyum Fawaz, lalu membuka ikatan tali tangan Lisa yang tersambung di tali pinggang.


"Aku ga laper." sebal Lisa. Mendorong piringnya.


"Kak! kasian Fawaz, udah menunggu seharian loh, lebih baik makan dulu!" cetus Hanum.


"Haduh, mama ada yang lupa mau diambil. Mbok bantu saya ya!" ungkap mama Rita.


"Aku temani jeng Ri," Felicia menghampiri ikut masuk kedalam rumah.


Rico juga meraih tangan Hanum, membawakan sebuah piring besar hasil bakarannya. Dengan berkata ingin menunjukan sesuatu padanya.


"Han, aku punya stage area yang bagus untuk kita makan bbq."


"Benarkah?" menatap Rico dengan bingung. Tanpa jawaban lagi, Rico merangkul Hanum. Dengan berbisik manja.


'Biarkan mereka punya ruang berdua. Kamu ga lihat kalau kode tetua tadi masuk hanya alibi, lihat kelakuan bibiku dan mama serta mbok, mengintip di jendela kanan!"


Benar saja Hanum hampir tidak peka, ia mencubit pipi Rico karna begitu jahil. Lalu mereka makan berdua di bangku kayu. Menatap langit yang penuh kerlip keindahan.


Sementara Lisa merasa kaku, karna ia hanya berdua saja dan tak bisa menolak. Benar saja hatinya dikalahkan oleh perasaan dan mulutnya yang tidak singkron.


Ke esokan harinya.


Hanum sudah kembali bekerja, keindahan kemarin malam membuat ia tidak lupa romantisnya Rico. Namun ketika sebuah tiga mobil putih berhenti. Hanum lagi lagi dibuat penasaran.


Seorang wanita dengan lima bodyguard keluar, mengenakan blazer putih dan rok span putih diatas lutut. Hanum terdiam sebelum masuk gudang, ia memperhatikan wajah wanita dengan kacamata mewah masuk dan ia selipkan di atas rambutnya.


"Cantik ya Han?" cetus Dewi dari arah berlainan.


"Iya cantik, siapa ya itu Dew?"


"Itu klien dari singapore. Udah sebelas tahun juga kerjasama dengan Marco."


"Masuk yuk! tapi aku denger denger dia itu sahabat pak Rico loh. Cocok sih kalau kata gue mah," tawa Dewi dengan renyah.


Hanum kembali berhenti melangkah, ia sebal menatap Dewi tajam, dengan lontarannya. Dewi yang bingung apa ia salah bicara mengejar Hanum.


"Han, tunggu! lo marah ya, eh iy gue belum bilang soal adik gue loh. Hanuuuum." teriak Dewi.


"Yah, dia pergi gitu aja. Kenapa lagi, apa si Hanum masih sakit ya. Bawaannya sensi terus."


"Kenapa lagi, lagi datang tamu bulanan kali." cetus Vita dari arah belakang Dewi yang menggunakan ransel.


Sementara Hanum sampai loker, ia mematikan ponselnya. Memasukan tas kedalam lokernya, sehingga ia kembali merefresh pikiranya untuk bekerja tanpa memikirkan Rico.


~ ***Bersambung*** ~