BAD WIFE

BAD WIFE
LISA DAPAT KABAR



“Sayang … kamu sudah tiba, Nak?” sapa tante Feli.


Lisa turun dengan wajah bantalnya. Dia memeluk sang mama mertua.


“Tangan kamu kenapa, Sayang?” tanya tante Feli, ketika merasakan sikut menantunya itu terluka.


“Aku gak sengaja jatuh,” jawab Lisa cepat.


“Dari motor?” ucap Mark menambahkan.


“Bukan, jatuh saat aku lagi jalan,” sahut Lisa berbohong.


“Hati-hati dong! suami kamu mana Lis? ingat kami gak mau loh kalau kejadian ini terulang lagi. Tapi, kok bisa jatuh? Emang kamu ngapain?” sambung Mark, yang sedang mengunjungi dr Felicia.


“Ceritanya panjang, Mah, Om … nanti aja aku ceritanya. Kan sekarang aku mau dandan dulu untuk acara nanti malam,” kilah Lisa mencari alasan.


“Baiklah … mandilah dulu … sebentar lagi penata riasnya akan datang. Konser mc kamu, mama udah siapin. Ditemani Fawaz kan?"


"Heuuumph. Iya, sepertinya kalau mas Fawaz enggak lembur lagi." jawab asal.


"Mana mungkin ga datang, tunggu ya mama hubungi!"


Lisa menurut. Semua orang ikut bersiap siap untuk berganti pakaian dan merias wajah. Fawaz tidak setiap tahun memperingati hari jadi pernikahannya, tapi kali ini ingin mengenalkan Lisa pada seluruh koleganya di pt rumah sakit terbesar, jika Lisa adalah istrinya satu satunya.


“Mama ini kok panjang banget? Aku takut jatuh kalau gaunnya panjang kayak gini,” keluh Lisa ketika dia ditawari gaun yang panjang.


“Emang kamu mau yang kayak gimana?” sahut mama seraya menyuruh asistennya untuk mengambil gaun lainnya yang sudah Felicia siapkan untuk Lisa.


“Biasa … aku mau yang pendek,” jawab Lisa.


"Eh, pendek. Apa enggak terlalu aneh Lis?"


Salah satu hal yang sulit diatur dari Lisa adalah dari cara berpakaian. Jika dulu melihat adik Rico dan Fawaz masih ada, suka dengan pakaian tertutup, Lisa sebaliknya, dia seperti mamanya yang saat masih remaja suka memakai pakaian pendek.


“Nah … kayak gini.” Lisa langsung jatuh hati pada gaun warna broken white selutut.


“Kamu udah besar, Lisa. Nanti harus dibiasakan memakai pakaian panjang,” sahut Mark ikut berkomentar.


“Iya om, tapi ini lebih nyaman, enggak ribet juga.” jawab Lisa cepat.


Semuanya sudah memilih pakaian yang disiapkan oleh dr Felicia. Malam ini Lisa dirias dengan natural yang masih menonjolkan sisi remajanya. Rambutnya dibiarkan di gerai hanya diberi aksesoris yang menambah kadar kecantikan dari keluarga dokter ternama.


Acara anniversary Fawaz diadakan di sebuah hotel. Semua orang sudah berkumpul dan para tamu undangan pun sudah mulai berdatangan.


“Selamat atas perayaan hari jadi pernikahannya, dr Fawaz.” ucap Budi, salah satu rekan bisnis keluarganya.


“Terima kasih. Anda datang bersama siapa?” sahut Fawaz.


“Apa kabar, Pak?” sapa Fawaz ramah.


“Baik. Terima kasih sudah mau datang."


Fawaz merangkul Lisa, ia mengenalkan Lisa istrinya yang sudah menikah dua tahun lamanya. Dan sedang dalam keadaan hamil muda empat bulan.


Semua mengagungkan kecantikan Lisa, bahkan tidak sedikit jika Lisa adalah selebgram facial, fashion dan berbagai kosmetik tampil wajah Lisa dalam sebuah endorse.


"Perfect, cantik dan berbakat dibidangnya. Selamat ya, sekali lagi atas hari jadi pernikahan kalian!" ucap kolega.


Mark, Felicia mewakili pesta tersebut. Sayangnya tidak ada Rico dan Hanum yang berhalangan. Sehingga tuan Mark yang mewakili terkait satu keluarga. Tapi terlihat dari ujung datang seseorang yang tak di inginkan.


"Yank, itu bukannya paman Jhony dan tante Maria ya? dia hadir, di undang ya?" tanya Lisa.


"Mungkin mama dan paman Mark yang undang. Gimanapun yang berkaitan bermasalah Alfa, aku dengar Alfa masuk rumah sakit jiwa."


"Ah, masa. Pasti pura pura lagi." cetus Lisa sebal.


"Yank, udah ah! kita ga perlu bahas masa sulit!" ucap Fawaz mengecup jemari tangan Lisa.


Hingga tak lama, Lisa menatap ponsel lipatnya yang berdering. Ia senyum terkejut membuat mata Fawaz dan mama mertua menarik ke arahnya.


"Aaah, benarkah? Hanum udah melahirkan." teriak Lisa.


"Kenapa sayang?" kamu ga salah dengarkan. Hpl Hanum masih dua minggu lagi loh?" tanya Felicia.


"Benar mah. Om Mark, Rico udah melahirkan. Eh, maksud Lisa. Hanum menantu om udah melahirkan. Kembar, perempuan dan laki laki." senyum bahagia.


"Ah, syukur alhamdulillah. Cucu Mark sudah lahir, baiklah. Om bakal hubungi Rico nanti. Syukurlah mereka baik baik saja." isak bahagia saat di pesta, membuat tatapan kepo yang lainnya.


Lisa juga mengelus perutnya yang sedikit menonjol, meski masih terbilang rata. Ia senyum pada Fawaz kala mereka juga tidak sabar menantikan kelahiran cabang bayinya.


"Kamu kenapa senyum?"


"Mas, aku ga sabar. Pengen jenguk Hanum, tapi kata mama kamu aku ga boleh perjalanan jauh dulu."


"Yank, mamaku seorang dokter. Suami kamu juga, meski aku ga ngerti soal kandungan. Tapi percayalah, ini yang terbaik. Sabar dulu ya!" manja Fawaz menatap Lisa.


Tbc.


Yuks kepoin novel temen litersi Author lagi.