
"Kamu mau apa, Alfa?" sorot mata Hanum sedikit menyingkirkan tubuhnya dalam genggaman tangan Alfa yang menyentuhnya.
Tatapan mereka saling dekat, Hanum mencoba menetralisir agar ingatannya adalah dendam. Membuat Alfa mengejarnya lalu benar meninggalkan. Tapi ketika wajahnya hanya beberapa centi saja, Alfa memiringkan pandangannya pada wajah Hanum. Bibirnya membuka dan satu tangan menjaga sekedar menahan di rak lemari, sementara satu tangan lagi kembali menarik ke bawah pinggang Hanum pada tubuhnya semakin dekat.
"Hentikan! jaga sikapmu Alfa!" sinis Hanum, ia segera bangkit setelah tubuhnya menurun dan berhasil lepas dari lingkaran Alfa yang membuat jantungnya berdebar.
"Kamu mau kemana Han? aku belum selesai bicara loh?" goda Alfa.
"Aku mau ke kamar mandi, kamu pergilah dari kamar ini!" teriak Hanum, menutup pintu kamar mandi dan menguncinya.
Bagaimana bisa aku pergi, ini kamarku! Alfa merebahkan tubuhnya lebar dengan posisi celentang di tengah tengah kasur. Ia begitu lucu mengingat jelas, kala di mata Hanum itu ada rasa cinta padanya.
'Wanita sekarang itu sangat munafik, jual mahal. Tapi aku suka, kenapa aku baru sadar dia cantik setelah langsing?' rona Alfa yang mengigit bibir bawahnya.
Sementara Hanum, ia masih mengerjapkan kedua matanya. Seolah ia salah jika itu bukan cinta. Debaran sisi jantung Hanum masih terasa, saat Hanum meletakkan salah satu tangannya ke dada.
Dasar Alfa gila! dia benar benar membuat aku sulit. Kenapa aku seperti ini padanya. Tapi dia itu benar benar serius kan? Jika pria itu kembali menyakiti bagaimana? Benak Hanum bertanya tanya.
Beberapa puluh menit kemudian. Saat Hanum selesai, ia segera membuka pintu, tapi matanya dikejutkan dengan tatapan punggung pria tanpa alas pakaian. Itu adalah Alfa yang memakai boxer saja, mengganti pakaian dengan piyama. Bodohnya lagi Alfa membuat senyuman miring kala menyadari jika, Hanum dibelakangnya sedang terpana.
"Kenapa diam, baru sadar ya liat punggung malaikat? mulus, bersih dan cool?" melirik Hanum.
"Apa yang kau pikirkan, lebih baik berganti pakaian di tempatnya. Ingat kita itu apa?"
"Ki-ta itu a-pa? kita itu suami istri, apa perlu aku tunjukan buku nikah padamu! aku berhak atas dirimu, jadi jangan bicara aku dan kita itu siapa. Jika itu kamu ucap lagi ya Han, aku tidak tau. Apa aku bisa menahannya atau tidak!"
Ciiiih! gila. Decih Hanum menyingkirkan matanya agar tak terlalu menatap punggung suaminya itu. Benar saja ia memang pria yang perfect. Tapi jika sikap dan gayanya bukan malaikat. Melainkan iblis menjelma kesasar di lembah hutan.
"Apa, kamu bicara aku, iblis kesasar di lembah hutan?" tanya Alfa mendekat ke hadapan Hanum.
"Apa maksudmu Hanum?" tanya kembali Alfa, meraih tangan Hanum.
"Kau itu sering sekali berganti wanita, dan berganti belantara hutan yang kau cicipi sangat banyak. Jadi apa! jika bukan iblis yang ke sasar di lembah hutan?!" cetus Hanum.
Hanum segera pergi dan lebih dulu keluar. Ia tak sanggup rasanya berada di dalam kamar bersama Alfa. Terlebih Alfa membuat dirinya tidak karuan, bisa mengapung terbang tinggi. Bisa juga terjun bebas tanpa peringatan.
Sementara Alfa tersenyum, memiringkan bibirnya kala mulut Hanum bicara lantang seperti tadi.
"Ok! fix kamu cemburu padaku Hanum." lirih Alfa, lalu mengekor langkah Hanum.
Makan Malam.
"Hallo sayang! Mama pikir kalian kebablasan ga jadi makan siang?" sindir Maria.
"Mama suka banget sih goda pengantin. Hanum kan baru aja beberapa hari menjalani kuret. Mana bisa Alfa ..?" bisik Jhoni.
"Pah, mama itu tau. Alfa ga jauh beda kaya kamu dulu. Buktinya mama baru beberapa hari lahiran, kamu udah minta jatah." balas Maria.
Ssssst!! Maria menghentikan, dengan menyenggol kaki suaminya dibawah meja. Tapi tatapan Hanum seolah polos, ia bingung apa yang dibicarakan kedua mertuanya itu.
"Udah lama menunggu ya mama? Maafkan Hanum ya Mah. Pah!"
"Ga apa sayang, ayo duduk nak!" senyum Maria.
Siang ini makan bersama begitu lancar, dari mama mertuanya yang menanyakan kabar keluarga Hanum. Termasuk Mama Rita yang kini masih sering bersedih. Belum lagi Maria juga mungkin tidak bisa membayangkan jika itu adalah dirinya, ia tau betul bagaimana Rita. Ibu kandung Hanum itu sama sepertinya, tidak boleh syok dan sedih berkepanjangan.
"Mama memang masih sering menangis. Hanya saja mama lebih banyak waktunya bersama Eyang di kelapa gading. Karna mama merasa kehilangan sosok papa sangat berharga. Dia sosok yang paling istimewa di hati kami." jelas Hanum, ia sambil menyendok nasi.
"Ya! itu benar Hanum. Kamu beruntung memiliki papa yang selalu membahagiakan bidadarinya. Mendiang Armand itu paling anti membuat hati wanitanya menangis." jelas Jhoni sebagai sahabat.
"Itulah kesedihan kami, termasuk mama saat ini. Bahkan Hanum dan ka Lisa ingin buat suprise ajak mama makan diluar. Tapi mama masih sulit diajak, ga mau keluar dan maunya dirumah aja."
Kedua mertua Hanum saling memandang. Lalu Jhoni mempersilahkan untuk kembali makan dahulu. Berbeda dengan tatapan Alfa sangat tidak nyaman, ia jauh dari kata pria yang membuat hati wanitanya bahagia.
Bahkan berbalik, ia selalu menyakiti Hanum. Dan mungkin Hanum menangis tanpa sepengetahuannya. Jika kedua orangtuanya tau, mungkin jiwa Alfa akan terancam.
***
Cafe Dior!
Lisa saat ini sangat terpana, kala Fawaz sedang berjalan dengan celana bahan abu abu style ala turis yang memakai kemeja putih ketat. Pikiran Lisa saat ini tidak kontras dengan hatinya saat ini. Masih menemani Tante Felicia yang sedang memilih tas, tapi Fawaz menemani tak jauh dengan sebuah earphone, benda kecil hitam di telinganya.
'Sungguh indah, jika pria didepanku ini sangat tampan dan baik pada ibunya. Bagaimana paras nabi dan rasulnya?' batin Lisa yang terkagum sosok Fawaz.
"Begitulah Lisa, saat tante ada waktu senggang berbelanja. Putra tante nemenin ya kaya gitu. Sambil nerima panggilan, dari kontrol pasein, atau rekan bisnis cafenya. Sibuk, padahal tante udah kepingin dia itu nikah. Biar tante nimang cucu, terus ditemenin kaya kamu ini."
"Haah, iy tante. Aduh, Lisa jadi tersanjung ini kalau di puji terus. Mungkin salah satu pasein, itu pasti suka sama Fawaz. Secara dia kan dokter tampan?" senyum Lisa keceplosan.
"Tampan? Ya! tante tau gimana Fawaz. Dokter jantung tapi dia sulit buat berdebar. Katanya semua pasein vvip yang cantik ia tangani. Bahkan anak presdir belgia aja. Fawaz tolak, padahal bulak balik kontrol keluar negri. Udah sembuh sih, tapi putri nya itu maunya sama dokter Fawaz."
Mendengar hal itu, Lisa sedikit ciut. Ia sadar jika Fawaz itu menyukai Hanum.
'Aku tau, dia suka sama adikku. Tapi kalau aku terlanjur menyukai Fawaz, apa aku serakah. Bagaimana hati adikku nanti?' benak Lisa.
Lisa mengekor kala ibunda dari Fawaz memilih tas. Lisa juga ikut melihat lihat. Hingga saat mundur, tak sengaja kaki Lisa terseleo. Lalu seseorang meraih tubuhnya agar tidak terjatuh kelantai.
"Auuuuwh!" pekik Lisa.
Sehingga tante Felicia ikut menoleh pada tatapan Lisa saat itu dengan khawatir, penuh senyuman karna yang ia harapkan sesuai Ekspektasi.
To Be Continue!!