
Sentuhan tangan Rico, membuat perih pada memar pipi dan area bibir Hanum. Rico segera menatap pandangan pada wajah wanitanya. Ia tidak bisa tinggal diam, pada pria yang berani memukul seorang wanita dengan tidak berperasaan.
Hanum berada di apartemen Rico, guna membersihkan diri. Erwin sudah menyiapkan satu paperbag pakaian ganti yang Rico pesan. Tidak lupa Rico memanggil dokter, Rico berniat mengantar Hanum pulang kerumah. Tapi tidak dengan luka lebam di pipi, maka dari itu ia meminta Hanum sejenak di obati.
Rico merasa kasihan, terlebih kesal atas sikap Alfa yang gila. "Beraninya dia, memukul wanita." lirih Rico.
"Dia tidak salah! aku rasa Alfa harus di bawa kerumah sakit. Mentalnya terganggu, bisa saja dia overdosis. Kumohon Ric, beri dia kesempatan!" timpal Hanum, yang memegang kain pendingin dan menempelkan pada pipinya.
"Kamu masih khawatir dengannya? setelah apa yang dia lakukan padamu Hanum?"
Sorot wajah Rico salah paham, Hanum juga menjelaskan dan meminta maaf. Hanum menjelaskan saat papanya kritis, Alfa berada di apotek yang sama, dan ia menebus obat tidak dengan anjuran dokter.
"Maksudmu apa Hanum?"
"Aku mengatakan semua ini, bukan karna aku mencintainya. Tapi aku peduli, dan mungkin rasa kecemasan dan emosionalnya dari pengaruh obat berlebih."
"Jika kamu tidak mencintainya, apa kamu mencintai seseorang?"
"Ric, jangan buat aku malu. Tanpa aku jawab kamu sudah mengerti bukan?"
"Baiklah! kapan aku menemui mama mu? malam ini?"
"Rico.." sayup sayup mata Hanum menatap Rico.
"Baiklah! aku akan kembali ke topic. Obat apa yang dia konsumsi?" tanya Rico, ia mendekat duduk bersejajar pada tatapan Hanum.
"Elmo, asisten papa Jhoni. Dia tau semua, aku sudah lama tidak melihatnya. Bersamaan dengan Irene saat dari.." Hanum berusaha mengingat, tapi ia meringis kesakitan karna lebam.
"Sudah cukup Hanum! pulihkan dirimu lebih dulu, yang jelas aku tidak akan tinggal diam karna Alfa sudah melakukan kekerasan padamu." Hanum kembali diam.
Banyak bicara membuatnya kesakitan, bahkan minum saja ia merasakan perih luka biru. Hanum menoleh ke cermin, benar saja bibir dan pipinya sangat merah kebiruan. Sementara Rico, menyentuh bahu Hanum.
"Kemarilah! aku bantu obati perlahan. Sakit di sini?!" menempelkan kain pendingin, di tempelkan pelan pelan.
Heuuuum! anggukan Hanum, membuat Rico mengompres, lalu memberikan antibiotik agar rasa sakitnya mereda. Tapi Hanum, yang hanya jaraknya lima centi dari pandangan. Hatinya berdebar tidak karuan, terlebih mereka hanya berdua saja membuat gelagap Hanum ketakutan begitu saja.
"Aku sudah bisa sendiri, sudah mem-baik Ric." terpatah suara Hanum, ia meraih kapas yang sudah diberikan obat tetes pereda nyeri, dari tangan Rico.
"Lucu sekali? apa kamu takut jika aku berdekatan. Kemarilah aku bantu! aku bukan pria seperti mantan suami kamu Han! aku tidak akan menyentuh wanita yang aku cintai tanpa halal." jelas Rico, ia kembali mengobati Hanum.
\*\*\*
Rumah Sakit Al Zeera.
"Kamu kesini untuk apa?" tanya Fawaz dengan ketus.
"Maaf bukan begitu, tapi aku rasa aku kemari hanya untuk bertemu tante Felicia. Aku bukan ingin menemui kamu Fawaz." jelas Lisa menghindar.
“Hey, kamu ke mana?” teriak Fawaz saat melihat Lisa berjalan di belakang mengikuti langkahnya.
“Mau ikut denganmu,” jawab Lisa polos, menutup mata jika ia harusnya belok arah keruangan dr Felicia.
Lisa yang saat ini berada di belakang Fawaz. Satu anak tangga di bawahnya, harus sedikit mendongakkan kepala untuk melihat wajah Fawaz. Dia berhenti seketika, ketika Fawaz memutar tubuh dan menghentikan langkah mereka.
“Ya, ikut denganmu,” jawab Lisa masih dengan kepolosannya.
“Ikut ke mana?”
Kali ini Fawaz melipat tangannya dan meluruskan tubuh sempurna menghadap Lisa. Dengan wajah songong, sorot mata Fawaz langsung menembak ke dalam iris mata Lisa.
“Memangnya kamu mau ke mana?” Lisa malah melempar balik pertanyaan Fawaz.
“Jelas saja aku mau ke ruanganku dan beristirahat,” jawab Fawaz sembari kembali memutar tubuhnya dan melanjutkan langkah kaki menapaki anak tangga.
“Kalau begitu, aku juga mau memutar lantai rumah sakit ini, sambil menunggu dr Felicia datang." alibi Lisa.
“Apa kamu menggodaku?” tanyanya dengan nada mengancam.
“Menggoda? Tidak tidak. Jangan macam macam! dr Felicia memintaku untuk menunggu di ruangan kamu. Jadi aku menunggu di depan bangku ini saja!" ucap Lisa cepat, sambil memperlihatkan pesan dari ponselnya.
“Kalau begitu, jangan pernah ikuti aku seperti benalu!” larang Fawaz terdengar lebih dingin, tapi tetap menonjolkan sisi galaknya.
“Kalau bukan karna mamamu, malas aku berdebat denganmu Fawaz." sebal Lisa mengapit kedua tangan dan duduk.
“Terserah kamu saja!” lirih Fawaz lalu ia masuk kedalam ruangannya.
Fawaz berbalik dan kembali melangkah. Dia jera dan menyerah melihat kebodohan dan wajah Lisa. Kepalanya semakin sakit melihat gadis manja itu bertingkah konyol. Dengan kasar tangannya membuka kunci loker dan mendorong pintu sedikit kuat. Tanpa menutup kembali, Fawaz langsung duduk di kursi dinasnya.
Sampai sekarang Fawaz belum mengetahui di mana Hanum berada. Kekasih impiannya itu sama sekali tidak memberinya kabar atau sekedar memberitahu alasan kenapa dia pergi setelah kembali.
Setiap kali memikirkan Hanum, hatinya semakin sakit. Ada rasa dendam tertahan, yang harus dia balaskan karena wanita itu telah membiarkan dirinya menikah dengan Lisa.
“Aaaa!!! Kenapa kamu melakukan ini semua padaku, Hanum?” teriak Fawaz. Suaranya serak lalu kembali menyibukan diri.
Teriakan Fawaz seolah sedang meluapkan segala kemarahannya. Dengan terus berteriak memanggil dan menghujat nama Hanum, tangan memukul bilik tembok di samping kepalanya. Hal itu membuat Lisa yang duduk di depan langsung masuk kedalam ruangan kerja Fawaz tanpa ijin.
“Apa kamu sudah gila Fawaz?”
Fawaz menghentikan teriakan dan gerakan tangannya. Pria itu langsung memutar tubuh dan melihat pemilik suara yang dua hari ini selalu mengganggunya.
“Apa tidak bisa kalau kamu tidak menggangguku, hah?” bentak Fawaz geram.
“Aku tidak mengganggumu.” Lisa menegakkan punggungnya dan bersikap masa bodoh.
“Aku hanya heran kenapa kamu suka sekali berteriak dan marah ketika jadwal kerjamu habis. Ternyata bukan hanya orang biasa yang bisa stres! tapi seorang dokter juga bisa stres karna cinta. Jika kamu ingin meluruskan, aku juga tidak menyetujui perjodohan antara kita. Yakni mama kamu dr Felicia dan mamaku. Maka dari itu aku kemari menunggu." jelas Lisa.
"Maksud mu Lisa?"
"Minumlah obat, agar kamu tidak stres seperti Alfa! tingkat stresmu sudah tahap kedua bagiku. Dan aku muak, aku berhenti mencintaimu, menganggumi sejak lama. Jadi kamu tidak perlu menghindar dr Fawaz yang terhormat. Kita asing, dan aku tidak berniat menyukai pria manapun. Bagiku pria semua munafik dan kejam." cercah Lisa lalu pergi.
Fawaz terdiam, ia mencerna perkataan Lisa. Bagaimanapun kehidupan asmaranya adalah sama sama hancur karna cinta. Bagi Fawaz, ia sedikit sakit kala Lisa bicara ia berhenti mengejarnya bahkan mengagumi, atau mencintainya.
"Kenapa hatiku sakit, mendengar ucapan Lisa tadi?" lirih Fawaz.
To Be Continue!!