
"Ayo aku bantu! jangan sungkan, aku hari ini cuti. Datang hanya mau ambil sampel bibi Maria."
"Fawaz. Sepertinya kita akhiri saja, setelah kamu antar aku kerumah. Kamu jangan lagi dekat dekat denganku! Aku wanita beristri dan hamil."
"Beristri, hamil tapi sama kaya sendiri kan? Hanum, apa setelah kamu menikah. Kita tak bisa sedekat seperti sahabat?"
"Bukan begitu, aku hanya,"Hanum terdiam, kala tiba saja Lisa datang.
Lisa berlari dengan memakai baju hitam putih. Rok pendek. Membawa tas dan berkas, tidak seperti biasanya dengan tas kecil dan kamera di sampingnya.
"Kakak dari mana, kok tumben rapih?"
"Heuump. Hentikan pertanyaanmu Han, nanti saja kita bicara. Untung saja sehabis interview, tante Felicia hubungi kakak."
Fawaz dan Hanum segera saling senyum saling menautkan mata. Lalu Lisa memegang tangan Hanum, hingga sampai loby parkir. Fawaz tau jika ibundanya bisa sedekat ini bersama kakak Hanum, pasti ada sesuatu.
'Apa Hanum menjaga jarak karna bunda. Tidak, aku harus bilang jika wanita itu adalah Hanum. Bukan kakaknya.' batin Fawaz.
BALI RESORT.
"Apa. Lani. Kamu antar bu Hanum kerumah sakit. Tapi kamu tidak dipersilahkan ikut masuk. Kenapa?" tanya Alfa yang mendapat kabar Hanum sakit, dari telepon.
"Karna saya tadi harus mengurus barang, bu Hanum juga bilang. Kalau kakaknya sedang dalam perjalanan." jelas Lani.
Alfa langsung menutup ponsel, melemparnya ke sofa bad. Ia meminta Elmo segera mengirim tiket pulang. Tanpa banyak alasan, Alfa segera meraih jasnya dan pergi. Namun tatapan Irene masih saja di balik pintu menunggu Alfa.
"Kau sedang apa di sini?"
"Darling. Kamu mau kemana, aku ikut. Please!"
"Hentikan gayamu ini! aku sedang tidak berselera, Hanum sakit. Dan aku suaminya harusnya berada di sana. Aku merasa gagal jadi suami."
"Darling! kamu melupakan janji kita? Untuk apa kamu kejar wanita gendut itu, dia tidak akan selangsing aku. Meski berkali kali dia menjalani operasi atau sejenis sedot lemak. Tubuhnya pasti akan lebih besar dari semula kan?"
"Cukup membuat aku pusing Ren! kita hanya masih terkontrak kerjasama jika bertemu. Aku telah meminta Elmo untuk merekrut artis lain, untuk ambassador prodak Jhonson."
"Maksudmu menggantikan aku? No! Alfa aku ga akan biarin itu." teriak Irene berusaha menghadang Alfa tidak pergi. Tapi tak bisa karna Alfa mendorongnya kasar.
Semua gara gara Hanum! aku harus membuat perhitungan padanya. Alfa tidak boleh meninggalkan aku begitu saja. Ini ga boleh terjadi. Impianku harus terwujud, siapa saja orang yang menghalangiku harus Mati. Aaargggh!! teriak Irene.
Alfa segera sampai di bandara Ngurah Rai. Lalu tak menunggu lama, ia berada dalam awak pesawat. Kali ini Alfa menggunakan pesawat umum. Ia sudah melupakan kebiasaan ia yang nakal dan mempermainkan wanita. Apalagi berkuasa kepemilikan keluarganya, sehingga ia bisa seenaknya melakukan apapun.
Entah kenapa Alfa selalu bermimpi anak kecil tersenyum, berpegangan pada tangan Hanum yang melambai ke arah tangannya. Tapi itulah awal mula Alfa mulai bebenah diri, lagi pula pilihan orangtuanya benar saja terbaik. Terbukti Alfa mengecek segala latar belakang Hanum dibanding Lisa. Mempunyai istri baik, penurut dan tak pernah berkeliaran dunia malam sepertinya adalah poin penting untuk menjaga martabat dan harga dirinya sebagai pria.
Alfa pernah meminta seseorang mendalami seperti apa wanita bernama Lisa dan Hanum. Tapi dari semuanya yang ia minta untuk mencari tau, tertuju pada Hanum dibanding Lisa yang keras kepala dan tak ingin berkomitmen. Alfa juga ragu, jika Lisa sudah tidak gadis. Hal itulah yang ada dalam pikiran Alfa.
Alfa memesan bucket mawar merah, lalu meminta seorang prt membersihkan kediamannya. Dan membuat sebuah hiasan di meja makan. Alfa akan memulai dari makan malam bersama, ia yakin Hanum saat ini bersama Lisa.
"Benar, aku adalah pria yang bodoh. Terlalu lama aku cuek, terlalu lama aku menyakiti. Aku harus bergerak saat ini, agar Hanum tidak pergi lebih jauh." lirih Alfa berbicara sendiri.
***
KEDIAMAN KELUARGA HANUM.
Fawaz meminta Lisa untuk menjaga Hanum. Karna ia ada urusan penting, seorang dokter akan sibuk dengan urusan pasein dan hal lainnya.
"Han, kamu jangan kemana mana. Lisa ingatkan Hanum, jika tidak bisa fatal. Han, kali ini menurutlah!"
"Tunggu Han,! banyak amat pria berjas. Han, papa kita meninggal ga ninggalin hutangkan?"
"Kakak apaan sih, kita masuk dulu kita tanya deh. Itu bibi Surti lagi nyiram tanaman. Idem aja dia kak." jelas Hanum.
"Eh ya! kagetin ah." lirih Lisa.
Hingga dimana Hanum terdiam, kala Alfa bicara akan menjemputnya. Dan orangnya sedang berjaga melindungi Hanum dari orang tak baik. Melalui pesan singkat.
"Kak, ini pesan dari Alfa. Kira kira kirim orang kaya mereka, emang keluarga kita punya musuh?" tanya Hanum.
"Kita sih enggak, mungkin kamu. Mantan suami kamu atau selirnya kali mau ancam." asal Lisa. Alhasil Hanum berdecak nafas kesal.
Kaku amat pak, cocok perfect kalau ditambah senapan atau ceruti! eekh celurit maksudnya! lirih Lisa.
Lisa tersenyum menggoda pria penjaga, yang berusaha agar biasa aja padanya, tapi dua pria itu tetap diam dan profesional tak menampak senyum.
"Eeeekh copot, eeekh copot deh tanaman antik, nyonya!" latah bi Surti.
Bi Surti menatap kebelakang, Ia pun terkejut karna berjalan mundur saat menyemprot tanaman, tak sengaja menabrak punggung Lisa yang mana ia sengaja, sementara bi Surti sedang memotong dan merawat dahan bunga anggrek, agar tidak layu.
Duaar!!
"Aduuh Non, hampir copot jantung bibi."
"Ya maaf bi. Lisa sedang menunggu tamu."
"Tamu, pacar non Lisa ya?" goda bi Surti.
Tak lama ia menatap sebuah motor ninja berhenti dihalaman rumahnya. Biar bi Surti aja ya non yang buka?!
"Bi, kalau nanti tanya. Dan itu namanya Rehan. Bilang aku ga ada ya, bilang juga ga usah temuin Lisa!"
"Ok non."
Hanum yang mana telah masuk rumah, setelah Fawaz pamit. Ia juga cukup dikejutkan dengan pembicaraan Lisa dengan bi Surti.
"Kak. Eeekh apa kata kaka tadi, datang tamu gak tau nama atau asal usulnya. Aduh nyari perkara sama si mama. Kalau Rehan tau gimana?"
"Eeh, kamu yang salah denger. Orang kaka bilang kalau Rehan datang, bilang kaka ga ada. Kamu pasti mikirin Alfa deh! jelas kamu tuh mulai ada rasa. Inget ya Han, sikap dia sama kamu jangan lupa!" ancam Lisa.
Tak lama Hanum duduk, ia bingung akan hatinya dan pesan Alfa berkali kali tak ia balas.
"Kak, aku boleh tanya?"
"Soal apa, katakan saja. Kita berdua loh, mama di rumah eyang. Anggap kakak itu papa, meski kakak ga bisa kasih kamu jawaban pas."
"Apa kakak pernah menyukai Fawaz?" tanya Hanum.
Lisa segera terdiam kaku, ia menyempitkan senyuman yang begitu jelas, Hanum rasakan ada yang aneh. Apakah kakanya menyukai Fawaz, ia seorang dokter dibanding beberapa pacar Lisa yang sempat Hanum tau saat itu.
"Katakan sama aku kak!"
To Be Continue!!