BAD WIFE

BAD WIFE
TIDAK TAU MALU



"Darling, kapan kita akan menikah?" manja Irene, saat berada di ruang makan keluarga.


"Bersabarlah! aku harus mengambil keputusan mamaku. Jangan berlagat gatal, ramah sedikit bisa jaga sikapmu Irene!" bisik Alfa.


Irene hanya menyulutkan bibir kesalnya, lalu menatap kedua orangtua Alfa yang baru saja tiba. Irene dengan lancangnya telah menyuap dan memotong sebilah daging, mengunyah tanpa rasa malu.


"Haaah! apa karna wanita tidak punya adab, sopan santun yang ingin kamu nikahi. Wanita seperti ini yang ingin kamu dapatkan jadi pengganti Hanum?"


"Mah! please. Kita akan makan tanpa bergulat di depan makanan kan? Alfa telah memutuskannya."


"Sudahlah sayang! keputusan Alfa baik tidaknya. Ia akan terima kebahagiaannya sendiri." tambah Jhoni menyabarkan istrinya.


"Mas, kamu sejak kapan bela Alfa. Wanita seperti ini tidak layak. Kenapa kalian tidak bantu cari Hanum, aku ingin Hanum yang jadi penerus kita, menantu terbaik?!"


"Hadeuh! tante ga tau ya, kalau Hanum itu suka sama dr Fawaz. Keponakan tante, dia pasti lebih memilih menjadi istri dokter dibanding pengusaha market seperti Alfa." jelas Irene, ia menjelaskan sambil mengunyah.


Alfa yang meradang kelakuan Irene, ia menarik nafas dan meminta Irene diam. Tanpa dengan sengaja, Maria tak jadi makan. Ia muak dan merasa ingin muntah, mogok makan dan berlalu ke kamar. Jhoni menatap Alfa untuk membereskan kekasihnya itu.


Sehingga Alfa menutup wajahnya kesal, tapi ia harus bersabar sampai misinya terhadap Irene yang percaya, mencintai dengan tulus serta benar benar membelanya. Meski hal pahit yang tak pernah Alfa layangkan adalah menyakiti sang mama, membela Irene demi satu tujuan.


Jhoni menarik Alfa, membiarkan Irene sendiri di meja makan. Meminta Alfa untuk menjaga sikap kekasihnya, sehingga Alfa juga cetus melayangkan hal yang menyinggung sang papa.


"Jika bukan karna papa bicara soal Maoren, aku tidak mungkin kembali pada Irene pah. Aku sudah tau, dia tidak pantas untukku! sekarang aku ingin rebut Hanum, tapi papa sudah menjelaskannya sehingga ia semakin jauh!"


"Perhatikan bicaramu bocah tengik! Hanum tidak mencintaimu, dan papa ingin aset yang kamu berikan. Dua belas rumah elite, kapal pesiar yang sudah di ubah namanya. Ingat itu milik papa! juga kartu black, kau berhutang pada papa. Ingat itu!" ketus Jhoni pada putranya.


Jhoni mendorong Alfa begitu saja, ia menarik nafas. Andai saja ia bisa bersikap baik pada Hanum, tidak mudah emosian. Baru kali ini ia terasa kehilangan, separuh jiwanya menyadari. Jika Hanum berbeda, ia terlihat buruk dan menjijikan karna terlalu menyakiti Hanum.


'Aku akan bereskan Irene! Hanum, aku akan mencarimu. Salahmu yang tak mau kita sepakat untuk membuat papa percaya. Aku sadar hatiku mencintaimu, tapi aku kesal kala mendapat penolakanmu dengan lantang. Belum lagi tatapanmu dan Fawaz.' batin Alfa.


"Darling! kamu kenapa di sini?" tanya Irene yang tiba saja menggelayut di punggung indah Alfa secara mengejutkan.


"Aku sedang menerima telepon. Kamu tetaplah bisa berdamai ambil hati mamaku. Aku tinggal sebentar, kamu tidak apa kan?"


"Ok! tentu Alfa, aku sangat senang, jika aku rindu. Aku berhak bukan ka kantor, menunggu di ruanganmu?"


"Yap! boleh." Alfa senyum lalu pamit, tapi Irene menghentikan langkah Alfa.


"Darling! kamu melupakan sesuatu?"


"Sesuatu, ..?" menggigit bibir, ia menghela nafas kala Irene menyentuh keningnya untuk Alfa tandai sebelum pergi.


"Oh! mmmuuach. Jaga baik baik dirimu!" pamit Alfa.


"Tentu Darling." irene senyum melambai, ia lalu merogoh ponselnya dengan kebahagian kemenangan.


Berbeda hal dengan Lisa.


Hari berlalu selama satu pekan, Lisa tak sanggup kala melihat isi surat dari Hanum. Menjaga sang mama, lalu menerima pernikahan kala Fawaz melamarnya. Tanpa memperdulikan hatinya.


Hanum bicara dalam sebuah surat, jika hatinya dengan Fawaz hanya sebatas teman. Tak punya perasaan, sikapnya seperti menyayangi Fawaz karna ia sosok teman pria yang peduli, karna tak ingin mematahkan hati Fawaz secara mengejutkan. Sehingga persahabatannya kandas begitu saja.


"Han, kaka sedih. Entah kamu jujur atau berbohong. Kaka ga bisa terima Fawaz. Kaka yakin kamu menyukainya. Meski hati kaka sakit sekali, kenapa hati kaka semakin sulit menerima. Terlalu serakah kah aku Tuhan?" isak tangis Lisa di kursi taman, sambil menggulung surat yang ia baca.


Fawaz yang setelah pulang dinas, ia memang tidak pernah menyangka, keputusan Hanum memintanya untuk menikahi Lisa. Agar sang paman tidak pernah mengusiknya. Fawaz pikirkan sudah berhari hari tanpa dengan ketenangan.


"Lisa." panggil Fawaz.


"Bisa kita bicara?"


"Silahkan!"


Lisa sedikit gugup, ia sadar jika keberadaan Fawaz yang tiba tiba duduk di dekatnya, membuat hati Lisa tak tentu arah. Hal yang tak pernah Lisa bayangkan terjadi ketika Fawaz meminta permohonan.


"Aku tau ini sulit bagimu? aku membenci perjodohan. Cintaku pada Hanum tak pernah terbalas, tapi aku sadar. Mau kah kamu menikah denganku Lisa?"


"Apa? menikah ah! Anda terlalu bercanda, itu berlebihan." Lisa menyingkir.


"Kita bertunangan untuk mendekatkan diri. Maafkan aku, mungkin sedikit mengejutkan. Tapi aku menerima jawabanmu dan menunggunya!"


Fawaz berdiri dan pamit, Lisa masih tertegun tak percaya. Ini adalah mimpi, tapi apa sikap Fawaz seolah karna merasa bersalah. Atau ada campur tangan Hanum lagi.


"Tunggu! dr Fawaz. Apa semua ini syarat dari Hanum, jika iya. Aku menolaknya, maafkan saya!"


Fawaz terdiam langkahnya, ia segera membalik badan dengan senyuman. "Tidak, karna aku tidak ingin sendiri. Karna kamu, dan mamamu harus aku jaga dari siapa musuh adikmu saat ini. Semoga kamu sabar, agar kita bisa bersatu dengan cinta yang tidak sepihak!"


Penjelasn Fawaz membuat hati Lisa terdiam, lalu duduk melemas tak percaya. Tak menunggu lama, ponselnya bergetar dan itu adalah pesan mama yang meminta Lisa ke kamar menemaninya.


\*\*\*



**KEDIAMAN MARK**.


"Sudah membaik?" tanya Rico.


"Namamu, kenapa kamu diam saja. Aku akan antar kamu pulang! ini uang untuk ganti rugi!" melempar dekat sofa.


"Hanum, namaku Hanum Saraswati. Aku mungkin beruntung karna kecelakaan, aku bisa sejauh ini. Tapi bisakah aku meminta pekerjaan, sebagai bersih bersih juga tak apa?"


"Apa? Hah! Hey lihatlah Erwin, aku tidak salah menabrak orang saat itu. Penumpang yang aku tolong, ternyata benar benar tidak tau malu!"


Hanum kembali merasa dejavu, ternyata niat untuk tidak kembali ke rumah adalah tak ingin berhadapan dengan Alfa. Tapi kali ini, ia hanya meminta pekerjaan meski sebagai pembantu ternyata salah diartikan.


"Jaga sikapmu Rico!" ucap Mark.


"Terserah papa, aku akan kembali ke singapore saat ini juga." Rico berlalu pergi.


"Maafkan putra saya, kamu ingin bekerja sebagai apa?"


"Surat penting saya tidak ada, identitas saya. Saya akan pergi ketika mendapat bayaran. Saya sudah janjian pada teman saya untuk bekerja. Tapi malam itu sepeda motor membuat taksi yang saya tumpangi terjungkal."


Apa? Mark menatap Erwin asistennya. Ia tau jika taksi terjungkal karna ulah anaknya, Rico. Dari arah lain, entah wanita ini tidak tau atau tidak ingat kejadian semuanya.


"Kamu pernah bekerja sebagai apa? Asistenku akan membantu kamu mendapatkan identitas?"


"House keeper. Tapi bisakah saya meminta bantuan satu lagi pak? Maaf jika ini lancang, saya memang tidak tau diri." sendu Hanum sedikit takut.


"Apa itu?" tanya Mark.


**To Be Continue**!!