
Kini Hanum menghubungi kedua orangtua Alfa. Hingga dalam waktu puluhan jam mereka tiba. Hanum masih ingat bagaimana prilaku Alfa saat itu padanya.
"Hanum, bagaimana Alfa bisa seperti itu? Huhuu.. apa ada kejadian mencurigakan, kalian kenapa. Sedang apa?" tanya mama Maria. Ibu mertua Hanum yang menangis sesenggukan, tak kuasa menahan air mata.
Hingga Hanum melihat mama mertua dengan sayup kesedihan. Meski rasa campur hatinya, bergejolak amarah membuat Hanum ingin tertawa. Bisa saja ini adalah teguran untuk Alfa yang keterlaluan. Tapi tak sampai hati, sehingga Hanum bingung mengungkap. Ia hanya mengingat beberapa akhir sebelum peluru menembus kepala Alfa.
Hanum menenangkan ibu mertuanya dengan rasa yang campur aduk.
FLASHBACK DUA BELAS JAM LALU, SEBELUM ALFA CELAKA.
Ke'esokan harinya, Hanum kembali mencari sesuatu untuk ia pesan. Namun jatah hotel hanya memberinya sarapan satu kali. Saat ini, ia harus menukar uang agar makanan lain bisa ia beli. Dengan banyak cara Hanum mencoba menghubungi mbak Nazim.
Dengan telepon dari pihak Hotel, butuh waktu lama menyambungkan nomor hotel dengan Nazim. Terlebih Nazim tak pernah mau menerima panggilan dari orang asing, apalagi nomor daerah luar yang tak ia kenal. Setelah beberapa kali, akhirnya Hanum bisa menghubungi Nazim, setelah ia mengirim pesan. Bagus saja sisa pulsa di ponselnya masih cukup untuk mengirim satu pesan dari luar negri.
Satu masalah berhasil, Hanum berhasil meminta tolong mbak Nazim meminta tolong pada Lisa. Ia akan menceritakan penjelasan setelah ia kembali ke kota, yang Hanum inginkan adalah meminta atm di kamarnya di bantu sang kakak di dalam kamar Hanum. Kali ini tugas Nazim adalah menukar dengan dollar dan mengirimkan pada Hanum saat ini.
'Menunggu pagi, makasih mbak Nazim. Karna masalah ini aku selesai terpecahkan.'
Mungkin berat bagi Hanum, pasti Lisa kakaknya itu yang bawel dan juga suka mengadu harus ia patahkan. Agar tidak banyak bicara pada papa dan mama. Tugas Hanum selesai, kali ini ia harus pergi ke swalayan terdekat mencari stok makanan saji dan alat elektrik untuk memasak tentunya minta bantuan Alfa.
BERBEDA HAL DENGAN LISA.
"Mah! apa mama ga curiga soal tadi?"
"Soal apa sih nak?" tanya mama Rita.
"Nazim datang, alasannya mau bayar hutang kerugiaan kerusakan sewaktu Hanum magang. Masuk akal gak sih?"
"Ya masuk akal dong Lis. Kamu ini emang mikir apa sih?"
"Gimana kalau anak dari paman Jhoni membuat Hanum terlantar, di tinggalkan tanpa sepeser uang. Serta saat ini Hanum kelaparan mah?"
"Mustahil. Kamu ada ada aja, ga mungkin adikmu seperti itu di perlakukan. Kamu tau, paman Jhoni sempat kasih kartu hitam buat Hanum belanja di sana.' jelas Mama, membuat Lisa menyempitkan bibirnya.
Mama meminta Lisa menjelaskan, ketika meletakkan lauk pauk untuk di hidangkan saat ini. Tak lama ayah Armand datang, meletakan ponsel setelah mencuci tangan.
"Ngomongin apa sih Ndok! kalian seru sekali kayaknya?"
"Soal itu pah .."
"Lis. Udah sekarang kita makan dulu ya Pah!Biasalah soal pemikiran Lisa yang terlalu jauh." jelas Mama agar Lisa tak melanjutkan bicaranya.
***
'Sejak pagi aku belum sama sekali bicara dengannya. Kami menikah sudah seperti orang asing. Tapi bisakah aku bertanya padanya sekarang?' benak Hanum di berbeda ruangan hotel. Berusaha ingin menanyakan pada Alfa.
Sesaat setelah mobil berjalan, Hanum mencoba menyusun strategi untuk menanyakan niat Alfa yang sebenarnya dengan menikahinya. Saat ini belum ada pembicaraan apapun di antara mereka bahkan, Alfa justru dengan santainya malah menyandarkan kepalanya di sandaran kursi dan memejamkan mata.
Tling!
Tling!
"Heumph! kamu lagi, mau apa ke kamar kami. Alfa sedang tidur manja." ucap irene dengan pakain seksinya.
"Aku boleh masuk gak? ada yang mau aku bicarain." ucap Hanum sambil melihat tubuh Irene dan tubuhnya yang gempal sangat jauh bagai bumi dan langit.
"Ku beri waktu kau sepuluh menit, aku juga mau mandi."
Irene membuka kamar 7501. Lalu ia mengambil piyama handuk, membuka pakaian di depan Hanum tanpa malu. Seolah memperlihatkan tubuhnya sangat indah di banding Hanum. Hanum hanya menghela nafas, lalu ia segera menuju Alfa yang tertidur di sofa bed ruang tamu.
Tak ada jawaban. Hening.
"Alfa, kita akan pergi ke mana?" Hanum bertanya ulang pada pria di sampingnya tapi Alfa tidak bergeming sedikitpun. Siapa yang tidak kesal diperlakukan seperti itu? Apakah mungkin seseorang tidur secepat itu, padahal belum ada lima menit? ungkap Hanum.
"Alfa. Aku bicara padamu!" hingga Hanum meninggikan intonasinya
Tapi .. PLAAAAK!
"Bicara yang sopan padaku! Aku adalah suamimu!" cetus Alfa terbangun menampar tangan Hanum yang menyentuhnya.
Hanum yang merasa terkejut, ia kembali salah. Padahal ia sudah terbiasa bicara seperti tadi. Bukan bermaksud meninggikan suara, atau suaranya saja yang sedikit bass. Menoel baju Alfa untuk segera bangun.
"Ma- maaf. Aku hanya mau tau, soal pesan. Kamu mau ajak aku kemana. Ini hari kedua, aku butuh sesuatu untuk di beli. Jika kamu keluar, apa boleh aku menumpang. Aku janji akan tetap bungkam."
"Apa! siapa yang mengirimkan mu pesan gendut. Kau tau, ini jam aku yang sangat lelah. Dan tidak ada yang mau ku beri tumpangan wanita sepertimu. Bocor mobil mahal nanti. Sekarang pergilah!"
"Alfa. Jangan jahat seperti ini, aku tidak tau ini dimana. Kalau aku nyasar bagaimana?"
Dengan berat, bersusah payah. Alfa mendorong tubuh Hanum sampai ke pintu luar. Terlihat jelas wanita di belakang Alfa tertawa manis, menatapnya dan memberi telunjuk tiga jari yang terlihat seperti menantang.
Hanum pasrah, hingga akhirnya ia keluar dan kembali ke kamarnya. Dengan susah, ia bertanya pada petugas hotel. Sambil berjalan, Hanum bergerutu dengan penuh tanya.
'Wanita itu Irene, dia pasti yang membuat semuanya. Ya! wanita itu menjebakku, seolah benar Alfa mengirim pesan dan bodohnya aku percaya.' lemas Hanum.
"Hanuuum.." teriak Irene, menghentikan langkahnya yang baru lima langkah.
Hanum menoleh dan tiba saja, terlihat Alfa melambai tangan. Menghampiri dan meminta Hanum kembali masuk.
"Ada apa?" kesal Hanum menunduk.
"Masuklah! aku akan pergi, kau mau nitip apa?" sendu Alfa lembut.
Benarkah! Hanum berlinang air mata bahagia, akhirnya ia di sambut Alfa juga. Hingga kembali, terlihat Alfa dan Irene telah meletakkan sesuatu di meja makan.
"Pintu sudah terkunci, aku butuh waktu dua puluh menit. Kau bereskan kamar kita dan semuanya, setelah itu ikut aku. Tenang saja kau aku antar agar tidak nyasar! kau juga dapat snack ketika di mobil." cetus Alfa membuat senyuman manis pada Irene.
"Maksudmu, aku kau jadikan pembantu Alfa. Hey! aku istrimu, lagian itu bekas kau dan wanita itu .." menatap Alfa sinis.
"Cepat bersihkan! mau ikut atau protes terus."
Hanum lagi lagi kesal, ia kembali di perlakukan semena mena oleh Alfa. Saat ini, ia di anggap pembantu membersihkan kamar Alfa yang penuh dengan tisue, bahkan jelly gelembung membuat Hanum ingin muntah. Rasanya benar benar ingin kembali pulang kerumah orangtuanya. Meski tiket kembali satu pekan, ingin rasanya Hanum menghubungi Lisa bala bantuan. Agar ia pulang lebih awal, tapi itu mustahil.
"Kau mikir apa gendut? cepat bereskan!"
"Iya, sebentar Alfa. Ga sabaran banget sih." ucap Hanum memakai masker dan minyak kayu putih di dalam masker ia teteskan. Agar phobia mual melihat sesuatu aneh, tidak membuat nafsu makannya berubah.
BEBERAPA SAAT KEMUDIAN.
Hanum telah masuk ke mobil, ia hanya di bagian belakang. Dengan skat saling berhadapan bagai penumpang naik angkot. Sementara Alfa dan Irene di kursi tengah berdampingan. Membuat Hanum jengkel, tak berdaya menatap mereka yang peluk manja.
'Aku bukan iri, tapi akan aku foto kalian diam diam. Agar aku berpisah darimu lebih mudah. Kita lihat saja Alfa. Aku sudah muak dengan prilaku dan tingkahmu padaku!'
Tak lama, Hanum terkejut dengan pemandangan indah. Ia tak menyangka akan melihat sesuatu yang membuyarkan idenya untuk memotret Alfa dan Irene yang bercumbu di dalam mobil.
To Be Continue!!
Makasih buat yang udah dukung kisah Hanum. Happy Reading All.