
"Hidup itu memang perlu berbenah diri! Termasuk singkirkan kamu!"
"Hanum. Serius itu hanya kecelakaan dan lupa."
"Termasuk menyakiti juga kamu sebut, Hippocampus sejenis amnesia anterograde?"
Kamu tau, kamu cuma jadi beban yang bisanya nyalahin aku dan ninggalin aku diwaktu yang tidak tepat. Muaaak!!
Hanum saat ini sedang berada di sebuah ruangan yang sedikit jauh, jauh dari keberadaan Lisa dan sang mama, serta kedua mertuanya. Saat sang papa kembali ditangani dokter. Lisa memeluk erat sang mama, begitu juga kedua mertua mereka. Tidak termasuk dirinya seorang diri, hingga ia berhasil mengendalikan emosi bercampur kesedihan.
Hanum pergi ke toilet, lalu setelah mencuci wajahnya dan meredakan tangisan. Ia menyeka dan mengelap wajahnya untuk menghambat air mata yang terus saja mengurai tak habis habis. Tidak ada yang tidak sedih ketika salah satu orang tua bertarung dalam nyawa di ruang medis.
Tapi saat ia keluar dan beberapa langkah. Alfa datang menyeret tangannya dan membawanya ke dalam lobby parkiran khusus.
"Kamu tau apa yang saat ini aku rasain Alfa?"
"Maaf! aku hampir lupa, di toko jewelry tadi aku memang niat mau belikan sesuatu untuk kamu."
"Omong kosong! teruslah bersandiwara dan membuat hati seseorang jatuh dan terbang lalu kau buang Alfa!"
"Really. Kau jatuh cinta padaku, katakan kamu cemburu?"
"Ckckck! kau lagi lagi membuat pengakuan kebohongan. Alfa! akhiri semua omong kosong ini. Aku lelah, lelah menjadi benang kusut dalam impianmu. Kau bisa menikahi Irene artis movie itu. Aku beruntung karena kejadian 501 aku telah tertutup, anggap saja kau cukup bertanggung jawab."
"Kau mau kemana?" erat tangan Alfa menahan tangan Hanum.
"Papaku kritis, dia kritis karena melihat beritamu. Kau bahagia, setelah ini kita katakan semuanya!"
Alfa menahan! ia memohon dan memeluk Hanum dari belakang. Aroma tubuh Alfa masih sama saat pertama kali ia datang, hanya saja tubuhnya lebih ramping tak menjijikan. Lagi lagi Alfa, membuat hati Hanum luluh. Padahal sebelumnya niatnya bulat untuk mengakhiri dan mengatakan yang sebenarnya yang terjadi antara dia dan Alfa.
"Lepas! apa yang kau minta dariku?" cecar mata Hanum tajam, mendorong pegangan Alfa.
"Katakan! jika di jewerly tidak benar? Irene memang datang. Tapi dia hanya membuat konten untuk movienya. Orang terdekatnya aku, kita sudah putus dan tetap baik baik saja."
"Sebatas itu? kau pria menjijikan yang membuat aku sulit Alfa! andai yang menikah adalah Lisa mungkin kakakku akan kejam padamu tak memandang bulu." cetus Hanum.
"Karena itu, kamu wanita baik. Meski dulu tampilan kamu seperti badut. Tapi hatimu lembut dan tulus."
'Hhhhh Eeeuh.'
Lagi lagi mata Hanum memutar, menoleh dan menarik nafas ke arah Alfa. Benar saja pria ini sudah pernah tertembak satu kali di area kepala. Tidak membuat dirinya sadar. Masih saja terus membuat hidupnya body shaming dan tertekan.
"Hanum. Aku mohon!"
Alfa masih mengikuti keberadaan Hanum, hingga dimana Lisa memanggil sang adik. Tapi tatapan mertua Hanum yakni Jhoni Johnson tajam, seolah ingin memakan Alfa saat melihat putranya.
"Pah! ini rumah sakit, aku bisa jelaskan nanti!" ucap Alfa seolah tau, jika sang papa menahan emosi yang meledak ledak ketika melihat ia datang.
Dokter keluar, hingga dimana informasi meminta area tidak berisik. Suster keluar satu persatu. Seolah Hanum takut terjadi sesuatu.
"Nyonya Rita! saya membutuhkan tanda tangan untuk operasi. Penyempitan dan pembuluh di area jantung. Membuat pasien mengalami kesulitan napas. Tapi kami perlu observasi untuk membedahnya saat operasi. Mengingat kondisi pasien tidak stabil saat ini. Apa pihak keluarga bersedia?"
"Operasi..?" serentak Lisa dan sang mama lemas. Sementara Hanum meminta kode persetujuan, ia mencoba menenangkan sang mama dan Lisa.
"Dok! kami mohon padamu, selamatkan papaku. Dia orang penting dan hebat bagi kami."
"Sebaiknya kita berdoa, agar pasien segera pulih serta proses berjalan dengan lancar, dan kami tim medis hanya perantara untuk menyembuhkan. Tetapi semua dalam pengawasan kehendaknya!" ujar dokter Fawaz. Yang kini Hanum belum sadari.
Hanum, jika aku menatapmu sedih seperti ini. Jika aku bukan sebagai dokter saat ini. Aku ingin menjadi sandaranmu! gemuruh batin Fawaz.
Tilt!
Tilt!
Delapan jam lamanya proses sang papa masih dalam tahap observasi untuk sebuah tindakan operasi. Lisa mengantar mama pulang, begitu juga kedua mertua Hanum bergantian pulang. Hanum meminta mereka istirahat dan bergantian.
Tidak termasuk Alfa yang duduk disebelahnya mengantuk, mereka berjaga tapi bagai orang asing. Hanum melihat pesan mbak Nazim, ia datang menjenguk menemui Hanum di medical al zeera.
"Mbak udah sampai? biar Hanum ke cafe sebelah ya!" mengirim pesan.
Hanum meninggalkan Alfa yang tertidur, ia membiarkan Alfa sendirian. Lagi pula suster berjaga setiap dua puluh menit, dan jika ada apapun Alfa pasti menghubunginya. Lagi pula jarak Cafe dan rumah sakit bersebelahan.
"Hai. Hanum, yang kuat ya. Gimana papamu?"
Hanum meletakan tas, lalu duduk bersebelahan mbak Nazim.
"Masih perlu observasi. Tekanan darah gak stabil dan tinggi. Itu yang membuat terhambat mbak." jelasnya.
"Aku yakin papa kamu akan sembuh, positif ya!"
"Mbak, sebenarnya ada yang mau Hanum tanyain sih. Keberatan gak, kalau Hanum mengorek masa lalu mbak. Maaf?" sendu Hanum takut Nazim kecewa.
"Karena kamu, aku bakal jawab. Mungkin kamu masih bingung soal pernikahan kamu ya?" Hanum pun mengangguk.
Hanum menceritakan dari awal hingga akhir dan berita panas atau gosip yang tersebar. Itu pun menarik nama keluarga Jhonson mertuanya. Hal inilah yang membuat Hanum bimbang untuk memutuskan.
"Hanum, aku yakin kamu udah jatuh cinta sama pria itu."
"Waaaah. Nggak mungkinlah mbak, itu ga mungkin." elak Hanum.
"Dulu aku sama suami bule aku. Dia bukan bule kaya, sangat miskin pasti. Tapi karena tekad aku, terus berkali kali dia ikut investasi dan sejenis trading. Gagal habis hartaku, hingga berhasil dia selalu ninggalin aku di saat senang. Melarat ya balik lagi, setiap kali kita bicara pisah dan mau pisah. Dilema karena putriku masih kecil."
"Trus, mbak buat keputusan bagaimana?"
"Aku capek di salahin terus Hanum. Cinta memang sulit di lupain, tapi ketika kita muak dan merasa dia cuma parasite membuat kehidupan kita diam ditempat. Aku tinggalin dan ku tata hati aku untuk tidak jatuh cinta, aku fokus sama putri Hanum." senyum Nazim.
Guratan kesedihan terlihat pada sosok wanita dewasa bernama Nazim. Hanum beruntung mengenalnya, ia meminta maaf. Hingga dimana ia juga di rangkul oleh Nazim.
"Pilihanmu adalah kebahagiaanmu, yakinlah! jika dia parasite membuat kamu salah dan selalu menjadi beban. Tinggalkanlah, jika kamu berhak untuk mengejarnya dan dia bisa berubah maka perjuangkanlah!" bisik Nazim.
Dredd Tth!! getar pesan, membuat Hanum membelalak kedua matanya, pada ponsel lipatnya.
To Be Continue!!