BAD WIFE

BAD WIFE
MENGINGAT HANUM



Hanum berada dalam kontrakan kecil, ia kini beruntung bisa lepas dari jeratan Alfa. Esok ia akan pergi menemui keluarga Jhonson. Lalu bisa menjemput Lisa dan sang Mama, entah dari mana rasa bahagia ia rindu pada sang mama.


Kebaikan Rico, membuat Hanum tersipu. Gayanya yang semakin gila, membuat Hanum tersenyum malu seorang diri. Bahkan saat dirinya sedang menyapu lantai, wajah Rico selalu membuat Hanum mengigit bawah bibirnya.


'Gila, hal kecil hingga sebesar ini. Kenapa aku cukup tersanjung,' gumam Hanum.


Hanum teringat kala hal kecil, hingga sebesar dana yang ia miliki. Cukup untuk membungkam Alfa, Hanum berusaha mencari blog sebuah pekerjaan sampingan. Berharap ia bisa menyelesaikan hutangnya pada Rico.


Hanum segera mengangkat sprei, ia merebahkan dirinya lalu memejamkan mata. Kerinduan esok ingin menjumpai sang mama membuat hati Hanum bergembira.


Sementara Rico di kediamannya, ia juga cukup tersenyum. Langkah dirinya memberi ruang pada Hanum, membuat dirinya yakin dirinya tak akan di tolak oleh Hanum.


"Ada yang kamu sembunyikan dari papa Rico?"


"Tidak! soal apa?"


"Asmara, kenapa kamu tidak menikahinya. Usiamu cukup matang, kenapa lagi?"


"Papa tau siapa yang aku sukai?" tanya Rico pada Mark.


"Jelas, papa tau. Anak sendiri masa tidak tau menyukai seseorang. Apa Hanum tau, kamu menyukainya. Tunggu apa lagi?"


"Hanum pernah menikah pah! dan mantan suaminya gila, yaitu Alfa Jhonson."


"Apa? Jhonson. Adik ipar tantemu, dr Felicia?" syok Mark.


"Ya, itu benar. Tante Felicia, adik sepupu yang kemarin menikah. Mereka datang semua, awalnya Rico ga sadar, sikap Hanum berusaha menjauh. Tapi dia benar benar gila pada wanita sekasar itu."


"Lebih baik berteman saja! papa sudah malas berhubungan dengan Jhoni angkuh itu. Papa penat, lebih baik papa masuk ke kamar." ungkapnya dengan beranjak dari sofa ruang tamu.


"Pah, setidaknya dukung Rico. Rico hanya inginkan dia untuk jadi istri."


"Carilah yang gadis, agar tidak suram masa lalunya Rico!" teriak Mark, berjalan dengan tongkat dan nada lemas.


Rico menghela nafas, andai sang ibu ada. Mungkin akan membelanya, tapi Rico pastikan Hanum akan menjadi istrinya. Terlebih ketika menikah, keluarga Jhonson tidak menyerang lagi seperti dulu.


"Sebenarnya aku sudah lama dendam pah! ingin membuat Jhonson malu dan berada di titik terendah. Sehingga dia bisa minta maaf padamu pah!" lirih Rico, memijit keningnya. Ia berusaha memutar otak, agar sang papa merestui.


\*\*\*


Sementara Alfa, ia kesal karna dirinya kehilangan jejak. Intelnya tidak pernah memberi kejelasan yang akurat soal dady sugar Hanum. Belum lagi, setiap Alfa datang ke kontarakan Hanum tak pernah ada.


Alfa bermain tinju di ruang olahraga. Ia masih kesal dengan terus membayangkan nama Hanum, bahkan wajah wanita manapun selalu ia lihat wajah Hanum.


Slogan yang Hanum ingat adalah, ketika dirinya meninggalkan pertama kali saat dirinya ke toko diamond. Mengajaknya tapi lupa keberadaan Hanum, kala Irene telah datang. Sehingga ia pernah mengejar Hanum, dan meminta maaf. Tapi Hanum, berbicara dengan kekesalan.


"Hidup itu memang perlu bebenah diri! Termasuk singkirin kamu!"


"Hanum. Serius itu hanya kecelakaan dan lupa."


"Termasuk menyakiti juga kamu sebut, Hippocampus sejenis amnesia anterograde?"


Kamu tau, kamu cuma jadi beban yang bisanya nyalahin aku dan ninggalin aku diwaktu yang tidak tepat. Muaaak aku Alfa!!


Alfa tau, saat itu Hanum sedang berada di sebuah ruangan yang sedikit jauh, jauh dari keberadaan Lisa dan sang mama, serta kedua mertuanya. Saat Armand kembali ditangani dokter. Alfa tau Lisa memeluk erat sang mama, begitu juga kedua mertua mereka. Tidak termasuk dirinya seorang diri, hingga ia berhasil mengendalikan emosi bercampur kesedihan.


Bahkan Alfa juga melihat, Hanum pergi ke toilet, lalu setelah dia mencuci wajahnya dan meredakan tangisan. Ia menyeka dan mengelap wajahnya untuk menghambat air mata yang terus saja mengurai tak habis habis. Tidak ada yang tidak sedih ketika salah satu orang tua bertarung dalam nyawa di ruang medis, belum lagi kegilaannya.


Tapi saat Hanum keluar dan beberapa langkah. Alfa datang menyeret tangannya dan membawanya kedalam loby parkiran khusus.


"Kamu tau apa yang saat ini aku rasain Alfa?"


"Maaf! aku hampir lupa, di toko jewerly tadi aku memang niat mau belikan sesuatu untuk kamu."


"Omong kosong! teruslah bersandiwara dan membuat hati seseorang jatuh dan terbang lalu kau buang Alfa!"


"Really. Kau jatuh cinta padaku, katakan kamu cemburu Hanum?" Alfa merasa terbang, dirinya diperebutkan.


Ingatan itu kembali dan merutug kebodohannya. Andai saja ia peka sedikit pada Hanum. Mungkin Alfa mudah mengendalikan Hanum saat ini.


Ke esokan harinya.


Hanum sudah berhias pagi pagi sekali. Ia sudah memesan taksi online ke sebuah bank. Agar antriannya pertama.


Tak menunggu lama, dalam waktu lima belas menit Hanum sampai di bank yang pernah dua pria asing bicara. Dengan antrian pertama, Hanum terkejut kala berada di sebuah bank di perlakukan seperti tamu vvip.


"Ibu Hanum, mari ikut saya ke lantai dua! Pak Rico sudah menghubungi kami sebelum ibu datang!"


Hanum lagi lagi dibuat kagum, perlakuan manis Rico membuat Hanum sedikit gila, tanpa antrian ia sangat perhatian sekali padanya. Hingga ia tak pernah bicara pun, Rico selalu memberi kejutan menakjubkan yang pas kala Hanum butuhkan. Contohnya hal kecil ini, bahkan Hanum rasa, jika nanti Alfa tau siapa dady sugar yang ia layangkan adalah sepupu yang ia hormati mungkin akan pingsan.


'Tidak, aku tidak boleh membalas perlakuan Alfa. Lagi pula kebaikan Rico, tidak mungkin aku sangkut pautkan. Aku tidak mungkin mempunyai perasaan lebih pada Rico. Hanya sebatas kagum akan perlakuannya.' batin Hanum.


\*\*\*


Sementara Jhoni yang menghampiri putranya, ia melayangkan sarung tinju pada kepala Alfa dengan nada marah dan tak percaya.


"Aaaw." pekik Alfa.


"Kau lihat semua ini!"


"Apa ini,?" Alfa terdiam kala sebuah pesan dari bank internasional. Nama nasabah tertera adalah Hanum Saraswati dan mentranfer secara bertahap hingga dua hari lamanya sesuai nominal yang dilayangkan Alfa.


"Sudah puas kau?"


"Pah! bagaimana bisa dia punya uang sebanyak itu, aku tidak boleh diam. Aku harus temui dia pah."


"Hey! cukup Alfa. Menyerahlah, lagi pula putri dari Armand sudah melunaskan. Carilah wanita lain selainnya!" teriak Jhoni.


Jhoni benar benar tak percaya, mengapa tingkah anaknya itu seperti gila. Sudah membereskan wanita bernama Irene, mengapa ia mengejar wanita yang jauh dari kata sempurna, bahkan yang lebih modis jika di bandingkan wanita lain banyak.


"Pah! kamu kenapa berteriak?" tanya sang istri.


"Kamu di sini sayang? kita ke ruangan lain ya! Aku hanya menghalangi Alfa saja tadi." jelasnya.


"Soal apa? katakan padaku!" sorot Maria tajam, pada Jhoni.


~ **Happy Reading** ~