BAD WIFE

BAD WIFE
DILEMA HANUM



Acara tahlilan berjalan begitu lancar, meski begitu Hanum hampir dibuat kesal oleh ulah Irene yang datang menemui Alfa. Alih alih ia bicara teman Hanum pada mama Rita dan turut berbela sungkawa. Tidak ada yang salah, setau Hanum Alfa bicara akan berlibur ke swedia. Tapi Irene membatalkan karna Alfa tidak ikut, terus terang itu adalah hal yang membuat Hanum dilema.


Alfa memintanya tidak memberitaukan pada sang mama atas pernikahan dan konfliknya. Dan atas permohonan karna Hanum menerima karna kejadi 501 satu. Hanum sedikit tertegun, ia melihat di balik dapur ketika semua sedang membaca yasin. Termasuk Fawaz di ruang tamu bersama Lisa. Tatapan Lisa sangat dalam pada Fawaz, meski begitu matanya berdalih kearah buku yasin lagi, kala Fawaz menutup pengajian tadi.


'Masyallah, udah ganteng. Sholeh enak lagi ngajinya. Gue ajak online kali ya, jadi pacar boongan.' batin Lisa.


Hanum yang tau isi hati Lisa saat ini, ia memilih kedapur untuk menyiapkan berkat untuk dibagikan. Tapi merasa jijik ketika melihat Irene menggelendot manja pada tangan Alfa.


"Irene! kau harus jaga sikap. Aku tidak mau mamaku bersedih jika datang, juga keluarga Hanum. Bersabarlah, aku juga sedang meminta Hanum untuk tidak membocorkannya saat ini. Terlebih ia sedang berduka."


"Darling! aku akan bertahan, tapi malam ini ke apartementku ya! aku rindu kamu, rindu sentuhan kamu." bisik Irene.


Hal itu membuat Hanum menggeleng kepala. Ia berbalik arah dan menendang tong sampah kecil tepat mengenai kaki Alfa.


Bugh!


"Uuh! sorry, kalian bisa menyingkir tidak. Sebentar lagi acara sudah mau selesai. Tidak enak dilihatnya, jika ingin mesum pergi sekarang juga! pintu belakang terlihat kan terbuka disana!"


"Galak banget sih! jangan mentang kau sudah langsing, mau berebut denganku ya Hanum." cetus Irene yang seolah Hanum menatap dengan tatapan bulat. Irene tidak terima kala tong sampah yang di tendang Hanum mengenai kakinya.


"Irene. Ayo kita pergi dari sini! Hanum maafkan kami!" melunak Alfa yang tak ingin mamanya segera tiba bersama sang papa. Alfa sudah tau jika kedua orangtuanya akan datang. Maka dari itu ia pamit lebih dulu, dan pergi lewat pintu belakang.


Sementara Hanum hanya menggeleng kepala. Seolah ia merasa kesal dan tak sudi jika harus menahan semuanya. Tapi ia hanya menunda untuk sang mama tidak berlarut dalam kesedihan yang mendalam. Hanum segera meraih berkat dan kembali membagikan ketika tetangga datang membantunya.


Setelah selesai, semuanya. Lisa mengantar sang mama yang kembali menangis histeris. Lisa meminta Hanum menyelesaikan semuanya. Fawaz segera membantu, tak lupa Hanum senyum berterimakasih.


"Untung ada kamu Faw, aku jadi hutang budi."


"Apaan sih, kita itu udah seharusnya saling bantu Hanum."


"Duh mbak Hanum, suaminya mana. Kok sama cowo lain sih?" ucap seseorang.


"Ini namanya Fawaz bu. Kita masih satu keluarga bu, dan suami saya sedang ada urusan untuk mengurus yang lain."


"Owh begitu, kirain ada sesuatu. Biasanya pengantin baru beberapa bulan suka manis. Tapi kok mbak Hanum ga ada manis manisnya sih?" cetus bu Ema tetangga baru sebelah persis rumahnya.


"Duh, udah kaya iklan aja. Le mineral kali ah, ada manis manisnya gitu. Nih bu, berkatnya saya kasih dua biar di rumah kebagian juga. Jadi nanti langsung kenyang!" lirih Hanum.


"Makasih mbak Hanum." senyum bu Ema pergi tapi melirik pria bernama Fawaz yang benar saja, sangat tampan menggoda.


Di taman, Hanum terdiam kala semua sudah sepi. Terlihat kediaman Hanum menyisakan dirinya saja tamu.


"Han, maaf loh. Aku ga tau kalau kamu udah nikah?"


"Faw, aku yang harusnya minta maaf. Soal surat itu, aku yang salah. Aku merasa itu cinta aku yang tak terbalas. Tapi nyatanya aku salah menduga, tapi aku sudah .."


"Baiklah! aku ngerti kok. Dengan begitu aku tau kamu mencintai aku waktu itu. Aku juga salah terlambat tidak menemui hari hari pentas kamu berakhir. Karna papaku sudah membeli tiket di jam yang bertepatan pentas kamu. Jadi aku titip surat ke karyawan papaku berharap kamu datang dan membacanya." jelas Fawaz.


Rona mata Hanum berurai, tidak ada kata kata yang hangat seperti dulu. Seolah jarak telah memisahkan dirinya seperti dulu. Fawaz dan Hanum hanya bisa tersenyum dengan jarak yang sedikit berbeda saat ini.


'Andai aku tak pernah punya masalah di kamar 501. Mungkin kita bisa bersama Faw,"


'Andai aku bisa mengulang, aku ingin lebih dulu menikahimu Hanum. Aku terlambat, tapi apa aku bisa sedekat seperti dulu. Mengingat statusmu saat ini membuat aku tegang dan lemas karna kenyataannya kamu telah menjadi milik orang lain.'


Dan itu adalah kata kata batin Hanum dan Fawaz. Hingga Fawaz pamit melambai tangan untuk pulang.


Sementara Hanum yang ingin memberikan berkat, karna masih banyak sisa. Hanum mau memberikan pada warung kelontong yang penjualnya anak kecil. Hanum tertegun kala serak wanita menahan sesuatu, dengan suara pria juga yang mirip suara Alfa.


"Uuuch! Darling, aku mencintaimu." Lirih suara wanita itu membuat Hanum terdiam kaku.


To Be Continue!!