BAD WIFE

BAD WIFE
WANITA ASING



Hanum dan Nazim menelan saliva. Tampilan wanita itu sangat feminim, ia memakai baju tanpa lengan, bertali satu berwarna pink soft. Dengan rok jeans sangat mini, dan handbag kecil mewah, lalu menatapnya.


"Kamu siapa, kenal aku?" tanya Hanum.


"Aku Meri, aku adalah sahabat kecil Rico saat di paris. Aku ke rumahnya, dan pulang bersama siang ini. Aku ingin mengenalkan kamu, jika hubunganku dahulu dengan Rico lebih dari sahabat."


Jleb!


Hati Hanum merasa panas, bibirnya membulat O dan sangat membuat tak karuan. Nazim memegang tangan Hanum, ia memintanya untuk tidak terpancing sebelum tau kebenaran.


"Han! ingat apa yang tadi mbak bilang kan?"


"Ya mbak, Hanum masih ingat. Makasih ingetin Hanum lagi."


Gatal rasanya, ia ingin sekali menghubungi Rico, tapi sedikit gengsi karena saat ini masih dalam pingitan tak bisa bertemu beberapa hari ke depan.


"Mbak bisa tinggalkan kami berdua saja?!" tanya Meri meminta pada mata Nazim yang ikut menatapnya.


"Kamu yang butuh aku, kita pindah meja aja! mbak Nazim aku tinggal bentar ya!" cetus Hanum, lalu pamit sebentar.


"Ya! ingat yang mbak bicara tadi ya! mbak tunggu kamu di sini." lirih Nazim.


Hanum dan Meri pindah ke ujung meja, dengan tatapan tidak percaya, Hanum menghela nafas panjang.


"Mau minum apa, biar aku pesenin?"


"Ga usah Hanum, aku kesini hanya mau bilang ke kamu. Aku hamil, aku butuh Rico yang bertanggung jawab. Karena Rico sosok pria baik yang pantas untuk aku. Aku minta kamu batalin pernikahan kamu."


"Apa, coba kamu ulangi lagi?"


"Aku hanya mau kamu percaya, batalin pernikahan. Empat minggu lalu, kami saling bertemu di paris. Kami bertemu saling temu kangen bersama teman lain juga, sekaligus membahas putusnya tali pernikahan bisnis yang udah di tentukan. Tapi Rico menolak karena dia mencintai seseorang. Dan kami mabuk saat itu, hingga .."


"Bohong! jika kamu bicara tidak benar, aku pastikan aku gugat kamu Meri. Jangan lagi panggil temui aku sok akrab, kita tidak kenal bukan?"


"Kalau kamu gak percaya, kamu bisa tanya saat pertemuan di paris dengan Caty. Dia juga ada kok, atau lebih baik tanya Adelia, aku akrab dengannya dan keluarga Mark tau itu." teriak Meri.


Semua ini pasti bohong, Hanum berusaha menahan gejolak emosinya. Ia langsung mengambil tas dan menunjuk wajah Meri.


"Jika kamu ingin pernikahan aku dan Rico batal. Kita diskusikan semuanya, aku yakin kamu berbohong! jangan pernah merusak hubungan seseorang. Undangan aku sudah tersebar, aku tunggu kamu hubungi Rico untuk bertemu!"


Nazim memberikan sapu tangan, ia mendengarkan cerita Hanum saat ini. Meski Nazim ingin tidak percaya, tapi jika Rico membenarkan dan Hanum tau empat minggu lalu mereka ke paris. Suatu acara penting, Hanum merasa itu benar terjadi, dan tidak diragukan jika wanita bernama Meri hamil anak dari kekasihnya itu.


"Mbak, kenapa sakit banget ya? Hanum kok ga kuat, apa Hanum batalin aja semuanya ya?"


"Han! kamu berdoa, mbak temanin ya. Mbak anter kamu pulang sampai rumah. Semua ini pasti belum tentu benar, harus di rembukin matang matang. Ok!"


Hanum mengangguk, sepanjang perjalanan ia masih saja terus menatap jalan. Beberapa kali panggilan nama dari Rico Hanum diamkan. Ia mematikan ponsel hanya untuk menenangkan hatinya untuk tidak terbawa suasana masalah, yang kini mungkin akan membuat sang mama kecewa.


'Harusnya aku selidiki Rico, atau Rico sengaja seperti itu karena aku selalu menolaknya, atau karena uangnya banyak. Atau jika itu benar khilaf, aku harus berbuat apa?' batin Hanum memejamkan matanya.


Nazim segera ngebut, ia cepatkan kecepatan mobilnya demi mengantar Hanum. Ingin rasanya tidak percaya, tapi ia pernah ada di posisi di khianati itu sakit. Beruntung Hanum belum menikah, dan di sentuh.


"Han! udah sampai rumah nih. Inget kamu tenangin diri kamu, ucapan wanita tadi belum tentu benar. Mbak tunggu kabar kamu, hubungi mbak kapan pun!"


"Makasih mbak! Hanum ingin sekali enggak percaya. Tapi benar benar sesak, sakit sekali. Apa sanggup Hanum lanjutkan bertemu Rico, jika wanita itu bicara benar." jelasnya, membuat Nazim terdiam.


\*\*\*


Beberapa hari kemudian.


Hanum datang ke market Marco, tapi suasana disana mencekam. Membuat tatapan karyawan lain yang melihat mata Hanum sedikit berbeda. Tak sedikit seseorang menyindir Hanum dengan tatapan berbeda.


"Beda ya, kalau pelakor itu pasti ga akan tau malu. Apa dipelet ya bos kita? kok bisa karyawan rendahan nikah sama bos." cetusnya.


Hanum tak memperdulikan, hingga Dewi datang mendekat ke arah Hanum dengan ekspresi berbeda.


"Hey bu bos! ciyee, mau cuti panjang nih. Jadi ikut seneng deh, kenapa antar surat ga lewat aku aja?" tanya Dewi.


"Jangan mau Han! kayaknya Dewi lagi carmuk. Biar bisa kecipretan ga di gudang lagi kerjanya." cetus Vita.


"Eh! enak aja, siapa bilang? Boong tuh Han, jangan dengerin kata Vita. Terus jangan peduliin omongan karyawan lain ya! ini pasti isu belaka, biar kamu batal nikah."


"Batal nikah? maksud kamu Dew?" lirih Hanum terkejut.


Hingga mereka bertiga saling menatap, kala seseorang datang dengan tiba tiba.


Tbc.