
“Mah, kita pindah seperti yang mas Rico bilang. Bukan hanya untuk sembilan bulan ke depan, tapi untuk seterusnya, kita tidak akan tinggal di tempat ini lagi,” ucap Hanum bangkit dari duduknya.
"Alhamdulillah, Hanum kalau gitu kamu jangan lupa acara syukuran. Bentar lagi aqiqah an Ghani, Ghina dan Azri kan?"
"Iy mah, Azri akan jadi anak kembar Hanum. Ia bahkan tampak sangat besar cepat tumbuh, tidak seperti bayi sebelumnya. Hanum yakin Azri dan Ghani akan setara tinggi nanti."
"Iy bener sekali Hanum. Oh, iya sekarang gimana keadaan Leo di sekolah?" tanya mama Rita.
"Ah, iya mah. Mas Rico masih cari Aspri buat Leo, saat ini Erwin keteteran sering menjemput anak itu, mas Rico udah membujuknya. Supaya ia mau tinggal sama Hanum, jadi kakak yang baik untuk tiga bayi Hanum, selain itu Hanum lebih mudah mengontrolnya."
"Semoga rejeki kamu berkah terus Hanum, kelak mereka besar akan paham sendiri. Dan semoga hati Azri dan Leo akan baik baik saja. Semoga dia tidak marah sama kamu Hanum, jika kamu hanya ibu pengganti bagi anak anak itu."
"Gimanapun Hanum, ga akan membedakan kasih sayang Hanum, dengan mereka mah. Mama juga sehat sehat terus ya! jangan sedih lagi, Hanum ga bisa lihat mama sedih."
"Iy Han, mama nangis kadang itu hanya bahagia. Bisa tinggal sama kamu dan cucu cucu mama, terlebih menantu mama baik sekali. Ia saja bisa membuat istrinya seperti ratu, bagaimana dengan mertua sendiri. Oh iy, nanti siang mama sama pak Supri mau ke rumah sakit. Jenguk papa mertuamu, gimana keadaannya sekarang."
"Papa mark akan menjalani operasi jantung mah, hal ini pasti akan sedih bagi mas Rico. Hanum ga mau mas Rico hancur, semoga operasinya berjalan dengan lancar."
"Aamiin, itu benar Han. Kita doakan ya!"
Mereka pun kembali membereskan beberapa furniture, yang di kerahkan orang bayaran. Untuk menata beberapa hal lainnya agar terlihat rapih. Sementara Hanum, saat melihat rumah baru di daerah pluit. Ia sangat tertegun, karena selain luas akan nyaman dan lebih private.
...RUMAH BARU...
Begitu resmi pindah ke rumah baru, yang disediakan Rico melalui agent, seluruh keperluan Hanum dan anak anaknya dan ibunya benar benar diurus dengan detail, begitu juga dengan apa pun yang diperlukan calon bayinya, di kehamilan kedua Hanum.
Hanum yang di masa masa awal berusaha mempertahankan usaha coffe shop pun terpaksa berhenti tidak ikut terjun, karena masa kehamilannya benar benar tidak mudah. Apalagi market mas Rico semakin berkembang.
Bulan bulan awal Rico bahkan harus direpotkan dengan urusan perkara “ngidam” yang kata mas Rico, jika di kantor itu harus selalu dituruti demi anaknya agar tidak beliur setelah lahir.
Mau tak mau, kapan pun dan di mana pun Rico berada, saat Hanum tiba-tiba meneleponnya dan mengabari bahwa dirinya ingin dan membutuhkan sesuatu, Hanum langsung hadir untuk memenuhinya dan membuat mas Rico tetap aman.
"Mas, makasih ya!"
"Sayang, ini sudah seharusnya mas lakukan. Apapun itu, mas ingin kamu bahagia. Mas akan terus berjuang menjadi ayah yang baik untuk anak anak kita, dan suami siaga yang perfect untukmu sayang."
Rico mendengus, setelah beberapa tahun mengenal dan hampir setiap hari bertemu dengan Hanum, pria itu benar benar sudah mengenal watak gadis itu, hingga ia memutuskan untuk menyuntingnya meski status Hanum pernah menikah dengan saudaranya sendiri. Yakni keluarga Jhonson, keluarga dari sepupu sang papa.
“Jangan tertawa seperti itu, ah. Mas, Hanum takut. Mas kelihatan kesakitan kalau lagi tertawa.”
"Sayang, mas hanya menceritakan masa kita pertama bertemu. Mas juga ga sangka, kita bisa sebahagia seperti ini. Kamu bahagia bersama mas?" melirik Rico pada senyuman sang istri.
Tak lama Rico kembali bertemu sang bibi, ia sedikit membawakan tas Leo. Yang saat ini Leo malah sedang mengamuk, tak ingin pindah. Dan saat ini tengah dibujuk Erwin.
"Leo marah lagi bi?" tanya Rico, ia kembali mengubah posisinya yang tadinya memeluk Hanum dari belakang, ia langsung merapat gandeng tangan saja.
Bibi Sari, yang mengambil duduk di sofa lain menyipit mendengar pembelaan itu dari keponakannya.
“Kamu selalu mengambil alasan yang sama kalau sudah menyangkut hal ini,” cibirnya
“Kenapa? tapi aku kan benar tante, lebih baik Leo tingggal bersama kami dan juga tante. Agar Adelia tidak mengusik dan membuat onar.” balas Rico tidak mau kalah.
“Kalau soal itu sih, Bibi ga keberatan, Tante, karena hak kamu yang mengatakannya. Tapi Bibi hanya meminta Rico tahu waktunya sedikit, dan sedikit menghargai apa yang sudah bibi usahakan. Ingat beberapa hari lalu Adelia datang, dan Leo tidak mengakuinya itu ibunya. Bukan ini yang bibi inginkan Rico."
“Memangnya salahku kalau bayinya memang sudah tidak mau? semua ini karena Adelia tidak pernah sedikit saja punya waktu. Sehingga Leo terbiasa, dan Rico tahu kenapa Leo tidak ingin pindah ketempat ini. Dia lebih suka desa yang banyak kebun, dibanding di kota."
"Benar, bahkan Leo sudah betah dikampung desa Agra. Tapi diboyong lagi ke jakarta, membuat suasana anak itu ga tentu. Bibi juga bingung, bibi pasrahin semuanya karena kamu terbaik untuk mendidik ya Rico." ujar tante Sari.
Hanum hanya bisa mendengarkan percakapan Rico dan tante Sari. Hingga akhirnya ia berusaha menenangkan baby Ghina yang sedikit rewel. Hanum juga tak lupa untuk pamit pada suaminya, serta tante Sari. Membiarkan mereka yang masih berlanjut mengobrol.
Sesampai di kamar, Hanum menatap kedua bayinya yang tengah di beri susu oleh pengasuh. Dan tak lupa ia yang sedang menggendong baby Ghina, seharian ini ia sangat rewel dan membuat Hanum panik seharian ini.
"Sus, Ghina kenapa nangis terus ya? badannya kok sedikit anget ya?"
"Aduh, nyonya. Kalau menurut saya, ini itu sedang bersahabat dengan suasana baru. Tapi apa ga di bawa ke dokter aja. Sebab tadi di mobil, Ghina sempat gumoh." ujar pengasuh.
"Ah, iya udah. Siapin perlengkapan baby Ghina ya sus. Saya akan minta si bapak anter." panik Hanum.
Hanum masih mode menggendong bayi Ghina, perlahan ia coba tenang untuk tidak panik di saat anak bayinya mulai sakit. Hal itu mungkin Hanum sadari, ketika ia berada di rumah sakit berbicara dengan papa Mark, sebelum menjalani operasi.
Kebahagiaan yang kapan saja bisa hilang, dan harus Hanum, Rico relakan begitu pemilik atas mengambilnya. Semua kebahagiaan itu mengambilnya dari tangan mereka kapan pun dinginkan. Ya, semuanya berawal dan berakhir dengan adanya bayi itu. Bayi yang kini masih ada dalam kandungan Hanum, bayi yang telah lahir hanya dalam hitungan beberapa bulan, dan titipan anak asuhnya. Sama hal jika papa Mark akan menemuinya karena telah di panggil.
'Hanum, jika papa tiada. Titip Rico, hatinya akan hancur lebih lama, sama seperti ia kehilangan orang yang ia sayangi sebelumnya. Jika Rico berubah, rangkul dan bersabarlah!' lirih Mark, membuat tatapan Hanum mengerti.
"Mas," panggil Hanum.
"Sayang, kenapa kamu berkeringat dan menangis seperti ini. Ada apa?" ujar Rico, dan ia menatap Hanum yang matanya menunjuk ke pada bayi perempuannya.
Tbc.