BAD WIFE

BAD WIFE
BUMIL CURHAT



"Mas, aku kasihan deh. Acara empat bulanan kak Lisa sekarang, kenapa jadi sedih. Apa benar dengan orang ketiga. Rasanya Hanum ga nyangka kalau Fawaz beneran selingkuh sama pasein vvip."


"Sayang, ingat gak mas bilang apa? setiap rumah tangga, akan ada dimana ujian. Benar atau tidaknya, kita berharap masalah Lisa hanya isu yang ingin menjatuhkan sesama dokter."


Hanum masih tenang, kala Rico membelai rambutnya yang tergerai lurus.


"Hanum berharap begitu mas, tapi Hanum ga bisa bayangkan jika pasein itu benar benar selingkuhan Fawaz. Remuk hati ka Lisa pastinya, jika itu benar."


"Udah, ganti piyama sekarang! bersih bersih dulu, mas hambil handuk. Kita gosok gigi bersama ya!"


Mendengar perintah mas Rico, Hanum jadi yakin kala mas Rico ingin dirinya mengganti topik. Tapi bayangan Hanum merasa iba dan merasakan sedih kala saudara kandung sedang dalam masalah. Semoga dugaan isu itu benar benar tidak benar.


"Iy, tapi benar gosok gigi aja ya. Ga lebih, aku capek."


Rico tersenyum sambil berbisik, "Mas aja yang ga capek, kamu cukup diam sayang! biar mas yang bergerak nanti."


Hanum semar mesem, benar saja tingkah Rico selalu saja meminta jatah. Padahal usia kandungan Hanum saat ini, benar benar sudah di ujung tanduk. Perutnya lancip hingga berjalan saja bagai siput.


"Mas, padahal dua minggu itu kemungkinan aku lahiran. Kenapa mas selalu minta vitamin sih?" kumur kumur Hanum, menatap kaca.


"Terus, mas harus minta vitamin sama siapa. Kalau bukan sama kamu sayang. Konon romantis kita adalah selalu dekat, perhatian, sering punya waktu bersama ngobrol seperti ini. Setidaknya kita lakukan agar terbiasa, agar sampai menua kita tidak ada kata bosan, mas ga mau kamu berfikr bukan bukan."


"Tapi Hanum merasa aneh, begini ya jadi seorang ibu. Apa apa sulit, Hanum jadi ingat mama deh."


Hanum menatap sang suami, benar jika mas Rico terlalu dewasa. Membuat ia merasa benar benar dibimbing, kala sedih, kala salah ucap dan sikap. Mas Rico paling utama yang membenarkan agar dirinya salah atau tidak. Setidaknya pernikahan Hanum saat ini, benar benar inilah yang namanya bahtera rumah tangga.


"Mas, masih ingat gak tadi malam pas kita pulang. Wanita yang datang bersama Tuan Albi?"


"Oh, sahabat papa. Dulu paman Albi bersahabat juga dengan paman Roke. Sebelum Fawaz jadi yatim. Kenapa sayang?"


"Ah! enggak apa apa mas, Hanum takut salah sangka aja sih."


"Jujur sama mas, ada apa?"


"Heumph! gimana ya, Hanum merasa kalau wanita semalam. Maksud Hanum, eeeum. Maksud Hanum anak dari Tuan Albi, itu yang di maksud pasein vvip. Soalnya tatapan Lisa berbeda banget semalam." cetusnya.


Pyuuuuuh!! Rico kesedak, menghamburkan minuman teh hangat.


"Mas, tisuenya ini. Maafin Hanum, kok mas Rico jadi kaget."


Rico mengelap bagian baju yang terkena teh panas, Hanum berusaha membantunya. Dan Rico langsung memegang tangan Hanum dan bicara pada sang istri.


"Sayang, biarkan Lisa menyelesaikan masalahnya sendiri!"


"Iy mas, maaf."


"Sebenarnya sih Hanum malu, lihat perut ini sudah semakin besar mas. Tapi demi mas, dan Hanum mau dampingi mas. Boleh deh, Hanum ikut ya. Dampingin suami ganteng didepan ini. Hanum takut ada semut yang goda."


"Isssh! Issssh. Mulai lagi deh, sayang! tau gak diri mas, dan gantengnya mas cuma buat kamu. Milik kamu." mengecup kening, hingga mereka menatap dan saling merebahkan diri.


"Eeeumh, Hanum mempercayai mas Rico."


Sudah tidak perlu ditanya, pasangan bumil ini jika sudah dikamar. Akan melakukan adat sapaan kaum rebahan, yang hanya bisa dilakukan suami istri. Mulai dari kasur, sprei yang seperti gempa bumi. Belum lagi ranjang sofa yang bergoyang dan suara merdu dua sejoli saat itu.


Rico seolah tak memperdulikan Hanum yang sedang kesulitan bergaya, karena saat itu Hanum hanya bisa pasrah. Dan Rico yang dengar bisikan sang teman, kalau istri sedang hamil tua, patut di kunjungi agar jalan lahir mudah.


***


ESOK HARI.


Hanum mendapat pesan dari Lisa, tapi saat Hanum menghubungi balik, Lisa lebih mensilent agar Hanum tak bisa menghubunginya lagi. Lalu mereject dengan pesan darurat.


'Nomor yang anda tuju, sedang sibuk."


"Eh, ka Lisa gimana sih. Tadi ngirim pesan sama sebuah foto. Kok di tarik lagi, bikin penasaran aja deh." gumamnya.


"Kenapa sayang?"


"Ka Lisa mas, kirim pesan dan foto. Hanum sempat buka, tapi di tarik lagi. Hanum hubungi balik, malah mati."


"Salah kirim kali sayang, emang isi pesannya apa?" tanya Rico yang sedang memakai kemeja.


"Justru itu, Hanum kilat mas. Belum selesai pesannya ditarik lagi."


"Ya udah, nanti selesai acara. Kita mampir ke rumah Lisa ya. Nanti mas usahain, acara kita ga sampe seharian di market. Kita pamit sekalian."


Hanum mengangguk, paham akan perintah mas Rico.


"Ya, udah kamu siap sekarang? kita ke surabaya tiga jam lagi. Mas udah suruh Erwin jemput mama Rita. Mungkin pembangunan market Marco akan lebih makan waktu sayang."


"Iy, mas Hanum ngerti, udah siapin semua koper juga kok." senyum Hanum.


Tbc.


By the way, sambil menunggu Hanum yang meresmikan market Marco ke surabaya. Author akan bahas soal Lisa dan Fawaz yang jalani biduk rumah tangga dengan ujiannya. Terus jejak dukung Hanum ya!


Melipir juga mampir ke litersi novel temen Author nih.